Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

Di Sumedang, Usaha Komoditas Pertanian Ini Sekali Panen Langsung Terbeli Mobil

ktnanasional.com – SUMEDANG, Pada lingkup usaha pertanian ternyata kembali menjadi usaha yang menjanjikan pada masa kini. Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ada usaha komoditas pertanian sub sektor perkebunan digeluti masyarakat, ternyata sekali panen langsung terbeli mobil.

Ada wanita muda menjadi contoh sukses usaha pertanian sub sektor perkebunan dengan komoditas hasil usaha besar di Sumedang. Pengalaman usaha komoditas perkebunan digeluti warga di Desa Ganjaresik, Kecamatan Wado, membuktikan dirinya memang bisa beli mobil sekali panen.

Nah, usaha komoditas pertanian sub sektor perkebunan apa yang digeluti wanita muda tersebut ? Bahkan, kehidupan wanita itu tampak makmur dengan halaman luas dan bentuk bagus. Di Ganjaresik rata-rata penduduknya usaha pertanian sub sektor perkebunan.

Adalah petualang asal Majalengka, Kang Hakim yang kali ini berkelana ke daerah Ganjartemu, Desa Ganjaresik, Wado, Sumedang menemui seorang wanita muda bernama Lina. Kesehariannya, wanita muda yang sukses dari bisnis komoditas perkebunan itu bertampilan tetap sederhana.

Ketika Kang Hakim menanyakan kepada Lina, dijawab usaha itu adalah perkebunan cengkeh. Menurut Lina, ia sudah menetap di Desa Ganjaresik sejak tahun 2005, dan lebih merasa nyaman tinggal di desa. Dari usaha perkebunan cengkeh, Lina menemukan rejekinya yang makmur.

Lina mengatakan, bisnis andalannya adalah bunga dan batang cengkeh. Setiap musim panen dari kebun cengkehnya memperoleh penghasilan lebih dari Rp 135 juta atau seharga mobil, dari menjual bunga dan batang cengkeh.

Begitu pula daun cengkeh, masih sangat laku disuling jadi minyak cengkeh. Namun bisnis penyulihan daun cengkeh ini dilakukan oleh kakaknya Lina. Minyak cengkeh merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sangat laku di pasar internasional.

Gambaran makmurnya bisnis perkebunan cengkeh di Desa Gajaresik, Wado, Sumedang, dimunculkan Kang Hakim pada YouTube Rizquna Channel, Tinggal Di Hutan Tapi Penghasilan Sultan Setiap Panen Bisa Kebeli Satu Mobil Mamah Muda Hebat, diunggah 9 Juli 2023.

Hanya saja, menurut Lina, belakangan ini di Jawa Barat sudah terjadi kondisi dimana panen raya cengkeh menjadi boleh dikatakan tidak ada lagi. Sebab, kondisi cuaca kini sudah mengalami dampak perubahan iklim, sehingga membuat hasil produksi cengkeh sulit ditebak lagi.

Disebutkan Kang Hakim, di daerah Ganjartemu, Desa Ganjaresik itu sejak lama dijadikan transmigrasi lokal, dan isinya banyak orang-orang TNI Angkatan Laut. Mereka rata-rata memperoleh lahan yang luas untuk bekal hidup, dimana kebanyakan bersama masyarakat setempat adalah perkebunan cengkeh.

Berdasarkan catatan DeskJabar.com, nama Ganjartemu di Wado, Sumedang, dahulunya adalah sebuah unit perkebunan teh dan karet. Namun nama Perkebunan Ganjartemu kini sudah tidak ada lagi, dan boleh jadi kawasan dimaksud yang kini sudah berubah menjadi areal transmigrasi lokal berkebun cengkeh.

Sementara itu, Sekretaris Gapperindo (Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia) Jawa Barat, Agus Sutirman, mengatakan, komoditas cengkeh asal Jawa Barat kini kembali sangat dicari oleh para pembeli.  “Ada karakter khas cengkeh asal Jawa Barat yang diminati para pengguna,” ujarnya.

Diketahui, cengkeh sangat diperlukan sebagai bahan baku obat, bumbu masakan, kosmetik, dan lain-lain, disamping untuk produksi rokok kretek. Kebutuhan cengkeh dunia kembali meningkat, bahkan cenderung terus naik.

Hanya saja, dikatakan, secara umum di Indonesia, termasuk tahun 2023, panen cengkeh sedang masa produksi kecil, atau disebut “panen piit”. Ada kemungkinan, masa panen raya cengkeh baru dialami kembali tahun 2024, dimana jika iklim normal biasanya panen rata cengkeh setiap empat tahun. (admin)

Artikel ini telah tayang di antranwes.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga