Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

BERSAMA PENYULUH PERTANIAN, MEMBANGUN KESEJAHTERAAN PETANI

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

ktnanasional.com – Jakarta.  Suka atau pun tidak, kita harus akui keberadaan Penyuluh Pertanian dalam memacu peningkatan produksi padi, bukanlah cuma sekedar omong kosong. Berbagai fakta kehidupan mempertontonkan, berkat Penyuluh Pertanian, bangsa ini mampu mewujudkan swasembada beras, yang saat itu membuat para anggota FAO banyak yang berdecak kagum. Kok bisa, negeri yang selama itu dikenal sebagai importir beras dengan angka yang cukup besar di dunia, tiba-tiba mampu berswasembada beras.

Proses Penyuluhan bisa dilakukan dimana saja, teori dan praktek langsung dilapangan (foto: Adman Lubis)

Proses Penyuluhan bisa dilakukan dimana saja, teori dan praktek langsung dilapangan (foto: Adman Lubis)

 

Swasembada beras tahun 1984 adalah bukti betapa hebatnya bangsa Indonesia. Melalui sinergi dan kolaborasi para pihak, kita mampu mengagetkan warga dunia. Tanpa basa-basi dan gembar-gembor, tiga serangkai PENELITI-PENYULUH-PETANI tampak bahu membahu membangun kinerja bersama guna meningkatkan produksi padi secara signifikan menuju swasembada. Ini jelas, sebuah prestasi yang membanggakan dan patut diberi acungan jempol.

 

Penyuluh Pertanian yang didaulat sebagai “guru” petani beserta keluarganya di perdesaan, memiliki andil yang cukup besar dalam merubah perilaku petani melalui proses pendidikan non formal ke arah yang senafas dengan cita-cita pembangunan bangsa. Dengan mengedepankan proses pembelajaran, pemberdayaan dan pemartabatan petani, para Penyuluh Pertanian selalu memberi hal-hal baru dalam mengembangkan usahatani padi. Teknologi baru dan inovasi terkini, senantiasa akan disampaikan kepada para petani.

 

Dalam menjalankan tugas kesehariannya, para Penyuluh Pertanian selalu “diisi” dan “mengisi diri” atas hasil-hasil mutakhir kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digarap oleh para peneliti, baik yang berhimpun di Lembaga Penelitian Pemerintah/Swasta ataupun Perguruan Tinggi. Kebersamaan Peneliti dan Penyuluh pada jamannya, membuat dunia Penyuluhan Pertanian tampak semarak dan penuh gairah. Peneliti dan Penyuluh hidup berdampingan guna meningkatkan kesejahteraan petani.

 

Begitulah suasana yang tumbuh dan berkembang sekitar 40 tahun silam. Lalu, bagaimana suasananya dalam konteks kekinian ? Apakah harmonisasi antara PENELITI-PENYULUH-PETANI masih berlangsung penuh dengan kemesraan ? Ataukah tidak, dimana saat ini masing-masing pihak terlihat asyik menggeluti masalah yang dihadapinya ? Inilah soal besar yang harus secepatnya diselesaikan. Betapa salahnya, kalau kita membiarkan masalah ini berlarut-larut tanpa ada terobosan cerdas untuk mensolusikannya.

 

Para Peneliti pertanian sendiri, tampak masih belum mampu menyesuaikan diri dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai rumah barunya. Menariknya, tatkala Pemerintah membuat rumah barunya itu, terekam banyak peneliti yang galau. Bahkan ada juga yang minta pensiun dini, karena nuraninya tidak sesuai dengan keputusan Pemerintah tersebut. Lahirnya BRIN secara tidak langsung membuat para peneliti kehilangan konsentrasi, karena risau akan masa depannya. Kita berharap masalah ini akan cepat selesai.

 

Begitu pun dengan dunia Penyuluhan Pertanian. Sejak lahirnya Undang Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kelembagaan Penyuluhan di daerah menjadi berantakan. Para Penyuluh Pertanian banyak yang resah. Kenyamanan Penyuluh Pertanian karena mulai menata diri sebagaimana diamanatkan Undang Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, tiba-tiba jadi terganggu, mengingat kehadiran UU No. 23/2014 yang tujuannya untuk membubarkan kelembagaan Penyuluhan di daerah.

 

Lalu bagaimana situasinya dengan para petani padi kita ? Ini pun tetap dihadapkan pada masalah yang cukup menjelimet. Regenerasi petani padi, betul-betul menjadi soal serius yang butuh penanganan dengan segera. Keengganan kaum muda perdesaan untuk menjadi petani padi, perlu dicarikan pemecahan terbaiknya. Hal yang sama juga terjadi di kalangan para orang tua yang sekarang berprofesi petani padi. Kita perlu mencari alasan utamanya, mengapa mereka melarang anak-anaknya menjadi petani.

 

Mencermati uraian diatas, tiga serangkai penopang utama Swasembada Beras, yakni PENELITI-PENYULUH-PETANI, sepertinya, kini tengah dirundung masalah masing-masing yang cukup serius. Soal peneliti dan Penyuluh Pertanian, tampak sudah mulai terkendalikan. Tinggal sekarang para petani padi, yang seolah-olah tidak nyaman dengan kondisi kehidupannya. Di benak mereka, jadi petani padi sekarang, identik hidup dalam kubangan kemiskinan. Mereka sering merenung, mengapa Pemerintah terkesan begitu lama membebaskannya dari jeratan kemiskinan yang tak berujung pangkal.

 

Dalam situasi semacam inilah para Penyuluh Pertanian dituntut kehadirannya. Selaku “obor” yang diharapkan mampu memberi sinar kehidupan bagi petani, kiprah Penyuluh Pertanian menjadi penting guna menyambut masa depan. Penyuluh Pertanian dituntut untuk dapat merubah kegelapan menjadi sinar terang kehidupan. Kondisi kemiskinan perlu digantikan dengan kesejahteraan. Penyuluh Pertanian pun diminta untuk sesegera mungkin menenggelamkan kemiskinan petani dan merubahnya menjadi kemakmuran.

 

Kalimat “kesejahteraan petani” seperti nya bukan hal yang aneh untuk di dengar dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Setiap Pemerintahan yang manggung di negeri ini, pasti akan menjadikan kalimat kesejahteraan petani sebagai salah satu target yang harus dicapai. Masalah nya mengapa terkesan begitu lama untuk mewujudkan nya ? Mengapa kesejahteraan petani lebih mengemuka sebagai cita-cita ketimbang realita ? Bahkan kalimat kesejahteraan petani pun lebih banyak dijadikan bahan pidato para pejabat dari pada diterapkan dalam kehidupan nyata di lapangan.

 

Upaya dan kebijakan untuk mensejahterakan petani, sebetul nya telah menggaung sejak lama. Setiap Pemerintahan yang diberi mandat oleh rakyat untuk mengelola negara dan bangsa pun, selalu menyimpan kalimat kesejahteraan petani sebagai salah satu target yang perlu dikejar dan dibuktikan dalam fakta kehidupan sehari-hari. Kesejahteraan petani pun muncul menjadi titik puncak idealisme pembangunan petani. Hal ini wajar, karena pada suasana sejahtera itulah segala persoalan lahir batin petani terselesaikan.

 

Sayang nya, keinginan untuk mensejahterakan petani, masih terbatas pada sebuah cira-cita. Sekarang ini, kondisi kehidupan petani, terlihat masih memprihatinkan. Petani belum mampu menjadikan diri mereka selaku “penikmat pembangunan”. Bahkan kalau kita boleh jujur, para petani di negeri ini, lebih sering terpinggirkan dari panggung pembangunan itu sendiri. Petani, khususnya petani berlahan sempit lebih mengedepan sebagai “korban” dari seabreg kebijakan yang digelindingkan Pemerintah. Lebih sedihnya lagi, para petani gurem dan petani buruh semakin tertelan kesengsaraan yang memilukan.

 

Sebagian besar petani, khusus nya mereka yang berlahan sempit, seperti yang kesusahan untuk berubah nasib. Cengkraman kemiskinan yang melilit kehidupan nya, membuat mereka sulit untuk membebaskan diri dari suasana hidup sengsara. Mereka hidup ala kadar nya. Sekedar untuk menyambung nyawa kehidupan saja, mereka harus bersusah payah untuk memenuhi nya. Begitulah gambaran kaum tani yang sering dikatakan orang-orang selaku pahlawan pangan. Petani inilah yang mampu mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.

 

Yang paling berkompeten untuk secepatnya mewujudkan kesejahteraan petani, ya….para Penyuluh Pertanian. Merekalah yang oleh Pemerintah ditugaskan untuk mendidik petani dengan hal-hal baru terkait inovasi dan teknologi mutakhir di sektor pertanian, baik dari aspek budidaya atau sistem pemasaran. Kita percaya judul tulisan Bersama Penyuluh Pertanian, Membangun Kesejahteraan Petani, bukan hanya wacana, namun akan dapat dibuktikan dalam kurun waktu yang tidak terlampau lama lagi. (PENULIS, KETUA DEWAN AHLI KTNA JAWA BARAT).

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga