Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

Amankan Pasokan, AACI Sarankan Transformasi Budidaya Cabai

ktnanasional – JAKARTA. Cara budidaya di tingkat petani ternyata menjadi faktor produksi cabai naik turun. Karena itu, Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) menyarankan perlu adanya transformasi dalam budidaya cabai. Seperti apa?

Sekjen Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid melihat melihat akar masalah dalam persoalan cabai di dalam negeri adalah sistem budidaya dan kurangnya SDM yang menguasai budidaya yang benar. Umumnya petani belum paham cara mengolah lahan, penggunaan pupuk organik, penanganan hama dan penyakit secara tepat.

Faktor lainnya adalah tingginya biaya transportasi dalam perdagangan antarpulau, yang menyebabkan risiko kerusakan komoditas cabai lebih tinggi. Karena itu, Hamir menekankan pentingnya memberikan literasi kepada petani cabai tentang cara menanam cabai yang baik dan benar.

“Membangun petani kita cara menanam yang baik dan benar merupakan hal yang penting untuk dilakukan,” katanya saat Webinar Jaga Stabilitas Pasokan dan Harga Cabai-Bawang Jelang Lebaran yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerjasama dengan Ditjen Hortikultura, Kamis (14/3).

Dalam jangka panjang, Hamid menilai, perlu adanya transformasi percabaian yang menunjang produksi dan produktivitas cabai. Salah satunya kegiatan budidaya dan teknologinya. Contoh kecilnya selama ini petani kurang bersih dalam menangani pangkal batang cabai.

Tak hanya itu, budidaya cabai umum di lahan terbuka. Karena itu, AACI menginisiasi pertanaman cabai dalam club house/green house, sehingga kesulitan air dan hara bisa teratasi. “Di Lahan terbuka atau open space selalu bermasalah dengan air,  sehingga diperlukan drip Irigasi agar air lebih efisien,” ujarnya.

Hamid menjelaskan, transformasi budidaya cabai ini memberikan dampak positif cukup besar, terutama hilangnya virus cabai dan penyakit utama lainnya lebih terkontrol. Bahkan di greenhouse panen bisa sampai 50 kali, jauh lebih banyak dibandingkan di lahan terbuka yang hanya 20 kali panen. “Di greenhouse bisa panen 4-6 hari sekali setelah 90 hari,” ujarnya.

Hamid menyarankan, langkah transformasi lain untuk menjamin pasokan cabai stabil adalah penguatan SDM melalui capacity building untuk setiap pemasok dari kepulauan dengan inovasi teknologi. Selain itu, budidaya yang sehat, baik untuk tanah maupun tanaman, dengan menerapkan SOP wajib/kearifan lokal.

“Pengoptimalan pada pemeliharaan setelah tanam dengan menggunakan anti virus dan pupuk nano teknologi juga perlu dilakukan,” katanya. Dengan transformasi tersebut diharapkan, produksi akan stabil sepanjang tahun.

Keuntungan lainnya dari transformasi dalam percabaian yakni, biaya juga lebih efisien, penggunaan air terkontrol dengan baik, produktivitas meningkat, penggunaan fungisida dan insektisida berkurang, pemupukan juga lebih efisien. “Produk hasil panen akan memiliki kualitas lebih tinggi dengan residu kimia yang rendah untuk tujuan ekspor,” kata Hamid.

Catatan Hamid untuk transformasi budidaya cabai adalah pendamping kepada petani dan dukungan semua pihak, termasuk Dinas Pertaian hingga akademisi, termasuk praktisi dari perusahaan pupuk dan pestisida.  (admin)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga