Sabtu, 20 April, 2024

Artikel Terbaru

Akibat Kemarau Panjang Di Ibu Kota 300 Hektare Pertanian Di Rorotan Kekeringan

ktnanasional.com – JAKARTA, Dampak kemarau panjang (El Nino) mulai terasa di Ibu Kota. Lahan pertanian seluas 300 hektare (ha) di Rorotan, Jakarta Utara (Jakut), kekeringan.

Akibat kekurangan pasokan air, lahan pertanian di lokasi tersebut retak-retak.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju di Rorotan, Cilincing, Jakut, Sirojuddin Ab­bas meminta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk membantu mengairi lahan sawah.

“Harapan kami, petani jangan dibiarkan sendiri menghadapi kekeringan,” katanya, di Jakarta, kemarin.

Dia berharap, saluran-saluran air di sekitar Rorotan kembali normal sehingga air bisa lang­sung dimanfaatkan untuk pengairan sawah.

“Saya baru tanam padi sem­bilan hari, sekarang kondisinya kekurangan air parah,” kata Abbas.

Para petani, lanjut Abbas, tidak bisa sembarangan mengambil air dari aliran kali yang ada di sekitar kawasan tersebut karena terganjal regulasi.

Abbas menuturkan, lahan per­tanian di Rorotan mesti dipertahankan. Sebab, lahannya sangat subur. Satu hektar lahan di daerah tersebut dapat menghasil­kan sekitar enam ton padi.

“Kalau bisa Pemprov DKI membantu mempertahankan lahan pertanian karena banyak manfaatnya. Selain menghasil­kan pangan, lahan itu men­jadi paru-paru kota dan menanggulangi banjir musiman,” ujarnya.

Jakut Kekeringan

Selain pertanian, pemukiman warga di Tanjung Priok, Marunda, Kalibaru dan Tugu Selatan di Jakut, mengalami kekeringan.

Untuk membantu warga, Pa­lang Merah Indonesia (PMI) Jakut menyalurkan bantuan air bersih untuk masyarakat tersebut.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jakut Heri Asmedi menyebutkan, pihaknya sudah menyalurkan 90.000 liter air bersih untuk masyarakat terdampak kekeringan.

“Penyaluran air bersih dimulai pada tanggal 4 hingga 14 Agus­tus 2023 dengan penerima man­faat sebanyak 6.800 jiwa. Keg­iatan pendistribusian air bersih ini tidak akan bisa berjalan tanpa adanya dukungan dari PAM Jaya serta Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta,” kata Heri.

Sebelumnya, Badan Meteo­rologi, Klimatologi, dan Geofisi­ka (BMKG) menyebut Indonesia tengah menghadapi fenomena El Nino yang mengakibatkan musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Dampaknya, kon­disi lebih kering sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang dan suhu meningkat.

Kepala Pusat Informasi Pe­rubahan Iklim BMKG A Fachri Rajab mengatakan, pihaknya memprediksi puncak dampak El Nino akan terjadi pada Agustus-September 2023 mendatang.

Hasil monitoring hingga pertengahan Juli 2023, sebanyak 63 persen dari zona musim telah memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi kemarau tahun ini akan lebih kering dari normalnya-dan juga lebih kering dari tiga tahun sebelumnya.

Beberapa daerah yang akan terdampak kemarau panjang cukup kuat terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung. Seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Teng­gara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kaliman­tan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

“Wilayah itu diprediksi memi­liki curah hujan paling ren­dah dan berpotensi mengalami musim kering yang ekstrem,” kata Fachri.

Prakiraan curah hujan bulanan BMKG menunjukkan bahwa sebagai besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bu­lanan kategori rendah. Bahkan, Sebagian wilayah akan menga­lami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga Oktober nanti.

“Jadi harus waspada akan potensi terjadinya kekeringan,” kata Fachri.

Adapun sektor yang paling terdampak dari fenomena El Nino adalah sektor pertanian-utamanya tanaman pangan se­musim yang sangat mengandal­kan air. Rendahnya curah hujan tentunya akan mengakibatkan lahan pertanian kekeringan dan dikhawatirkan akan mengalami gagal panen.

BMKG mendorong Pemerin­tah Daerah (Pemda) khususnya bagi daerah yang diprediksi terdampak serius, untuk melaku­kan langkah mitigasi dan aksi kesiapsiagaan secepat mungkin. Caranya, melakukan gerakan panen hujan, memasifkan gera­kan hemat air dan menyiapkan tempat cadangan air.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji memastikan, pasokan air bersih tersedia. Pihaknya su­dah menyiapkan sarana dan prasarana untuk penyediaan air bersih di wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan. BPBD berkerja sama dengan PAM Jaya, Dinas SDA, dan instansi terkait sebagaimana telah dikoordinasikan pada April 2023.

“Kami siapkan 67 unit mobil tangki, 46 unit tandon air, 9 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) stasioner, dan tujuh unit IPA mobile,” katanya di Jakarta, Selasa (15/8).

Isnawa mengimbau, kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih sesuai kebutuhan. Selain itu, melaku­kan pengecekan kondisi instalasi pipa di rumah dan melakukan pengaturan untuk kegiatan pe­nyiraman tanaman.

BPBD DKI juga mengingat­kan masyarakat soal potensi kebakaran di musim kemarau panjang. Masyarakat mesti rutin melakukan pengecekan instalasi listrik secara mandiri, memati­kan alat elektronik dan kompor apabila sedang berpergian.

“Jauhkan benda yang mudah terbakar dari sumber api, dan jangan membakar sampah secara sembarangan,” sambungnya.

Petugas BPBD DKI Jakarta juga melakukan pemantauan dan bedah instalasi listrik di kawasan permukiman menengah ke bawah.

“Upaya pantau ini untuk mene­kan kasus kebakaran, mengingat kebanyakan kebakaran yang terjadi akibat adanya korsleting listrik,” imbuh Isnawa.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga