Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

FGD Kementerian Luar Negeri, Peran Diplomasi dalam menjamin Ketahanan Pangan : Peluang dan Tantangan

ktnanasional.com – JAKARTA. Bertempat di kantin Diplomasi telah dilaksanakan Diskusi Kelompok Terfokus dengan tema Peran Diplomasi Dalam menjamin Ketahanan Pangan : Peluang dan Tantangan. Acara yang dibuka oleh Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri, Dr. Yayan G.H. Mulyana, menghadirkan pembicara dari beberapa institusi. Sebagai pembicara hadir Dr James Jordan Guild, dari Rajaratnam School of International Studies (RSiS) Singapura, Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Risfaheri, M.Si, dari Badan Pangan Nasional Republik Indonesia, dan Prof Bustanul Arifin, dari INDEF. (Rabu 22 November 2023)

Edi Suharto, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Isu-isu Khusus dan Analisa Data Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan, Ketahanan pangan, seperti yang kita semua pahami, bukan hanya masalah regional atau nasional, tetapi juga merupakan masalah global yang sangat penting. Hal ini memerlukan investasi strategis dalam kemajuan teknologi untuk mempercepat kemajuan menuju tujuan mulia memberantas kelaparan. Namun, meningkatkan ketahanan sistem pangan kita merupakan tantangan global yang memiliki banyak aspek yang membutuhkan perhatian kita semua.

Tantangan global ini mencakup berbagai faktor, termasuk volatilitas produksi pertanian, menipisnya sumber daya alam, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, seluk-beluk perdagangan internasional, gangguan pada rantai pasokan global, dan kompleksitas lanskap ekonomi dan sosio-politik global yang sedang berlangsung, yang semuanya semakin memperburuk kerentanan lingkungan pangan kita.

“Dalam konteks Asia Tenggara, promosi praktik pertanian berkelanjutan dan strategi adaptasi perubahan iklim yang efektif memainkan peran penting dalam memastikan ketahanan pangan regional”, kata Edi.

Selanjutnya disampaikan, untuk menghadapi situasi tersebut, Indonesia telah melakukan adaptasi yang signifikan terhadap Kebijakan Luar Negerinya, dengan tujuan utama untuk mengatasi dan memitigasi berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kerawanan pangan. Adaptasi ini memerlukan penyelarasan kebijakan dan peraturan dengan tujuan utama untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Secara khusus, kita harus menekankan peran diplomasi, khususnya diplomasi ekonomi, dalam berkontribusi secara aktif pada upaya nasional kita untuk mencapai tujuan terpuji yaitu mencapai nol kelaparan. Para pembicara yang berasal dari berbagai latar belakang, telah memperkaya pemahaman para diplomat tentang bagaimana peran diplomasi dapat membantu mengatasi masalah ketahanan pangan.

Wawasan yang kami dapatkan dari sudut pandang pembuat kebijakan memberikan pemahaman yang sangat penting mengenai hubungan yang rumit antara kebijakan domestik dan diplomasi di bidang ketahanan pangan. Jelaslah bahwa meskipun Indonesia telah membuat kemajuan yang patut dipuji dalam meningkatkan aspek keterjangkauan dalam Indeks Ketahanan Pangan Global (Global Food Security Index/GFSI), kita masih harus bergulat dengan tantangan yang terus berlanjut, yaitu rendahnya ketersediaan pangan akibat ketergantungan yang tinggi pada impor pangan.

Hal ini menggarisbawahi peran penting diplomasi dalam memastikan pasokan pangan yang stabil dan dapat diandalkan, terutama dalam konteks global di mana rantai pasokan pangan saling terkait secara rumit.

Diplomasi, dalam konteks ini, menjadi jembatan yang menghubungkan upaya domestik kita untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan arena global. Hal ini melibatkan pembentukan perjanjian dan kemitraan internasional, negosiasi kesepakatan perdagangan untuk mengamankan komoditas penting, dan menjaga hubungan diplomatik yang memfasilitasi kelancaran arus pangan lintas batas. Pada intinya, diplomasi adalah kunci utama yang menghubungkan upaya domestik kita dengan komunitas internasional, yang mengakui bahwa kolaborasi dan kerja sama sangat penting untuk mengatasi berbagai tantangan dalam sistem pangan global.

Seperti yang dijelaskan dalam diskusi hari ini, Indonesia telah menunjukkan peran penting diplomasi dalam memastikan ketahanan pangan, yang dicontohkan melalui upaya diplomasi Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Ukraina dan Rusia pada tahun 2022 untuk memastikan kelanjutan pengiriman gandum di tengah konflik yang sedang berlangsung.

Selain itu, terdapat peluang-peluang yang menjanjikan di masa depan di mana diplomasi dapat memainkan peran penting:

Pertama, potensi perjanjian perdagangan timbal balik di ASEAN menjanjikan untuk memastikan aliran barang kebutuhan pokok yang tidak terganggu, bahkan selama periode gejolak pasar global.

Kedua, terdapat potensi strategis untuk perjanjian perdagangan yang saling menguntungkan yang melibatkan Vietnam, Thailand, dan Indonesia, negara-negara yang terkenal sebagai produsen beras dan minyak kelapa sawit terkemuka di dunia. Perjanjian-perjanjian semacam itu dapat berfungsi sebagai sarana untuk mempertahankan rantai pasokan yang stabil di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasar.

Wawasan berharga ini menggarisbawahi peran penting yang dapat dimainkan oleh diplomasi dalam mencapai ketahanan pangan baik di tingkat nasional maupun internasional. Kontribusi yang tak ternilai dan komitmen para peserta yang hadir pada hari ini yang tak tergoyahkan untuk memajukan agenda ketahanan pangan global. “Bersama-sama, kita dapat bekerja menuju dunia di mana tidak ada seorang pun yang kelaparan”, Tutup Edi.

Prof. Bustanul Arifin Mewakili Pemakalah Menerima Cinderamata dari Ketua Pelaksana, Edi Suharto

Ketua Umum KTNA Nasional, M. Yadi Sofyan Noor yang juga hadir dalam forum diskusi tersebut menyampaikan pandangannya mengenai ketahanan pangan. Pangan pokok di Indonesia tidak hanya beras, banyak sumber pangan yang dimiliki seperti Sagu, Jagung, Ketela Pohon, Umbi umbian dan masih banyak lagi. Yang harus menjadi perhatian bersama adalah diversifikasi pangan, agar ketergantungan dengan impor bisa dikurangi.

Dan tidak kalah pentingnya adalah kampanye gerakan “STOP BOROS PANGAN”, seperti kita ketahui bersama saat ini negara Indonesia, untuk konsumsi bahan pangan baik di rumah tangga, restoran, perhotelan bahkan sampai di acara hajatan  masih banyak makanan yang terbuang. Sehingga tidaklah mengherankan kalau total timbulan susut dan sisa pangan (SSP) Indonesia per tahun sebesar 23-48 juta ton atau setara dengan 115–184 kg/kapita/tahun.

Sofyan menambahkan beberapa catatan mengenai sumber pangan yang belum digali potensinya di Indonesia. Terutama di sektor Kehutanan, Hutan di Indonesia mempunyai banyak sumber pangan baik sebagai sumber protein ataupun karbohidrat. “Umbi umbian seperti suweg, porang, uwi dan masih banyak lagi yang tumbuh liar dihutan belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan pangan, kalau ini bisa dilakukan kita bisa menekan  konsumsi beras perkapita dan akan surplus beras yang bisa di ekspor”, ujar Sofyan. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga