Selasa, 27 Februari, 2024

Artikel Terbaru

EL NINO, BENCANA ALAM, KEMISKINAN DAN KETAHANAN PANGAN

ktnanasional.com – PALU. Fenomena El Nino Tahun 2023 ini merupakan kondisi cuaca yang benar-benar parah mengingat kondisi kemarau dan terjadi peningkatan suhu serta angin yang mempercepat evapotranspirasi penguapan tinggi melalui tanah dan tanaman menyebabkan tanaman pada lahan pertanian tadah hujan dan tidak terjangkau irigasi menjadi layu, kering dan mati.

Dengan suhu yang tinggi terjadi hambatan dalam penyerbukan tanaman dan bahkan menggugurkan bunga-bunga tanaman sehingga dipastikan pada periode berikutnya akan terjadi penurunan produksi pada berbagai komoditi pertanian.

Prediksi BMKG baik di Pusat maupun Daerah bahwa El Nino akan berakhir pada bulan Agustus 2023 sehingga bulan September sudah akan mulai turun hujan ternyata meleset justru bulan September sampai Oktober ini fenomena cuaca lebih parah dengan suhu udara yang lebih tinggi dari biasanya.

Terus BMKG masih memprediksikan lagi bahwa bulan Nopember 2023 ini sudah akan mulai hujan sejauh mana prakiraan ini falid kayaknya sulit untuk diprediksi karena sebagaimana tulisan saya bulan Agustus 2023 baca ” El Nino Harus Disikapi Secara Radikal” bahwa persoalan cuaca/iklim ini sulit untuk diprediksikan dan dikendalikan oleh manusia.

Menghadapi fenomena cuaca seperti ini kami sangat mengharapkan pihak BMKG dan Instanasi terkait dapat turun kelapangan dan lebih cermat dalam memprediksikan cuaca dengan berbagai faktor analisa unsur cuaca/iklim.
Jangan sampai prediksi cuaca oleh BMKG diandalkan hanya pada kira-kira akan terjadi hujan.

Sebaiknya pihak BMKG lebih objektif dalam memprediksi cuaca panas ekstrim saat ini dan menyatakan bahwa fenomena El Nino Tahun 2023 ini akan berkepanjangan dan karena itu maka fenomena ini dikategorikan sebagai “Bencana Alam”.

El Nino ini tidak berdampak hanya pada dataran rendah saja akan tetapi pada dataran tinggi juga mengalami hal yang sama bahkan beberapa danau sudah berkurang volume air dan menyebabkan terganggunya pasokan listrik dari sumber tenaga air menyebabkan pemadaman bergilir.

El Nino saat ini berakibat dampak negatif yang sangat luas dapat dikategorikan bencana alam sehingga para petani yang mengalami gagal panen tentu mengalami kerugian harus diganti rugi oleh Pemerintah minimal mengganti biaya saprodi dan tenaga kerja.
Petani yang gagal panen akibat tidak tersedianya air pada pertanaman akibat faktor alam harus disantuni.

Bila kondisi fenomena El Nino ini dikategorikan bencana alam maka semua anggaran Kementerian dan lembaga serta Dinas-Dinas dan Badan haruslah diprogramkan kembali/direfocushing dengan jalan mengalihkan program dan kegiatan berupa bantuan kepada petani yang mengalami kerugian akibat El Nino dan anggaran harus difokuskan kepada ketersediaan air untuk produksi pertanian.

Memperbaiki jaringan irigasi yang rusak.membangun irigasi yang baru.mengalirkan air dari tempat yang tinggi secara gravitasi ke areal pertanian dibawahnya, membuat jaringan pipanisasi serta dam parit dan membangun sumur dalam serta sumur dangkal dengan tenaga solar cell bahkan harus perlu diadakan hujan buatan.

Tidak boleh ada air yang mengalir terbuang percuma ke sungai dan laut tapi harus dialirkan kelahan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk produksi komoditi pangan.

Refocushing kegiatan biaya perjalanan dinas dan biaya pertemuan serta pengadaan alat dan bangunan yang belum perlu dan tidak mendesak serta pengadaan barang yang bersifat pemborosan bahkan untuk pengadaan benih dan bibit harus dipertimbangkan sesuai dengan daya dukung air dan lahan yang tersedia.

Apa artinya pengadaan benih dan bibit bila air tidak tersedia maka hal ini juga merupakan pemborosan.

Angka kemiskinan di masyarakat bertambah dengan kondisi seperti ini karena daya dukung lahan dan air tidak menunjang untuk para petani menghasilkan produksi dari komoditi apa saja yang dapat menghasilkan pendapatan petani.

Bantuan kepada petani miskin disaat El Nino harus dikeroyok oleh berbagai Kementerian dan lembaga serta dinas dan instansi terkait karena kondisi petani miskin lebih banyak di daerah-daerah yang tidak tersedia jaringan irigasi, kondisi lahannya berada didaerah dataran tinggi dan lahan kering yang sangat rentan oleh kondisi kemarau panjang seperti ini sehingga akan percuma bantuan tersebut bila tidak tersedia air baik dari curah hujan maupun aliran air irigasi.

Ketahanan pangan saat ini mengalami gangguan dengan adanya peningkatan harga beras, sayuran, umbi-umbian serta makanan pokok non beras lainnya.

Para petani dan masyarakat desa lainnya yang tidak menghasilkan beras sangat terasa mahalnya harga-harga bahan pangan. Bila tidak memiliki uang masyarakat miskin didesa akan memakan bahan pangan non beras dari pisang.umbi-umbian dan makanan pokok lainnya demi untuk mempertahankan hidupnya. Akan tetapi masyarakat miskin yang ada di kota sangat tergantung untuk membeli beras sebagai makanan pokok.

Bila kondisi El Nino kemarau panjang seperti ini berlangsung lama maka akan berpengaruh kepada ketahanan pangan tidak saja petani dan masyarakat di desa akan tetapi akan berdampak kepada semua masyarakat sehingga itulah dibutuhkan kecermatan dalam memprogramkan kegiatan dengan memprioritaskan pada ketersediaan bahan pangan dimana ketersediaan bahan pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan air.

Oleh : Ir.Muhammad Adam MM.MSi
(Penulis sebagai Penyuluh Pertanian dan Sekretaris Komisi Penyuluhan Pertanian Provinsi (KPPP) Sulawesi Tengah.)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga