Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

51 TAHUN HARI KRIDA PERTANIAN

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

21 Juni 2023, bangsa kita akan memperingati Hari Krida Pertanian yang ke 51 tahun. Dari berbagai literatur diperoleh informasi, Hari Krida Pertanian merupakan peringatan yang dilaksanakan di Indonesia untuk menghormati para pelaku di bidang pertanian dan peternak. Hari Krida Pertanian biasanya diperingati pada 21 Juni setiap tahunnya.

Hari Krida Pertanian diambil dari tiga kata. Setiap kata tersebut memiliki makna tersendiri. Misalnya kata Krida dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna olah, perbuatan, dan tindakan. Dengan pemaknaan itu, Hari Krida Pertanian merupakan interpretasi dari penghargaan atas tindakan tokoh-tokoh di bidang pertanian dan peternakan.

Pertama kali peringatan ini diadakan pada tahun 1972. Pengambilan tanggal 21 dalam peringatan ini juga memiliki makna tersendiri. Mengutip Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Kementerian Pertanian, penetapan tanggal 21 Juni dalam peringatan ini didasarkan pada segi astronomis yang waktu itu disebut Pranata Mangsa.

Bagi yang belum tahu, Pranata Mangsa merupakan sebuah sistem penanggalan yang erat dengan aktivitas pertanian dan peternakan seperti bercocok tanam dan penangkapan ikan. Adapun dasar penanggalan ini dibuat dari peredaran matahari yang memiliki 1 siklus (1 tahun) dengan periode 365 atau 366 hari. Tak sampai di situ, penanggalan ini juga memiliki perhitungan bulan yang berbeda.

Setiap bulan menjelaskan waktu alam yang akan mempengaruhi aktivitas bertani dan berternak. Seperti bulan hujan, bulan kemarau, bulan penyakit, dan sebagainya. Nah, atas berbagai perhitungan dan pertimbangan dari seluruh bulan yang ada, 21 Juni diyakini merupakan permulaan musim pertama yang merupakan awal dari siklus 12 musim tersebut.

Tahun ini Hari Krida Pertanian diisi dengan berbagai perenungan atas perkembangan pembangunan pertanian yang penuh dengan tantangan. Seusai para petani bersilaturahmi dengan Pemerintah di agenda Pekan Nasional Petani Nelayan di Padang, Sumatera Barat beberapa minggu lalu, kini petani pun dihangatkan dengan peringatan Hari Krida Pertanian.

Memang, tidak semua daerah akan memperingatinya. Namun bagi Kepala Daerah yang mencintai pertanian, biasanya mereka bakal menyiapkan diri sebaik mungkin, guna meramaikan peringatan Hari Krida Pertanian ini. Penggerak utama Hari Krida Pertanian, tentu saja harus Pemerintah. Bagaimanapun juga, Pemerintahlah yang memiliki anggaran untuk menyelenggarakannya.

Yang meramaikan, baru petani dan pemangku kepentingan lain. Dalam Hari Krida Pertanian, petani dan Pemerintah pantas bareng-bareng menggalang kebersamaan, khususnya dalam melahirkan pemikiran-pemikiran cerdas guna menjawab masalah yang ada. Petani dan Pemerintah juga penting berharmoni dalam mengantisipasi pergerakan jaman yang terus menggelinding.

Kalau peringatan Hari Krida Pertanian disemangati oleh penghormatan terhadap para pelaku pertanian dalam arti luas, petani sebagai pelaku utama, mestinya mendapat tempat tersendiri dalam peringatan tersebut. Petani harus benar-benar menjadi aktor utamanya. Sekiranya ada penghargaan yang bakal diberikan, ya kepada petani itulah penghargaan disampaikan.

Petani harus benar-benar menjadi aktor utamanya. Pict by : Edi Sopiyan

Di sisi lain, peringatan 51 tahun Hari Krida Pertanian juga diwarnai oleh kerisauan kita akan datangnya El Nino. Sebagai dampak Anomali Iklim dan Cuaca Ekstrim, El Nino dapat mengganggu target pencapaian pembangunan pertanian di negeri ini. Produksi berbagai komoditas pertanian, ditengarai bakal melorot. Yang mengkhawatirkan adalah dugaan turunnya produksi beras antara 1 hingga 5 juta ton.

Selain itu, soal menurunnya “ruang pertanian” sebagai akibat dari alih fungsi lahan pertanian produktif ke non pertanian, menjadi cukup penting untuk dijadikan percik permenungan ketika bangsa ini memperingati Hari Krida Pertanian 2023. Ruang pertanian yang kita miliki, mestinya tetap kita jaga, kita pelihara dan kita lestarikan bagi kepentingan generasi mendatang.

Bayangkan, bagaimana nanti anak cucu bakal memperoleh bahan pangan pokok, jika sawah ladang telah berubah fungsi. Sawah berubah jadi jalan bebas hambatan. Ladang berganti menjadi bandara internasional. Bahkan tidal sedikit lahan pertanian pangan produktif pun bergeser menjadi sebuah kawasan industri atau pun menjadi kawadan perumahan dan pemukiman baru.

Problem lain yang butuh penanganan lebih serius adalah soal regenerasi petani yang dalam beberapa tahun terakhir ini terekam semakin merisaukan. Anak muda perdesaan banyak yang meninggalkan kampung halamannya karena mereka tidak mau lagi menjadi petani. Mereka lebih memilih untuk menjadi buruh harian lepas di perkotaan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Jika tidak ditangani dengan segera, ditakutkan proses alih generasi petani, tidak akan berlangsung seperti yang diinginkan. Andaikan tidak ada lagi anak muda perdesaan yang mau jadi petani, maka pertanyaan kritisnya adalah siapa yang bakal bercocok-tanam padi di pesawahan untuk memberi makan kita semya ? Jawaban ini penting diperoleh agar pertanian masih tetap berlanjut.

51 tahun Hari Krida Pertanian, diwarnai dengan seabreg tantangan yang butuh penanganan secara cerdas. Berbagai hal yang disampaikan, mengajak kepada kita agar jangan lengah dalam membangun pertanian di masa kini dan mendatang. Kita optimis, Hari Krida Pertanian kali ini, dapat dijadikan momentum bagi kaum tani di negeri ini untuk segera bangkit mengubah nasib. Semoga ! (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga