Jumat, 31 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Berbagi Cerita Membangun Ekonomi Hijau di Skema Perhutanan Sosial

ktnanasional – JAMBI. Kebijakan pemerintah atas pelibatan masyarakat dalam upaya pengelolaan hutan menjadi angin segar atas kelestarian hutan seiring dengan kesejahteraan masyarakat. Pelibatan masyarakat tertuang dalam skema perhutanan sosial yang meliputi, Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan. Seluas 223.147,48 hektare sudah areal perhutanan sosial di Provinsi Jambi. Luasan ini belum berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sudah memiliki izin pengelolaan hutan skema perhutanan sosial.

Ekonomi hijau menawarkan pendekatan untuk keseimbangan pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Ada 3 KTH di Desa Sungai Penoban, Kecamatan Batang Asam Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang saat ini sedang melakukan upaya rehabilitasi dan perlindungan hutan di areal skema perhutanan sosial yang sudah diberikan izin dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan seluas 475 hektar yang melibatkan 135 petani. KTH Hulu Lumahan Lestari, KTH Penoban Lestari, dan KTH Mahau Lestari mencoba menerapkan konsep ekonomi hijau dalam penyusunan RKU / RKPS/ RKT.

Meskipun masih menghadapi tantangan seperti penggunaan pupuk kimia dan pestisida, KTH Mahau Lestari telah mengambil langkah-langkah inovatif seperti membentuk tim patroli kawasan untuk mencegah perambahan, illegal logging, dan kebakaran hutan. Mereka juga telah mengembangkan metode pembibitan menggunakan biji, cangkok, atau sambung batang dengan menggunakan pupuk organik. Samsul , Ketua KTH Mahau Lestari dalam “Workshop Pembelajaran: Menemukan Konsep Ekonomi Hijau dalam Pengelolaan Perhutanan Sosial untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dan Kelestarian Hutan” Kuala Tungkal, 2 /5 menyebutkan dengan inovasi ekonomi hijau yang dilakukan mampu menekan angka kebakaran hutan dan nol perambahan di lokasi areal hutan kemasyarakatannya.

KTH juga melihat peluang saha pembibitan untuk rehabilitasi kawasan dengan melibatkan para perempuan di desa. Mereka membentuk Kelompok Perempuan Pengelola Pembibitan (KP3) sebanyak 3 , yaitu Nurul Huda Lestari, Mahau Berseri, Al Ikhlas Berkah.

Mevi Ayanti, Ketua KP3 Nurul Huda bercerita mereka turut berperan dalam inisiatif ini. Dengan melibatkan sekitar 70 orang anggota, KP3 Nurul Huda telah memfokuskan upayanya dalam pengelolaan pembibitan dengan memanfaatkan bibit dari luar.

Awalnya berfokus pada bibit kopi dan kemiri, kelompok ini kemudian mengembangkan variasi dengan menanam sayuran seperti bayam dan terong, serta mengembangkan bibit buah-buahan. Melalui pembelajaran vegetatif dan generatif dari Balai Benih, mereka berhasil menghasilkan bibit-bibit unggul yang berkualitas. Selain itu, mereka juga mengembangkan inovasi dalam teknik pembibitan, seperti penggunaan inti cangkok dan sambung pucuk pada tanaman durian.

Produk-produk bibit yang dihasilkan kemudian dijual kepada masyarakat, dengan kualitas yang lebih baik dan tahan terhadap kondisi lingkungan. Kolaborasi antara KTH dan KP3 Nurul Huda telah membawa dampak positif dalam pengembangan ekonomi hijau, dengan harapan akan terus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

“ 3 KP3 ini membentuk Koperasi Konsumen Srikandi Lestari Mandiri. Agar bisnis pembibitan lebih maju, jasa jual beli bibit, jasa produksi makanan lokal, jasa produksi kerajinan tangan dari limbah, jasa simpan pinjam untuk usaha, jasa jual beli pupuk organik,” jelasnya.

Direktur Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi Utari Oktica Rani menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekonomi hijau, khususnya dalam konteks pengelolaan hutan. Pernyataannya muncul seiring dengan berbagai inovasi dan upaya yang dilakukan oleh berbagai kelompok di berbagai daerah.

“Berbagai tantangan dalam pengembangan ekonomi hijau melalui perhutanan sosial ini bisa diatasi dengan memperkuat kapasitas dan keterampilan anggota masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan hutan. Cappa melakukan penguatan kelembagaan itu menjadi langkah awal dalam menyiapkan konsep ekonomi hijau di skema perhutanan sosial yang kita dampingi,” katanya.

Selain itu, masalah pemasaran juga menjadi kendala utama. Meskipun telah berhasil menghasilkan produk-produk unggulan, namun akses pasar yang terbatas membuat produk tersebut sulit untuk dipasarkan secara luas. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih besar dalam meningkatkan akses pasar dan memberikan nilai tambah pada produk-produk tersebut.

Di sisi lain, dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan dalam mengatasi berbagai tantangan tersebut. Melalui kerjasama yang baik antara berbagai pihak, diharapkan bahwa pengembangan ekonomi hijau melalui perhutanan sosial dapat terus berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang besar bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala KPH Unit XV, XVI, XVII Tanjung Jabung Barat Tanjab Barat, Edmon Edwar, menyoroti pentingnya melibatkan berbagai pihak dalam pengelolaan perhutanan sosial. Meskipun ada beberapa hambatan seperti kurangnya dana, namun komitmen dari berbagai pihak seperti Pemkab Bungo dan OPD lainnya menunjukkan bahwa program perhutanan sosial menjadi prioritas dalam pembangunan wilayah. Saat ini luasan skema perhutanan sosial di wilayah Tanjung Jabung Barat seluas 15.038 hektare.

“Kita ada program-program seperti bantuan dana dari BioCF untuk pengembangan bibit jahe merah, serta program rehabilitasi areal seluas 1000 hektar, diharapkan bahwa perhutanan sosial dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Dengan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan memanfaatkannya secara bijak, diharapkan bahwa pengembangan ekonomi hijau melalui perhutanan sosial akan terus menjadi prioritas dalam pembangunan wilayah, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (admin)

artikel ini telah tayang di jamberita.com

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga