Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Ada Pabrik Minyak Goreng di Lanud Sutan Syahrir Padang

ktnanasional.com SUMBAR,Padang – Pabrik Minyak Goreng skala mini memeriahkan PENAS XVI Petani Nelayan yang berlangsung di Lanud Sutan Syahrir, Padang, Sumatera Barat. Dengan Uniknya, pabrikan mini ini ternyata bisa dimiliki sendiri oleh pekebun sawit rakyat yang sudah berkorporasi. Penasaran kira-kira investasinya berapa?

Dua orang tenaga kerja tengah memasukkan bungkil-bungkil sawit ke dalam mesin pengolahan minyak CPO untuk menghasilkan minyak goreng siap konsumsi. Dengan unit yang tak begitu besar, Pabrik Minyak Goreng (Pamigo) mini bisa menjadi alternatif usaha bagi kelompok petani/pekebun sawit.

Pabrikan tersebut bisa dilihat petani, penyuluh dan masyarakat umum yang datang ke PENAS XVI di Sumatera Barat, khususnya di area Gelar Percontohan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian. Pamigo skala mini ini sebelumnya pernah ditampilkan dalam BUN EXPO, akhir tahun 2022. Bahkan mendapatkan perhatian khusus dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Saat SYL berkunjung ke lokasi Pamigo di area gelar teknologi percontohan, Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengatakan, Pamigo tersebut bisa mengaolah tandan buah segar (TBS) dalam jumlah 6-7 ton. Dari jumlah tersebut akan terkoversi menjadi minyak sawit (crude palm oil) sebanyak 1 ton.

“CPO tersebut nanti bisa disimpan selama 6 bulan, sehingga dapat menjaga stabilitas TBS di tingkat petani. Pamigo mini ini juga bisa mengolah menjadi minyak merah,” kata Andi Nur.

Pamigo skala mini ini mengadopsi proses pengolahan buah sawit menjadi minyak goreng yang terdapat pada pabrik besar. Namun dilakukan downsizing agar menjadi skala kecil dengan beberapa perubahan untuk menjaga efisiensi dan nilai ekonomisnya.

Tiga tahapan

Setidaknya ada tiga tahapan dalam proses pembuatan minyak goreng skala mini. Pertama (skid 1) dari TBS menjadi CPO. Setiap proses diperlukan sekitar 7,5 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hari atau sekitar 4,8 ton berondol per hari. Bahan baku ini akan diolah menjadi 1,5 ton CPO per hari.

Pada tahap ini, pipilan buah sawit diproses menjadi CPO menggunakan mesin sterilisisasi, digesting dan juga screw press. “TBS nanti dirontokkan, kemudian direbus dalam dua panci, kemudian baru dipress,” katanya.

Tahap kedua (skid 2) dari CPO menjadi RPO (Red Palm Oil). Tahap ini melalui proses yang menggunakan mesin degumming, vacum drying dan juga PFAD separator. CPO yang dihasilkan dari tahap pertama akan diproses dalam tahap kedua untuk menghasilkan 900-950 kg Red Palm Oil (RPO) per hari. “Jadi dari CPO kita bisa menghasilkan minyak goreng mentah,” katanya.  

Selanjutnya tahap ketiga (skid 3). Tahapan ini memproses RPO menjadi RBDO (Refined Bleached Doodrized Palm Oil) dalam skala mini. Tahap ketiga ini merupakan proses penyulingan. RPO yang RBDPO dengan jumlah produksi mencapai 900-950 kg per hari. “Pada tahap ini sudah menghasilkan minyak goreng siap konsumsi,” ujarnya.

Pamigo skala mini ini merupakan hasil kerjasama PT. Pura Barutama dengan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian. Hasil analisa usaha Tim Ditjen Perkebunan, petani yang terlibat dalam bisnis ini dapat mencapai titik impas atau break even point (BEP) dalam waktu 4 tahun.

PAMIGO diperkirakan dapat memberikan keuntungan sebesar 29?ri investasi awal, atau sekitar Rp594.360.000 per tahun. Bahkan bagi petani yang menggunakan dana pinjaman melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga sebesar 6%, program ini masih tetap menguntungkan. 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga