Selasa, 28 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Atasi Rawan Pangan, Pemdes Wae Mose Terobos dengan Pengembangan Sorgum

ktnanasional – NTT, MANGGARAI BARAT. Pemerintah Desa Wae Mose di Kabupaten Manggarai Barat sedang mengembangkan pertanian sorgum sebagai upaya menghadapi tantangan pangan dan perubahan iklim.

Pemdes Wae Mose bekerja sama dengan LSM Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) dalam pengembangan tanaman sorgum, dengan melibatkan kelompok tani setempat.

Yakines memberikan bantuan teknis kepada petani, sementara Pemdes Wae Mose mendukung pemberdayaan kelompok tani.

Koordinator program Yakines, Ferdinandus Mau Manu, mengapresiasi responsifnya Pemdes Wae Mose terhadap isu kerawanan pangan dan perubahan iklim.

Desa Wae Mose merupakan contoh dari desa-desa yang responsif dalam mengatasi kerawanan pangan.

Menurut Ferdinandus, saat ini semua pihak tengah memperhatikan isu pangan dan perubahan iklim. Perubahan iklim menjadi semakin rumit, menyulitkan petani dalam menetapkan pola musim yang telah bergeser dari sebelumnya.

Oleh karena itu, Ferdinandus menekankan pentingnya mengembangkan budaya pertanian lokal sebagai upaya mendukung petani menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Kami dengan dukungan teman-teman dari Jerman juga NGO lainnya, mendorong petani untuk memulai budi daya pangan lokal karena satu-satunya pangan yang dapat bertahan dalam perubahan iklim yaitu pangan lokal dan terbukti dengan sorgum ini, yang awalnya tumbuh kurang meyakinkan, tetapi hari ini kita bisa panen,” tandasnya.

Siprianus Kantul, Kepala Desa Wae Mose, menjelaskan acara panen sorgum ini merupakan langkah besar dalam meningkatkan potensi tanaman lokal di Kabupaten Manggarai Barat, sambil menerapkan pertanian organik untuk mengatasi kerawanan pangan.

Meskipun menghadapi kendala karena keterlambatan benih sorgum, kerja sama semua pihak berhasil mengatasinya sehingga panen dapat dilaksanakan.

Kolaborasi ini terjadi karena adanya kesamaan program antara Pemerintah Desa Wae Mose dan LSM Yakines, yang telah memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat setempat.

Siprianus mengungkapkan kegembiraannya atas kolaborasi ini, karena program yang dibawa oleh Yakines sejalan dengan program pemberdayaan yang dicanangkan oleh Pemdes Wae Mose.

“Sangat menyenangkan melihat Yakines datang dengan programnya. Sebenarnya, pemerintah desa juga memiliki program serupa untuk pemberdayaan,” ujar Siprianus.

“Iya, sekarang kita bisa menikmati hasil panen sorgum yang sebelumnya kurang diperhatikan oleh masyarakat,” tambahnya.

Dia juga menyatakan bahwa Pemdes Wae Mose telah mengalokasikan dana untuk mendukung 12 kelompok tani dalam menerapkan pertanian organik dan mengembangkan tanaman lokal seperti sorgum.

Lahan 1 Hektar 

Riani Koten, pendamping lapangan, mengatakan meskipun panen sorgum kali ini terlambat karena kendala mendapatkan benih, namun kelompok tani yang mendapat pendampingan merasakan manfaat dari program pemberdayaan tersebut.

Riani menambahkan, Luas lahan untuk panen kali ini sekitar satu hektare, dengan sorgum ditanam di kebun yang terpisah-pisah.

“Panen hari ini dilakukan di kebun milik dua keluarga tani yang masing-masing kelompoknya didampingi sejak Mei dan Oktober 2023,” ungkap Riani.

Dirinya juga berterima kasih kepada Yakines dan Pemdes Wae Mose karena telah mencanangkan program pemberdayaan ini, sambil berharap program ini bisa berlanjut dan sorgum dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Seperti diketahui, budidaya tanaman lokal merupakan salah satu poin kolaborasi antara Yakines, Pemdes Wae Mose, dan 12 kelompok tani yang telah terbentuk dan menerima pendampingan.

Kolaborasi ini juga mencakup pemberdayaan perempuan dan anak, pertanian organik, konservasi mata air dan lumbung (padi, beras, dan kebun), serta budidaya pangan lokal. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga