Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Dedi Nursyamsi Ingatkan Peran Penting Petani, Menjelang HKP Kabupaten Ciamis

ktnanasional.com – CIAMIS, Sehari menjelang puncak acara Hari Krida Pertanian (HKP), Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, M.M. yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Dr. H. Tatang, M.Pd mengadakan ramah Tamah dengan Prof. Dedi Nursyamsi Kabadan PPSDMP Kementan RI, M. Yadi Sofyan Noor Ketua Umum KTNA Nasional dan ketua umum PPPSI H. Otong Wiranta di Rest Area Point Ciamis. (02/07/23)

Slamet Budi Wibowo, S.P., M.Si. kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis memberikan laporan pada acara ramah Tamah kali ini. Disampaikan yang hadir pada acara ini dari jajaran KTNA Kabupaten Ciamis beserta jajarannya juga ketua Komisi Penyuluhan Kabupaten Ciamis serta undangan lain.

Sambutan selamat datang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis H. Tatang, wewakili Bupati disampaikan ucapan terimakasih atas penghargaan yang diterima Bupati saat Pelaksanaan Penas XVI di kota Padang.

Selanjutnya disampaikan atas peran BPPSDMP Kementan RI dalam pendampingan petani padi sawah, memberikan hasil yang sangat signifikan. Dari yang biasanya panen per hektarnya 4-5 ton bisa meningkat hingga 9 ton per hektar. Harapannya program ini terus berlanjut sehingga dapat menjadi budaya baru bagi petani komoditi padi sawah.

Kabupaten Ciamis dengan luas 1.595 Km persegi dan terdiri dari 27 kecamatan sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat agraris. Dan komoditi pangan terbesar yang dusahakan masyarakatnya adalah tanaman padi.

Dalam sambutannya ketum KTNA Nasional menyampaikan apa yang paling menonjol dari prestaasi seorang kepala daerah dalam membangun pertanian dalam arti luas di wilayahnya yang menjadi penilaian dari Setmil saat verifikasi lapangan dalam menentukan dapat tidaknya penghargaan, KTNA hanya membantu dalam kelengkapan admnistrasi dan proses pengusulan.

Mengenai Hari Krida Pertanian (HKP), Sofyan berharap kegiatan ini supaya bisa dilakukan oleh kabupaten lainnya. HKP adalah saaatnya memberi apresiasi dan penghargaan kepada pelaku lapangan di dunia Pertanian. Mengapa dilakukan pada bulan Juni, ini karena sebelum pancaroba iklim dan budaya tanam yang masih serentak, panen Raya Padi selalu serentak di bulan Juni. Tanggal 21 Juni juga menjadi titik balik pergerakan matahari dari belahan bumi bagian Utara kembali menuju ke garis Katulistiwa.

“Hari Krida Pertanian merupakan perayaan petani, saatnya bagi pemerintah untuk memberikan apresiasi dan penghargaan kepada petani”, pungkas Sofyan.

Sementara itu Ketua Umum Perkumpulan Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia (PPPSI) Otong Wiranta, melaporkan hingga saat ini telah terbentuk 19 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPPSI di seluruh Indonesia. Ketum PPPSI kepada Kabadan BPPSDMP juga menyampaikan usulan untuk kembali menghidupkan kursus kepemimpinan guna membentuk karakter pemimpin pada pengurus KTNA dan PPPSI.

Penyangga Tatanan Negara Indonesia

Presiden pertama Indonesia memberi istilah khusus untuk PETANI, yaitu Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Istilah ini disampaikan Bung Karno pada 1952 saat menggalakkan swasembada pangan sebagai penjamin stabilitas nasional.

Prof. Dedi meyampaikan kalau Pertanian sudah terbukti paling tahan didera berbagai musibah, selama 2 tahun pandemi Covid 19 pertanian masih bertumbuh positif disaat sektor lainnya tumbuh minus. Presiden RI Joko Widodo menyatakan pertanian menjadi bumper gempa tsunami covid yang melanda Indonesia. Bahkan pertanian mampu menyangga pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejarah 1965 menunjukan El Nino pada saat itu mendera menurunnya produksi pangan mnasional yang berdampak pada krisis pangan. Kekeringan Panjang menjadikan Indonesia pada saat itu krisis pangan. Ujung dari krisis ini adalah jatuhnya pemerintahan orde lama.

Kejadian kedua, El Nino tahun 1997 dan berulang memacu Krisis multi dimensi, sehingga terjadi reformasi kepemimpinan nasional. Awalnya krisis pangan yang diikuti krisis moneter. Rupiah terjerembab, sehingga pemerintah untuk membeli beras saja tidak bisa. Dari krisis moneter menjadi krisis sosial, hingga tumbangnya orde baru ditahun 1998.

Bila pertanian terganggu resiko yang akan mendera bangsa ini sangat besar dampaknya, hingga dapat menjatuhkan pemerintahan. Wajar kalau El Nino melanda harus menjadi perhatian serius pertanian dalam arti luas. Betapa besarnya peran petani, peran KTNA untuk menopang keutuhan negara kesatuan RI. Meskipun saat ini perhatian pemerintah kepada pertanian sangat bervariasi.

“Alhamdulillah pemerintah Kabupaten Ciamis konsisten dalam membangun pertanian, wajar kalau Bupatinya mendapatkan penghargaan Pesiden”, Kata Prof. Dedi.

Selanjutnya Prof. Dedi menyampaikan prediksi BMKG jika akhir tahun 2023 ini El Nino sudah melemah. Tetapi yang terpenting adalah antisipasi, adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi El Nino. Sesuai komitmen bersama yang dibuat di Padang antara KTNA Nasional dan Kementerian Pertanian agar bersama sama bersiap menghadapi El Nino.

Jelas datangnya El Nino akan berdampak pada produktivitas pertanian. Semua komponen pertanian seperti KTNA, HKTI, PERHIPTANI, PPPSI, P4S serta Petani milenial harus secara bersama menghadapi El Nino.

Dari dua kali pengalaman sejarah pergantian pemerintah yang diawali dengan menurun drastis produksi pangan nasional. Sudah terbukti PETANI pada saat pandemi melanda Indonesia selama 2 tahun, menjadi Penyangga Tatanan Negara Indonesia.

Salah satu komponen terpenting dalam peningkatan produksi pertanian adalah suport pemerintah daerah. Pimpinan daerah melalui kebijakan pertanian di daerah nya akan berpengaruh besar pada kemajuan pembangunan pertanian. Jadi sudah sepantasnya seorang bupati yang berpihak pada pembangunan pertanian mendapatkan penghargaan dari Presiden

“Jadikan HKP untuk konsolidasi insan pertanian di kabupaten Ciamis, satukan persepsi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang sama”, tutup Prof Dedi. (mh)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga