Kamis, 30 Mei, 2024

Artikel Terbaru

50% Stok Jagung Indonesia Ada di Industri Pakan

oleh : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

ktnanasional – JAKARTA. Total ketersediaan jagung nasional pada akhir 2023 sebesar 956 ribu ton. Sebanyak 50,08% di antaranya atau setara 478 ribu ton dari stok jagung di akhir 2023 itu berada di industri pakan ternak, sisanya tersebar di rumah tangga, Perum Bulog, pedagang, konsumen usaha pertanian penguna jagung, industri, dan usaha pemipilan.

Sebagai tindak lanjut perjanjian kerja sama antara Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait Survei Stok Beras dan Jagung Akhir Tahun 2023 (SSBJAT23), pada 5 April 2024 dilaksanakan pemaparan awal hasil survei tersebut. Pemaparan awal ini dilakukan untuk dapat menampung dan menerima semua tanggapan dan masukan dari para stakeholder yang relevan.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan, hasil survei itu penting sebagai basis formulasi kebijakan strategis pemerintah, terutama terkait ketersediaan komoditas beras dan jagung. “Hasil survei ini nantinya dapat menghasilkan estimasi stok yang semakin valid dan akurat pada level nasional. Dengan ini, pemerintah dapat merumuskan kebijakan strategis yang semakin tepat. Apalagi, beras dan jagung merupakan pangan strategis yang sangat dibutuhkan masyarakat,” jelas Arief.

Hasil SSBJAT23 menunjukkan, total ketersediaan jagung nasional pada akhir 2023 sejumlah 956 ribu ton. Rinciannya, jagung-jagung tersebut tersebar di industri pakan 478 ribu ton (50,08%), rumah tangga produsen dan konsumen 285 ribu ton (29,86%), Perum Bulog 156 ribu ton (16,37%), pedagang 29 ribu ton (3,07%), Konsumen Usaha Pertanian Pengguna Jagung 3.200 ton (0,34%), industri 1.500 ton (0,17%), dan usaha pemipilan 1.080 ton (0,11%).

Dalam SSBJAT23 juga disebutkan, estimasi ketersediaan beras di akhir tahun 2023 yang menjadi carry over awal tahun 2024 total sejumlah 4,13 juta ton. Secara spesifik, stok itu tersebar di rumah tangga produsen dan konsumen 2,74 juta ton (66,34%), Perum Bulog 810 ribu ton (19,6%), pedagang 278 ribu ton (6,74%), horeka (hotel, restoran, katering) dan industri 153 ribu ton (3,72%), penggilingan 145 ribu ton (3,53%), dan produsen usaha/perusahaan pertanian berbadan hukum (UPB) 278 ton (0,07%).

Plt Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy dalam sambutannya mengatakan, SSBJAT23 dilakukan untuk mengetahui jumlah ketersediaan beras dan jagung di akhir 2023 yang sekaligus juga merupakan baseline carry over untuk ketersediaan beras dan jagung di awal 2024.

Untuk itu, Bapanas merangkul BPS dan PT Sucofindo menggelar SSBJAT23 sejak Desember tahun lalu. SSBJAT23 telah dilaksanakan di 38 provinsi dan 477 kabupaten/kota untuk survei beras. Lalu, di 442 kabupaten/kota untuk survei jagung melalui pendekatan probabilitas sampling. “Jumlah sampel survei beras terdapat 46.738 sampel. Sementara jumlah sampel survei jagung ada 8.143 sampel,” jelas Sarwo.

Kegiatan Berkala

Ke depan, Bapanas tentu sangat mengharapkan survei itu menjadi kegiatan berkala oleh Bapanas sebagai koordinator. Setelah pemaparan hasil survei ini, Bapanas mengharapkan tanggapan dan masukan dari kementerian/lembaga (K/L) agar hasilnya lebih komprehensif dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.

Pada pemaparan awal hasil SSBJAT23 itu antara lain hadir Deputi Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden Edy Priyono, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah, Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan BPS Kadarmanto, Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas Indra Wijayanto, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono, Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan NFA Rachmi Widiriani, beserta perwakilan dari Kementerian Pertanian, PT Sucofindo, dan stakeholder pangan lainnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menuturkan, data yang dihasilkan dari SSBJAT23 untuk pembaruan Neraca Komoditas (NK). Dengan adanya data yang sudah dilakukan penelitian, pengkajian, dan perhitungan oleh BPS melalui metodologi yang tidak perlu lagi diragukan maka data sudah di-provide. “Artinya, yang akan kita gunakan untuk NK kita, sehingga kita bisa mewujudukan NK sejalan prognosa,” ungkap Ketut dalam keterangan yang dikutip Jumat (12/04/2024).

Bapanas ke depan ingin mempunyai data pangan yang satu, sehingga benar-benar dari perencanaan semua pihak dan dipercaya serta dapat digunakan semua pihak. “Kalau memang nanti sudah tidak ada perbaikan-perbaikan datanya, artinya perbaikan-perbaikan angkanya sekiranya sudah bisa diterima, kami akan menindaklanjuti mengirim data ini kepada para pimpinan K/L melalui surat Kepala Bapanas. Intinya, menginformasikan hasil survei ini yang menjadi carry over untuk 2024,” tandas dia. (admin)

 

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga