Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

Banyak Saluran Irigasi Hancur, Bendungan, Saluran Induk Jebol & Tertimbun Longsor di Wilayah Bali

ktnanasional.com – BALI, Kondisi lahan pertanian warga di Karangasem, yang terdampak akibat bencana alam awal Juli 2023 lalu

Ratusan hektare lahan pertanian di Karangasem, terdampak bencana alam yang terjadi awal bulan Juli ini.

Petani pun terancam tak bisa menanam dalam waktu dekat karena banyak saluran irigasi yang rusak.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Karangasem, I Nyoman Siki Ngurah mengatakan, hujan mengguyur Karangasem mengakibatkan bencana yang membuat bendungan, saluran induk jebol serta tertimbun longsor.

Para petani pun kesulitan mendapatkan air bersih. “Ada juga luas lahan terkena bencana maksudnya lahan tertimbun longsor, tergerus, jebol, dan padi rebah,” demikian kata I Nyoman Siki Ngurah, Minggu (23/7).

Ia mengatakan, di Kecamatan Rendang ada 10 subak terkena dampak bencana dengan luas lahan mencapai 85.5 hektare. Sedangkan luas lahan yang diperkirakan akan terdampak bencana 151,5 hektare tersebar di subak Desa Rendang, Nongan, serta Desa Menanga.

Di Kecamatan Abang, luas lahan yang terkena bencana 15 hektare dan terdampak bencana dua hektare. Lokasinya di Subak Basang Alas, Desa Tribuana. Di Kecamatan Bebandem, luas lahan yang kena bencana tujuh hektare dan lahan yang terdampak 70 hektare. Lokasinya di Subak Kayu Putih dan Saren, Desa Bebandem.

“Terbanyak ada di Kecamatan Sidemen. Luas lahan yang kena bencana 5,38 hektare sedangkan luas lahan terdampak diperkirakan 228,35 hektare. Tersebar di Desa Sangkan Gunung, Talibeng, Tangkup, Wisma Kerta, dan Desa Sinduwati. Sebagian karena banjir dan longsor,” kata dia.

Kecamatan Manggis, luas lahan yang terkena bencana seluas 20 hektare. Lokasinya di Desa Tenganan dan Manggis. Sedangkan lahan terkena dampak diperkirakan mencapai 79,2 hektare.”Penyebab utama adalah bronjong pembendung air hanyut. Ditambah tumpukan material longsor,” imbuhnya.

Kecamatan Karangasem, luas lahan terkena bencana nihil. Hanya ada beberapa pertanian terkena dampak lantaran saluran irigasi rusak tertimbun tanah longsor. Luasnya sekitar 26.69 hektare, lokasinya di Desa Bugbug. Di Kecamatan Selat, luas lahan kena bencana satu hektare dan terdampak 172,45 hektare.

“Untuk Kecamatan Selat ada di lima desa terdampak seperti Amerta Buana, Peringsari, Duda Timur, Muncan, dan Duda Utara. Sedangkan untuk Kecamatan Kubu nihil, tak ada dampak dari bencana,” kata Siki Ngurah.

Imbas dari kondisi ini, lahan yang terkena bencana praktis mengalami penurunan hasil panen. Beberapa petani sudah melakukan pembersihan dan perbaikannya secara gotong royong. “Sudah ada upaya dari petani melakukan gotong-royong.

Pemkab Jembrana Akui Tak Ada Uang

Pemkab Jembrana mengakui belum bisa melakukan perbaikan jembatan di Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya yang putus total akibat bencana alam sembilan bulan lalu. Anggaran yang diperlukan untuk membangun ulang jembatan tersebut mencapai Rp 1,2 miliar.

Pemkab Jembrana sudah mengusulkan anggaran ke Pemerintah Provinsi Bali agar mendapatkan dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) “Semua kerusakan infrastruktur sudah kami usulkan pasca bencana Oktober 2022 lalu,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jembrana, I Wayan Sudiarta.

Kata dia, jembatan Desa Blimbingsari bakal dibangun baru dengan konsep lebih bagus. Sudiarta meminta masyarakat bersabar. Ia meminta warga menggunakan jalur alternatif untuk sementara waktu sembari menunggu turunnya anggaran dari Pemprov Bali. (admin)

Artikel telah tayang di bali.tribunmews.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga