Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

Dentuman Kembali ke Pertanian Alami

ktnanasional.com-Jakarta, Sejak krisis pangan pada 2008, yang kemudian disusul dengan peristiwa pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, dan persaingan ekonomi antara China dan Amerika Serikat yang terus berlanjut, kian memperlihatkan telah terjadi ketergantungan dalam memproduksi dan mendistribusikan pangan. Tak ayal situasi tersebut selalu meletupkan isu ancaman krisis pangan dan kelangkaan pupuk. Menanggapi ini, pemerintah telah berupaya melakukan berbagai langkah antisipasi yang dilakukan melalui kebijakan peningkatan produksi pangan dan pembenahan distribusi pupuk kepada petani pada 2023 ini.

Pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang meningkat patut diakui telah mengakibatkan kerusakan alam. Membuat tanah semakin tidak subur, dan benih lokal semakin langka. Demikian juga ketergantungan akut pada bahan-bahan pertanian yang berasal dari luar (external input), dan berbagai kerusakan ekosistem lainnya. Termasuk yang menyangkut kesehatan manusia (food safety). Kerusakan itu ditandai tatkala Revolusi Hijau dijalankan setengah abad lalu. Oleh karena itu, diperlukan suatu transformasi kembali model pertanian, dari pertanian yang bergantung dari pupuk kimia dan pestisida, atau disebut pertanian konvensional, ke pertanian yang agroekologis/organik/alami.

Tantangan sudah di hadapan. Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa pada pertengahan 2023, diprediksi Indonesia mulai memasuki musim kemarau, dan akan muncul fenomena El Nino—fenomena pemanasan suhu muka laut. Maka dari pada itu, Kementerian Pertanian melalui Surat Edaran tentang Antisipasi Musim Kemarau 2023 dan El Nino lemah, memberikan anjuran kepada petani untuk melakukan tanam padi segera sebagai upaya menghindari kerusakan dan gagal panen.

Kawasan Daulat Pangan

Sebagai langkah cepat, kemudian Presiden Jokowi, Menteri Pertanian, Gubernur Jawa Timur, dan Bupati Tuban menghadiri kegiatan Tanam Padi Serentak Nusantara tanpa menggunakan pupuk kimia di tanah seluas 1.000 hektar Kawasan Daulat Pangan Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur (6/4).

Kawasan Daulat Pangan adalah kawasan yang penduduknya menerapkan konsep Kedaulatan Pangan melalui pemanfaatan kekayaan alam yang ada di sekitar kawasan pertanian secara agroekologi. Sistem pertanian ini terintegrasi oleh, dari, dan untuk masyarakat sekitar dalam upaya penyediaan pangan yang cukup, aman, sehat dan bergizi, serta berkelanjutan.
Kawasan Daulat Pangan menerapkan sistem pangan kawasan yang mencakup penerapan pola distribusi dan tata niaga yang adil, serta dilengkapi dengan kelembagaan ekonomi kolektif melalui koperasi petani. Pembangunan kawasan ini dimulai dari kesadaran petani untuk melakukan transformasi kembali ke pertanian alami. Petani Tuban membuktikan dalam kurun tiga tahun terakhir, produksi padi meningkat dengan penggunaan benih lokal, pupuk, dan bahan-bahan yang dibuat secara mandiri dan alami oleh petani.

Menindaklanjuti kunjungan tersebut, Presiden Jokowi lalu menggelar rapat kabinet terbatas yang turut dihadiri perwakilan petani dan praktisi pertanian organik di Istana Merdeka, Jakarta (27/4). Presiden menekankan, ketersediaan pupuk terkhusus untuk pangan strategis sangat krusial dalam menjamin kedaulatan pangan di tengah tantangan global yang masih berlangsung. Menurutnya penggunaan pupuk organik tak hanya menjawab persoalan kelangkaan dan mahalnya pupuk kimia, tapi juga untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Tanah Air, dan menjaga tingkat kesuburan tanah.

Peta Jalan Kebijakan

Pendapat Presiden sejurus dengan pengalaman praktik pertanian agroekologis di Kawasan Daulat Pangan yang sudah dijalankan SPI Tuban, yang menunjukkan bahwa biaya tanam padi dengan pertanian konvensional tanpa pupuk kimia bersubsidi cukup tinggi sebesar Rp 8,6 juta per hektar. Apabila petani hanya sebagian menggunakan pupuk kimia bersubsidi, biaya usaha tani yang harus dikeluarkan petani sekitar Rp 7,05 juta per hektar. Sementara jika memakai pupuk organik secara menyeluruh, biayanya bisa ditekan hanya Rp 900 ribu per hektar. Perbandingan ini juga mempengaruhi biaya pokok produksi padi. Jika dengan pupuk konvensional petani harus mengeluarkan Rp 5.050 setiap kilogram gabah. Jauh lebih tinggi dibandingkan menggunakan pupuk organik sebesar Rp 3.700 per kilogram.

Atas dasar itu perlu ada setidaknya enam kebijakan yang harus dijalankan pemerintah. Pertama, menerbitkan Peraturan Presiden tentang Penerapan Pertanian Agroekologis/Organik/Alami. Kedua, menurunkan lebih teknis dalam Keputusan Presiden tentang Produksi dan Penggunaan Pupuk Organik. Ketiga, menyusun strategi dan program transformasi dari pertanian konvensional ke pertanian agroekologi/organik/alami. Keempat, memberi dukungan konkret untuk pengolahan dan pemasaran hasil produksi pertanian agroekologi/organik/alami. Kelima, melakukan penguatan Koperasi Petani sebagai bentuk usaha bersama yang menjalankan pertanian agroekologis/organik/alami. Selanjutnya yang keenam, mengembangkan model pengalaman praktik pertanian agroekologis/organik/alami diberbagai daerah.

Penting menjadi perhatian khusus bahwa selama proses peralihan dari sistem pertanian konvensional akan terjadi satu fase penurunan produksi. Meskipun demikian, akan terjadi peningkatan produksi secara perlahan dan bertahap, yang diikuti oleh perubahan perbaikan lingkungan hidup dan ekonomi. Karena dengan pertanian alami, produksi pertanian akan semakin beragam dan kian terintegrasi dengan sumber-sumber ekonomi yang ada di sekitar kawasan pertanian.

Oleh sebab itu, pada masa transisi ini diperlukan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kepada petani, serta dilengkapi dengan pengadaan berbagai peralatan dan bahan-bahan pertanian lainnya sebagai penunjang. Tak pelak, perhatian khusus pemerintah ini bisa dijadikan momentum untuk kembali ke pertanian alami secara sistematis dan masif. Jadi semestinya tidak ada lagi peluang bagi kita untuk mempercayai Food Estate dalam memproduksi pangan secara masal. Produksi pangan sudah seharusnya kita terus percayakan kepada keluarga petani.

Angga Hermanda Ketua Bidang Kajian dan Diklat Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Faperta Untirta)

artikel ini telah tayang di : detik.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga