Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

DKP Bantul Optimalkan Perikanan Lele Padat Tebar Tahun Ini

ktnanasional – DIY, BANTUL. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul bakal mengoptimalkan budi daya lele melalui perikanan padat tebar di tahun ini. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan produksi lele karena minimnya produksi ikan di Bantul.

Kepala DKP Bantul Istriyani mengatakan, tahun lalu jumlah produksi perikanan budi daya dan tangkap di Bantul masih belum mencukupi kebutuhan ikan di Bantul. Produksi perikanan budi daya dan tangkap di Bantul mencapai sekitar 13.281 ton pada 2023. Dari jumlah tersebut, produksi lele hanya mencapai sekitar 8 ribu ton.
Sementara angka konsumsi ikan di Bantul pada 2023 sekitar 31,3 kilogram per kapita per tahun. Sehingga kebutuhan konsumsi ikan di Bantul sekitar 31.300 ton per tahunnya. Untuk meningkatkan produksi salah satunya dengan teknologi demplot.

“Harus berbasis teknologi, kalau masih semi intensif dengan padat tebar rendah menggunakan pakan pabrikan, pengembangan produksi landai. Kalau dengan padat tebar dengan luas lahan kolam yang sama, produksinya bisa tiga kali lipat,” kata Istriyani saat dihubungi kemarin (14/2).

Menurutnya dengan metode tersebut budi daya lele dapat lebih efektif dan hasil yang didapat lebih optimal. Sebab dengan budi daya lele menggunakan metode tebar rendah hanya dapat diisi sekitar 200 ekor ikan per meter kubik kolam. “Sementara kalau dengan metode padat tebar dapat diisi sekitar 700 ekor ikan per meter kubik,” jelasnya.

Saat ini pelaku pembudidaya lele yang menggunakan metode lele padat tebar masih minim. Dari sekitar 500 Rumah Tangga Perikanan (RTP) budi daya, hanya sekitar 100 RTP yang menggunakan metode tersebut.

Istriyani mengakui kapasitas sumber daya manusia (SDM) pembudidaya lele yang terbatas menjadi kendala dalam penggunaan metode lele padat tebar. Untuk meningkatkan kapasitas SDM pembudidaya lele, DKP Bantul akan memfasilitasi pelatihan budi daya dan pembenihan di tahun ini.

“Budi daya ikan itu wajib diberi ketersediaan benih yang unggul. Kami juga berusaha membina pembenih, jangan sampai kita budi daya ikan tapi ambil benih di mana-mana,” ujarnya.

Selain itu, ada juga pengadaan tiga demplot perikanan lele padat tebar di Kapanewon Srandakan. Untuk pengadaan demplot tersebut alokasi anggarannya dari APBD Bantul 2024 mencapai Rp 51 juta per demplot.

“Lokasi demplot tidak sembarangan, artinya mereka sudah terbiasa melakukan budi daya ikan lele padat tebar. Embrio padat tebar di sana (Srandakan, Red) kami dukung agar pelakunya bertambah. Agar ada peningkatan produksi dan pengentasan kemiskinan,” beber Istriyani.

Sementara itu, warga di Padukuhan Polosiyo dan Gunturgeni, Kalurahan Poncosari, Srandakan, Bantul telah mendirikan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Patil Berkah Jaya sejak 2019. Kelompok tersebut berhasil membudidayakan lele dengan metode padat tebar. “Dengan metode itu setiap satu meter kubik kolam dipakai untuk budi daya lele sebanyak 1.000 ekor,” ujar Ulu-Ulu Kalurahan Poncosari Rian Wijayanto.

Saat ini, lanjutnya, sudah ada sekitar 600 kolam lele yang dikelola dengan metode tersebut. Kelompok tersebut berhasil membudidayakan lele dengan metode padat tebar dengan dikelola oleh BUMDes. “Kami juga akan melibatkan generasi muda yang belum mendapatkan pekerjaan untuk dimasukkan sebagai pekerja di BUMDes tersebut untuk pengelolaan usaha tersebut,” ungkap Rian. (admin)

artikel ini telah tayang di radarjogja.jawapos.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga