Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Budidaya Semangka Gantung

ktnanasional – JAKARTA. Pekebun semangka di Taiwan Chen Tung Yin, menanam semangka gantung. Ya, buah semangka menggantung di udara, 40—100 sentimeter di atas permukaan tanah. Ia merambatkan tanaman pada seutas tali hingga ketinggian 175 cm.

Ia menanam Citrullus lanatus di atas guludan berukuran 2 m x 100 m. Setiap guludan berisi 2 baris tanaman. Jarak tanam 40 cm x 40 cm. Semangka gantung itu berada pada rumah tanam atau greenhouse.

Pemasangan tali rambatan pada kerabat mentimun itu sejak penanaman di lahan. Yin membuahkan semangka di ketiak tanaman pada urutan ke-8—12 karena ruas itu kuat. Ia menyiram 3—5 hari sekali dengan menggenangi parit di antara dua guludan. Menurut Yin air penting untuk pertumbuhan buah agar tumbuh optimal.

Pada setiap tanaman, Yin membuahkan 2 semangka merah dan tanpa biji. Lima puluh hari sejak muncul fruitset atau bakal buah, ia memasang jaring longgar sehingga tak mengganggu perkembangan buah. Ketika buah membesar, jaring itu tetap dapat menampungnya hingga buah siap panen, yakni 60 hari setelah tanam.

Buah semangka gantung dengan menggunakan jaring. (Trubus/ Riefza Vebriansyah)

Saat panen bobot buah semangka kekasih itu berkisar 1,5—2 kg. Dinamakan kekasih karena ukuran buah semangka itu pas untuk 2 orang. Yin beralasan menggantung buah semangka untuk menghindari busuk buah akibat cendawan Phytophthora capsici.

Menurut ahli tanaman Prof.  Sobir Ph.D., budidaya semangka gantung membuat warna kulit lebih merata. Pasalnya seluruh permukaan kulit terpapar sinar matahari secara langsung. Kulit semangka pun aman dari gesekan atau warna cokelat dari tanah yang bisa merusak kemulusan buah.

Bila pekebun membiarkan buah terhampar di permukaan tanah, berisiko terkena penyakit akibat tertular bakteri atau cendawan seperti bakteri Pseudomonas sp penyebab layu bakteri. Kulit buah kurang mulus bisa menurunkan harga jual di pasaran. Sobir mengatakan budidaya semangka gantung juga praktis.

Pada budidaya sistem konvensional, petani harus membolakbalikkan buah agar penyinaran merata. Tanpa pembalikan buah, maka bagian tertentu yang bersentuhan dengan tanah cenderung pucat.

Dalam satu periode budidaya, setidaknya petani 5 kali membalik buah semangka, pada hari ke 35, 40, 45, 50 dan 55 pascatanam. Sementara pekebun semangka gantung tak perlu melakukan hal itu. Sebab, seluruh permukaan buah mendapat penyinaran merata. (admin)

artikel ini telah tayang di trubus.id

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga