Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

BRIN Bahas Bisnis Peternakan Masih Lumpuh Meski Ekonomi Tumbuh

ktnanasional – JAKARTA. Saat ini ekonomi makro mengalami pertumbuhan sebesar 5%, sektor pariwisata telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca pandemi Covid-19, dan beberapa sektor komoditas pertanian juga tumbuh pesat. Sayangnya, hanya bisnis peternakan masih mengalami stagnasi yang mencemaskan. 

Kondisi ini dikeluhkan oleh banyak peternak yang mengalami kerugian akibat situasi bisnis yang masih lesu. Sektor pariwisata sebagai industri yang cukup banyak menyerap produk peternakan, ternyata belum mampu mendorong pemulihan bisnis peternakan. Demikian penjelasan Puji Lestari Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN pada pembukaan Webinar Risnov Ternak#6 “Ekonomi Tumbuh, Bisnis Peternakan Masih Lumpuh. Ada Apa?”, yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (28/11) secara virtual.

Dirinya mengapresiasi Webinar Risnov Ternak#6 ini yang berkolaborasi dengan Majalah Infovet dari PT. Gallus Indonesia Utama dalam mengangkat isu-isu yang faktual tersebut. Puji mengatakan, “Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dalam pelaksanaan event konferensi internasional, seperti ICFAS ke-3 yang akan diselenggarakan tahun depan dan dapat dikolaborasikan dengan event Indonesia International Poultry Conference (IIPC) yang digagas oleh Tim Majalah Infovet.”

Lebih lanjut Puji mengatakan, bisnis peternakan yang melibatkan produksi daging, susu dan telur menjadi elemen vital dalam memastikan ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat melalui ketercukupan dan keterjangkauan sumber protein hewani. Permasalahan ini perlu perhatian serius dan upaya kolaboratif dari para pemangku kepentingan dalam mencarikan solusi yang tepat bisnis peternakan. 

“Kami berharap melalui webinar hari ini akan ditemukan penyebab stagnasi bisnis peternakan dan dapat dicarikan solusi terbaik agar tahun depan bisnis akan kembali pulih,” ujar Puji mengakhiri.

Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Tri Puji Prayitno mengatakan setelah pandemic Covid-19, menyebabkan perekonomian dunia lumpuh, sektor industri peternakan masih belum tumbuh seperti yang diharapkan pelaku usaha. Fluktuasi harga produk peternakan masih terlalu tinggi. 

“Sebenarnya kalau harga komoditas ternak naik dan menguntungkan peternak itu sangat bagus, dan kalau harga komoditas ternak murah dan terjangkau yang menyebabkan konsumsi daging masyarakat tinggi itu juga sangat baik untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Tapi yang terjadi adalah masih banyak peternak yang gulung tikar, dan prevalensi stunting di Indonesia juga masih tinggi. Ini tentu menjadi PR kita semua untuk meningkatan pertumbuhan industri peternakan yang menguntungkan semua pihak,” jelas Tri.

Lebih lanjut Tri Puji Priyatno mengatakan bahwa saat ini kita sedang berjuang untuk menurunkan prevalensi stunting nasional menjadi 14% pada tahun akhir tahun 2024. “Prevalensi stunting saat ini di angka 21,6%, masih di atas standar WH) yang harus 20%. Persentase stunting Indonesia juga lebih tinggi dibanding negara-negara Asean lainnya, seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Thailand,” rincinya.

“Sektor industri peternakan menjadi kunci penting dalam penyediaan protein hewan yang mencukupi dan terjangkau bagi masyarakat untuk mengatasi permasalahan stunting. Mudah-mudahan pada webinar ini kita bisa berdiskusi mencari solusi untuk meningkatkan pertumbuhan industri peternakan ke depan,” harap Tri Puji menutup sambutannya. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga