Jumat, 31 Mei, 2024

Artikel Terbaru

57 TAHUN PERUM BULOG

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

10 Mei 2024, Perum Bulog merayakan hari jadinya yang ke 57 tahun. Lazimnya orang yang berulang tahun, setidaknya ada dua hal yang patut untuk dilakukan. Pertama adalah introspeksi atas apa-apa yang telah dialami selama ini dan kedua melakukan antisipasi atas perkembangan tanda-tanda zaman yang tengah menggelinding.

Introspeksi mutlak dilakukan oleh segenap Keluarga Besar Perum Bulog. 57 tahun bukan waktu yang sebentar. Perum Bulog yang kini diposisikan selaku operator pangan, tentu memiliki suka duka dalam melakoni perjalanannya. Sebelum jadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bulog diposisikan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND).

Sebagai Badan Urusan Logistik, Bulog diberi tugas khusus untuk menyelenggarakan pengadaan dan penyaluran bahan pangan pokok, khususnya beras. Akibatnya wajar jika Bulog sering diidentikan dengan beras. Sebagai lembaga parastatal, Bulog betul-betul menjalankan peran dan posisi strategisnya sebagai badan pemerintah yang seluruhnya atau sebagian dimiliki oleh negara.

Pengalaman yang ada, juga mengingatkan Bulog senantiasa akan membangun persahabatan sejati dengan para petani. Bulog selalu tampil sebagai pembela petani manakala gabah atau beras anjlok. Sesuai dengan kebijakan harga dasar (floor price), Bulog memiliki kewajiban untuk membeli gabah petani ketika harga pasar berada dibawah harga dasar.

Pada zamannya, Bulog ditugaskan secara khusus untuk menjalankan fungsi “social responsibility” terhadap rakyat tanpa harus berpikir untung dan ruginya. Melalui Bulog, Pemerintah berharap agar kebutuhan bahan pangan pokok, terutama beras, jangan sampai tidak terpenuhi. Beras harus tersedia sepanjang waktu. Apalagi jika mesti antri mendapatkan beras. Hal ini, jelas sangat tidak diinginkan.

Ketika Bulog berubah status menjadi BUMN, suka atau pun tidak, Perum Bulog sudah harus berpikir soal untung rugi, selain juga tetap menjalankan fungsi tanggungjawab sosialnya. Dewan Pengawas dan Dewan Direksi Perum Bulog, tidak boleh lagi menjalankan roda organisasi tanpa perhitungan matang dan akuntabel. Semua mesti terukur dan profesional.

Di sisi lain, Perum Bulog juga dituntut untuk dapat membaca tanda-tanda zaman yang kini tengah bergulir dengan cepat. Sebagai sahabat sejati petani, Perum Bulog tentu bukan cuma menyerap gabah petani, namun juga berusaha untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan petaninya. Catatan kririsnya adalah langkah apa yang sebaiknya ditempuh oleh Pemerintah ?

Kesejahteraan petani sendiri, sepertinya sudah menjadi target Pemerintah untuk meraihnya. Sayang, dalam kenyataannya, masih mengedepan sebagai cita-cita semata. Upaya mensejahterakan petani, rupanya tidak cukup hanya dengan menggenjot produksi setingginya, namun juga akan sangat ditentukan oleh harga jual gabah disaat panen berlangsung.

Apalah artinya produksi yang melimpah, jika harga jual gabahnya anjlok. Ini yang butuh penanganan lebih serius. Sebab, berdasar pengalaman selama ini, setiap panen raya, harga gabah di petani selalu melorot. Bahkan terekam di berbagai daerah, harga gabah anjlok hingga dibawah harga pembelian Pemerintah. Ini berarti, produksi meningkat tapi harga gabah anjlok, praktis kesejahteraan petani sulit untuk diwujudkan.

Persoalannya, mengapa Pemerintah dengan kekuasaan dan kewenangan yang digenggamnya, tidak mampu merumuskan kebijakan peningkatan produksi disertai dengan harga gabah di petani yang memberi keuntungan optimal bagi petani ? Mengapa naiknya produksi, selalu dibarengi dengan anjloknya harga gabah ? Jawaban ini sangat kita perlukan, agar pokok masalahnya dapat dicarikan solusi yang tepat.

Pe-er Perum Bulog ke depan adalah mampukah operator pangan ini tampil secara lebih nyata dalam menyerap gabah petani ? Terlebih dengan dilahirkannya kebijakan Harga Fleksibilitas Pembelian Gabah dan Beras. Ini menarik, karena dalam suasana Pemerintah kekurangan beras, maka gabah hasil panen petani akan jadi rebutan berbagai pihak, terutamq kalangan dunia usaha/swasta.

Catatan pentingnya apakah dengan kondisi sekarang Perum Bulog akan mampu bersaing dengan bandar, pengepul, tengkulak, pengusaha penggilingan dan lain sebagainya, atau tidak ? Jawabannya tegas : harus bisa.

Perum Bulog sudah saatnya menampilkan diri sebagai operator pangan yang berusaha ingin mewujudkan secara bersamaan antara fungsi sosial dan fungsi bisnisnya.

Masalah seriusnya adalah apakah para petani mau menjual hasil panen nya kepada Perum Bulog ? Jangan-jangan para petani sendiri, lebih nyaman menjual ke bandar dan pengepul ? Lalu, bagaimana dengan Perum Bulog yang oleh Pemerintah ditugaskan menyerap gabah setinggi-tingginya guna mengokohkan cadangan beras Pemerintah ?

Jika slogan “Bulog Sahabat Sejati Petani”, betul-betul terwujud dalam kehidupan nyata di lapangan, mestinya Perum Bulog tidak perlu kesulitan dalam menyerap gabah petani. Tanpa dikomando pun, petani akan berduyun-duyun dan menjual nya kepada Perum Bulog. Namun bila tidak, boleh jadi slogan diatas, barulah sebuah angan-angan belaka.

Selidik punya selidik, suasana kebatinan Perum Bulog dengan petani, ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan. Rupanya, masing-masing pihak asyik dengan dunianya sendiri. Itu sebabnya, tidak terlampau keliru, kalau dalam menghangatkan hari jadi Perum Bulog ke 57 tahun ini, mari kita hangatkan lagi suasana kebatinan Perum Bulog dengan petani. Sebagai Bos Perum Bulog, kita optimis Kang Bayu Krisnamurni, akan sangat memahami nya. Dirgahayu Perum Bulog !

ENTANG SASTRAATMADJA

(PENULIS, KETUA HARIANNDPD HKTI JAWA BARAT).

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga