Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

BERTANI DI LAHAN PASKA TAMBANG ?? POTENSI YANG MASIH TIDUR DI BANGKA BELITUNG

ktnanasional.com – BABEL Pangkal Pinang. Tanggal 21 November merupakan tanggal terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sesuai dengan Undang–Undang Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hingga tahun ini sudah berusia 22 tahun, sebagai provinsi penghasil timah Babel menghadapi permasalahan yang sama dengan provinsi lain yang juga menghasilkan bahan tambang.

Perubahan kondisi lahan paska penambangan meninggalkan lahan lahan kritis dipelbagai tempat di pulau Bangka. Upaya menggembalikan kondisi lahan melalui reklamasi ataupun penghijauan sudah banyak dilakukan, akan tetapi belum juga secara maksimal dapat memulihkan lahan paska penambangan kembali menjadi lahan yang produktif.

Pada hari senin 12 Desember 2022 ketua umum KTNA Nasional M. Yadi Sofyan Noor mengadakan audensi dengan Pj. gubernur provinsi Bangka Belitung Dr. Ir. Ridwan Djamaludin, M.Sc di rumah jabatan gubernur, ada beberapa hal menarik yang menjadi bahasan diskusi. Permasalahan lahan paska tambang menjadi pokok pembicaraan. Disampaikan oleh Pj. Gubernur, saat ini ada sekitar 125.000 hektar lahan kritis paska tambang di provinsi Babel. Dan ada sekitar 46.000 hektar lahan kritis asset milik pemprov yang kalau dikelola bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, peternakan atau perikanan sesuai dengan kondisi lahannya.

“Silahkan KTNA untuk Menyusun program pemberdayaan  lahan kritis, supaya petani bisa memanfaatkan untuk berusaha tani”, ujar gubernur. Tentunya untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan teknologi, bagaimana bisa memperbaiki lahan kritis sehingga bisa kembali dimanfaatkan untuk bertani atau beternak.

Sementara itu Jawarno KS, S.Ip ketua KTNA provinsi Babel yang mendampingi ketua umum KTNA nasional menyampaikan, perlunya pilihan alternatif komoditi yang bisa dikembangkan di lahan paska tambang. “Tidak melulu harus Kelapa Sawit, harus ada pilihan yang beragam  tanaman buah buahan seperti alpukat, atau durian jenis yang unggul yang cocok ditanam di pulau Bangka ini”, Ujarnya.

KTNA sebagai organisasi mitra pemerintah siap untuk menyusun program dan melakukan pendampingan kepada kelompok kelompok tani, bila program pemanfaatan lahan paska tambang ini bisa dilaksanakan.

Hal senada disampaikan ketum KTNA Nasional, bahwa salah satu tugas KTNA adalah menjadi pendamping kelompok tani, selain itu juga berperan sebagai jembatan penghubung untuk menyampaikan program program pemerintah kepada kelompok tani di pedesaan atau sebaliknya menyampaikan usulan dari kelompok tani kepada pemerintah melalui dinas teknis terkait.

Kunjungan Pj. Gubernur ke Lahan Paska Tambang

Sesuai aturan pemerintah para pemegang izin pertambangan wajib melakukan kegiatan reklamasi yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, memperbaiki kualitas lingkungan, dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sementara kenyataan di lapangan penambangan illegal juga mengakibatkan kerusakan lingkungan, menciptakan lahan kritis dimana mana.

Upaya untuk memperbaiki lingkungan paska tambang juga telah dilakukan oleh pemerintah provinsi Babel dengan melibatkan karang taruna, para milenial. Dengan “Gerakan Hijau Biru Babelku” kaum muda dilibatkan untuk lebih perduli pada lingkungannya. Gerakan ini dimulai dari Bangka Barat dengan menanam pohon konservasi dan pohon buah di lahan lahan kritis, harapannya Gerakan ini akan terus berlanjut ke seluruh wilayah Babel.

Pengarah Karang Taruna Bangka Barat, Trisno Widodo lebih lanjut  menjelaskan ” Gerakan Hijau Biru Babelku ” yang dilaksanakan di kawasan kaki Bukit Menumbing, dekat perumahan The Bukit, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat sebagai titik awal untuk memulai Gerakan ini.

Gerakan Hijau Biru Babelku Melibatkan para Siswa dan Karang Taruna

Gerakan Hijau Biru Babelku Melibatkan para Siswa dan Karang Taruna

“Untuk tahap pertama kegiatan penghijauan di Bangka Barat, total pohon yang telah ditanam sebanyak 16.750 bibit pohon, rinciannya 400 bibit pohon pelawan, 50 alpukat, 150 kopi, 150 jeruk serta 16.000 pucuk merah” ujar Trisno. Akan ada lebih banyak lagi bibit pohon yang disediakan untuk melaksanakan ”Gerakan Hijau Biru Babelku”.

Selain penanaman secara bersama, Gerakan ini juga akan membagikan bibit pohon buah buahan melalui siswa sekolahan untuk ditanam di pekarangan rumahnya masing masing. (admin)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga