Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

10 Kelompok Perikanan Di Bangli Terancam Kekeringan, Dampak Material Longsor di Sejumlah Irigasi

ktnanasional.com – BANGLI, Bencana tanah longsor yang terjadi di sejumlah titik wilayah Kabupaten Bangli, berdampak pada tertutupnya saluran irigasi.

Alhasil kelompok perikanan di Bangli tidak mendapatkan suplai air. Sementara volume air di kolam terus mengalami penyusutan karena banyak kelompok menggunakan kolam konvensional, atau kolam tanah.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma dikonfirmasi Rabu (12/7/2023) mengungkapkan, secara umum hingga kini dampak bencana alam di Bangli terhadap sektor perikanan belum menjurus pada kerugian.

Kendati demikian, apabila dalam beberapa hari kedepan air tidak mengalir, pihaknya tak memungkiri akan dampak kerugian yang tidak bisa dihindari.

Sarma yang saat itu didampingi Kabid Perikanan, Wayan Agus Wirawan mengungkapkan, dampak bencana menyebabkan kerusakan saluran irigasi akibat tertimbun material longsor.

“Akibatnya suplai air yang mengalir ke kolam ikan para pendeder terhambat,” ujarnya.

Data sementara Dinas PKP, ada sejumlan saluran irigasi primer yang tertimbun longsor.

Diantaranya saluran irigasi Tamansari, Sidembunut; saluran irigasi Tembuku; saluran irigasi Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku; dan saluran irigasi desa Demulih, Kecamatan Susut.

Setidaknya ada 10 kelompok perikanan yang terdampak penyusutan volume air. Jenis benih ikannya beragam, mulai dari lele, nila, koi.

“Sedangkan jumlahnya rata-rata satu kelompok mencapai belasan hingga puluhan ribu ekor ikan,” sebutnya.

Kabid Perikanan Dinas PKP Wayan Agus Wirawan menambahkan, macetnya suplai air dari saluran irigasi tentunya berdampak besar terhadap volume air di kolam ikan.

Dikatakan dia, rata-rata kolam para pendeder berupa kolam tanah.

Dengan macetnya suplai air saat ini, diperkirakan butuh waktu tiga hingga empat hari kedepan hingga air di kolam habis, akibat penyusutan volume air.

“Kalau dengan kolam tanah volume air yang berkurang bisa mencapai 20 persen sehari. Karenanya butuh pasokan air secepatnya,” kata dia.

Tindaklanjut hal ini, sejak Minggu (9/7/2023) pihaknya bersama krama subak telah berupaya melakukan pembersihan material longsor.

Sedangkan di kelompok perikanan, dinas dibantu kelompok pembudidaya perikanan (Pokdakan) berupaya merelokasi ikan.

“Kami pindahkan sementara ikannya ke kolam yang diperkirakan masih mampu menampung air hingga beberapa hari kedepan, ataupun memindahkan air dari kolam yang tidak dihuni ikan ke kolam yang dihuni ikan,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di tribunbali.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga