Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Cengkeh, Komoditas Andalan Petani Desa Nyatnyono

ktnanasional – JAWA TENGAH, UNGARAN BARAT. Bagi masyarakat desa Nyatnyono, Cengkeh menjadi komoditas andalan. Walaupun ada komoditas lain seperti kopi dan manggis serta berbagai kendala menghadang, namun cengkeh tidak tergantikan.

Ketua Kelompok Tani Subur Dua desa Nyatnyono, Ali Sub’khan, beserta 82 orang anggotanya tidak surut semangat untuk tetap memelihara tanaman cengkeh mereka. Walaupun saat ini mereka harus beli pupuk non subsidi.   Mereka mengakalinya dengan cara memupuk NPK setengah kebutuhan saja, selebihnya kekurangan NPK dan pupuk Urea di cukupkan (subsitusi) dengan pupuk hayati Nitrobakter racikan sendiri.

Ali dan para petani didesanya  memang mengandalkan hasil  Cengkeh. Kopi Arabika dan Robusta serta  Manggis untuk menafkahi keluarganya.

Dikebun seluas 1.600 m⊃2; milik Ali Subhan, cotohnya. Ia menanam 85 batang cengkeh, 75% sudah produksi. Dikebun yang lain seluas 1.000 m⊃2; ditanami kopi sebanyak 60 batang. Sedang beberapa batang pohon manggis dibiarkan tumbuh disela tanaman cengkeh dan kopi.

“ Kalau di seluruh wilayah kelompok tani “Subur Dua” terdapat 66 ha tanaman cengkeh, 49 ha tanaman kopi dan tanaman buah manggis seluas 14 ha” ujar Ali.

Desa Nyatnyono tempat Ali Subhan bermukim,  merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. T

erletak di lereng puncak Suroloyo, yang merupakan bagian dari Gunung Ungaran, kawasan Nyatnyono terbilang cukup dingin. Dengan ketinggian berkisar 600-800 MDPL, Desa Nyatnyono  menjadi destinasi bagi para ‘turis pencari kabut’.

Desa Nyatnyono, juga  terkenal dari luar daerah sebagai desa wisata religi. Disana ada makam dari Waliyullah Mbah Hasan Munadi dan Mbah Hasan Dipuro, kedua tokoh tersebut merupakan wali penyebar agama Islam di wilayah Ungaran, khususnya Desa Nyatnyono .

Namun ternyata desa ini juga menyimpan potensi emas hijau yang besar. Berada dilereng Gunung Ungaran ( 2.050 m dpl ) yang subur, didesa Nyatnyono tercatat memiliki lahan perkebunan seluas 225,4 ha. Lahan tersebut penuh dengan tanaman cengkeh dan kopi. Masih ada lahan sawah yang ditanami padi dan palawija seluas : 44,88 ha sedang pekarangan seluas 145

Potensi Cengkeh

Menurut Penyuluh Pertanian yang mempunyai wilbin desa Nyatnyono, Sutardi, petani lebih menyukai cengkeh jenis Zanzibar pucuk merah.

“Cengkeh  pucuk putih menghasilkan bunga yang besar-besar tapi kopong”.

Hal itu di benarkan Ali Subhan yang mengaku telah mendalami cara pemeliharaan cengkeh selama bertahun-tahun. Dia bahkan sudah dapat menebak ciri-ciri bibit cengkeh yang bakal ber produksi bagus.

“ Tanaman bibit tersebut harus mempunyai percabangan yang menyudut keatas. Lalu mempunyai daun yang tebal dan warna merah pada daun yang berada di pucuk tanaman, benar-benar merah tegas dan segar. Kalau daun pucuk  berwarna merah muda, tanda  kurang baik, ” ungkapnya..

Rata-rata per batang tanaman cengkeh di kelompok tani Subur Dua pada umur 10-15 tahun,  dapat menghasilkan produksi 10 – 15 kg bunga kering. Tanaman sudah mulai berbunga umur 4-5 tahun, tergantung cara perawatan.

Satu hal penting yang dipegang Ali adalah, jangan sampai mahkota daun cengkeh saling bertabrakan.

“Jarak tanam dikebun kami umumnya  4 – 7 m, namun dijaga apa bila tanaman cengkeh bertumbuh kemudian mahkota daun sudah bertemu, maka harus ada penjarangan tanaman.” jelas Ali.

Pemupukan dilakukan setahun sekali pada awal musim penghujan, berupa pupuk kandang 7 – 10 kg per batang pada tanaman umur 3 th. Dosis ditambah 1 kg setiap umur tanaman bertambah 1 tahun.

Menurut penglaman Ali, bila terlalu banyak pupuk kandang, justru mengundang hama dan penyakit.

Sedang pupuk kimia berupa pupuk NPK  pada tanaman muda ½ kg. Sedang pada tanaman umur 15 tahun sebanyak 3-4 kg,  ditambah pupuk Urea tiap 1 batang sebanyak 5 kg.

Namun dengan adanya pembatasan kuota pupuk bersubsidi, dimana tanaman cengkeh tidak termasuk didalamnya. Maka para petani di kelompok tani Subur Dua mensiasatinya dengan membagi jatah pupuk bersubsidi untuk tanaman kopi. Setengah digunakan untuk tanakan kopi setengahnya lagi untuk tanaman cengkeh.

Sedangkan kekurangan untuk masing-masing tanaman dicukupi dengan pupuk hayati Nitrobakter.

Ali Subhan bersama 20 orang ketua kelompok tani, diundang BPP Ungaran Barat untuk mengikuti pelatihan pembuatan dan penggunaan pupuk Nitrobakter pada Pelatihan tanggal 12 bulan November tahun 2023.

Para petani maju ini dilatih cara pembuatan biang Nitrobakter serta turunannya yang berupa POC (Pupuk Organik Cair) dan Pesnab (Pestisida Nabati).

Setelah dicoba untuk tanaman cengkeh, ternyata dampak pemupukan cepat terlihat.

“Dalam waktu 3 hari daun cengkeh kelihatan lebih hijau dan tebal” ungkapnya.

Ali mengaplikasikan Nitrobakter dengan cara cara : 3 – 4 tutup botol dilarutkan dalam  12 lt air, lalu disemprotkan ke tanah sekitar pohon.

Tentang gangguan hama penyakit yang biasanya terjadi adalah hama uret dan semut merah pada tanaman muda. Para petani mengatasinya dengan menyiram tanaman menggunakan larutan 1 kg garam grosok ditambah sedikit “Decis” ½ tutup botol dengan air 24 liter. Disiramkan disekitar tanaman.

“Dulu pernah muncul wabah penyakit Cacar Daun Cengkeh, tetapi segera dapat diatasi dengan  bantuan dari Distanbun provinsi Jawa Tengah” kata Sutardi.

Sekarang muncul gangguan baru yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Yaitu serangan hewan monyet dan hewan landak. Ratusan monyet secara bergerombol merusak tanaman cengkeh dengan cara menggaruk kulit batang dan mematahkan cabang-cabang tanaman cengkeh.

Diduga gerombolan monyet tersebut keluar dai habitatnya di hutan yang berada diatas desa, akibat tiadanya makanan disana.

Sedanghan landak merusak kulit pangkal batang, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu bahkan mati.

Petani mengatasi serangan landak dengan cara membebat pangkal batang cengkeh dengan zak karung  bekas wadah pupuk. Sedang serangan monyet belum dapat cara yang efektif. Paling hanya memasang orang-orangan diatas pohon.

Koordinator Penyuluh Pertanian di BPP Ungaran Barat, Winarni, SP mengatakan bahwa tingkat serangan monyet dan landak tersebut belum diatas ambang kerusakan. Sehingga pemerinyah belum mengintervensi, karena sudah dapat diatasi sendiri oleh kelompok tani.

Menurut Ali harga cengkeh sekarang di desa sebesar Rp 136.000,- per kg kering. Cengkeh tersebut dibeli pedagang pengepul yang ada di dusunnya atau yang ada didesa. Musim panen cengkeh adalah musim yang ceria di desa Nyatnyono. Selama 2 bulan masa petik cengkeh suasana desa dan kebun cengkeh sangat meriah. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga