Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

Domba Batur, Daya Tarik Upland Project Banjarnegara

ktnanasional.com – BANJARNEGARA. Domba Batur Banjarnegara ternyata memberikan daya tarik tersendiri dalam UPLAND Project. Potensinya yang sangat besar membuat Banjarnegara terpilih menjadi salah satu kabupaten penerima hibah program pengembangan pertanian di dataran tinggi tersebut.

Banjarnegara adalah satu dari 35 kabupaten/kota di Indonesia yang menjadi lokasi UPLAND Project . Program tersebut bekerjasama dengan Islamic Development Bank (IsDB) dan International Fund For Agricultural Development (IFAD).

“UPLAND Project dibiayai IsDB dan IFAD. Di Banjarnegara ada 33 kelompok 23 desa dan 4 kecamatan, meliputi kecamatan Kalibening, Kejawaran, Magetan dan Batur,” kata Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Totok Setya Winarna.

Hibah UPLAND Project tersebut untuk membiayai perbaikan jalan usaha tani sejauh 21 kilometer, pembiayaan pompa kurang sekitar 14 km.  Selain itu, pengembangan kegiatan populasi domba batur untuk di budidaya masyarakat sekitar.  Saat ini populasinya sekitar 9.444 ekor domba batur. Selain lomba Batur, potensi pertanian di Banjarnegara  yakni perkebunan kopi.

Domba Batur adalah domba unggulan khas Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah yang banyak dipelihara peternak di desa-desa di Kemacatan Batur yang berada di dataran tinggi Dieng sejak 1974. Domba Batur adalah hasil dari persilangan domba lokal ekor tipis dan dompa texel.

Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No 2916/ktps/OT.140/6/2011 Domba Batur telah ditetapkan sebagai domba unggulan nasional. Sesuai Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 352/Kpts./PK.040/6/2015 telah ditetapkan sebagai Wilayah Sumber Bibit Domba Batur. Domba batur merupakan salah satu rumpun domba lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Kabupaten Banjarnegara.

Selain mempunyai keseragaman bentuk fisik dan kemampuan adaptasi yang baik, Domba Batur juga potensial sebagai pedaging unggulan serta domba penghasil wool. Domba tersebut merupakan hasil persilangan antara domba merino dengan domba ekor tipis dengan sebaran asli geografis di Kecamatan Batur dan sekitarnya.

Domba tersebut secara turun-temurun dikembangkan masyarakat dan menjadi milik masyarakat Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Saat ini, banyak kelompok peternak di daerah dataran tinggi Dieng yang memanfaatkan wilayah dengan ternak Domba Batur.

Bobot Domba Batur yang `besar menjadi daya tarik utama bagi peternak. Bobot Jantan dewasa dapat mencapai 90 – 120 kg, sedangkan betina 80 – 100 kg. Sebagai penghasil wool, Domba Batur Banjarnegara memiliki warna bulu putih susu, sedikit mengkilap yang hampir menutupi seluruh permukaan tubuh.

Dengan bobot yang cukup besar memberikan daya jual yang tinggi. Kelebihan lainnya, antara lain daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan, sehingga cocok dipelihara di daerah bercuaca dingin, mudah digemukkan, dan mudah dikembangbiakkan. Selain itu, tekstur dagingnya lebih empuk dan kadar lemaknya lebih rendah, kotorannya bisa dimanfaatkan untuk pupuk dan diolah menjadi biogas.

Dengan ciri khas yang tidak dimiliki domba lainnnya, membuat domba Batur menjadi sumber daya genetik ternak Indonesia yang perlu dijaga dan dipelihara kelestariannya. Potensi ekonomi yang sangat tinggi itu beberapa tahun terakhir menjadi perhatian Pemkab Banjarnegara. Saat ini, Pemkab Banjarnegara sudah membentuk UPTD yang menangani pembibitan domba batur.

Selain domba Batur, Program UPLAND yang dimulai sejak 2021 di Kabupaten Banjarnegara mempunyai potensi pengembangan kopi. Petani juga aktif dan memiliki kelompok tani yang sudah terdaftar pada Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Banjarnegara.

Dengan adanya UPLAND project mampu meningaktan produksi domba Batur.

Ada sekitar 24,4 persen wilayah Kabupaten Banjarnegara berada pada wilayah dengan ketinggian di atas 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau wilayah dataran tinggi, terutama di wilayah bagian utara.

Koordinator BPP Kalibening. Heri Misanto mengaku, di daerah binaanya yaitu, Desa Kalibombong, Kertosari, Majatengah dan Gununglangit, budidaya kopi dan beternak kambing sudah biasa dilakukan masyarkat. Namun sebelum kegiatan UPLAND masuk, akses menuju lahan pertanian masih minim dan sulit untuk dilalui.

“Setelah adanya kegiatan UPLAND, petani/kelompok tani sudah mampu sedikit demi sedikit meningkatkan populasi dari kopi maupun domba,” katanya. Selain itu Heri menambahkan dengan akses jalan menuju lahan yang jauh lebih baik dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan nilai jual dari komoditas yang ditanam petani.

Heri mengungkapkan, kehadiran program UPLAND memberikan dampak yang sangat signifikan bagi petani, khususnya yang tergabung dalam beberapa kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Kalibening. Poktan tersebut yaitu, Poktan Lancar Makmur (Desa Gunung Langit), Poktan Tani Mulya 1  dan Tani Mulya 2 (Desa Kalibombong), Poktan Ngudi Rejeki 3 (Desa Kertosari), Poktan Ngudimulyo dan Poktan Tunas Harapan (Desa Majatengah).  

Kegiatan utama program UPLAND di Kecamatan Kalibening yaitu integrasi pengembangan tanaman kopi dan ternak kambing dengan dukungan fasilitasi infrastruktur penunjang. Diantaranya, jalan usaha tani sepanjang 5.200 meter, pembibitan kopi sebanyak 122.500 bibit, kambing sebanyak 198 ekor, kandang sebanyak 6 unit, rumah kompos 6 unit, rumah jemur 3 unit, peralatan pengolahan kopi 3 unit, appo 6 unit, roda tiga 6 unit, hijauan pakan ternak 6 paket.

“Ada juga kegiatan peningkatan kapasitas baik untuk petani maupun petugas, kegiatan penguatan kelembagaan kelompok tani dan korporasi, fasilitasi pemasaran dan pembinaan teknis budidaya kopi dan ternak kambing,” tambahnya. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga