Jumat, 31 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Gencarkan Pompanisasi, Kementan Dukung Listrik Masuk Desa

ktnanasional – JAKARTA. Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, mendorong penggunaan listrik di wilayah pesawahan untuk meningkatkan tingkat modernisasi dan mekanisasi pertanian, khususnya menggencarkan Pompanisasi.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyatakan bahwa modernisasi peralatan pertanian memerlukan penggunaan energi listrik yang lebih efektif dan efisien. Menurutnya, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa petani cenderung lebih hemat menggunakan energi listrik daripada bahan bakar minyak atau gas untuk proses pertanian di sawah.

Suwandi menjelaskan bahwa sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, mekanisasi pertanian membutuhkan tenaga dan sumber energi yang lebih ekonomis dan mudah diakses, terutama melalui tenaga listrik. Oleh karena itu, Kementan sedang mengembangkan program Listrik Masuk Sawah (LMS), yang di beberapa daerah dikenal sebagai Gerakan Listrik Masuk Sawah (Gelisah).

Suwandi memberikan contoh program listrik masuk sawah dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, di mana lebih dari 17 ribu unit sumur submersible telah dikembangkan melalui inisiatif swadaya petani dan bantuan, untuk mengairi lahan kering tadah hujan. Hal ini memungkinkan petani untuk menanam padi tiga kali setahun (IP300).

Selain di Ngawi, Suwandi melanjutkan bahwa program serupa juga dilaksanakan di Kabupaten Sragen, di mana lebih dari 23 ribu sumur submersible digunakan untuk memompa air dari dalam tanah guna mengairi lahan tadah hujan. Hal ini meningkatkan indeks pertanaman (IP) hingga IP300 bahkan IP400 untuk ribuan hektare lebih.

Suwandi juga menyampaikan bahwa setiap titik sumur submersible mampu melayani lahan seluas 2-30 hektare dengan biaya bervariasi, mulai dari 8 juta hingga 150 juta rupiah, tergantung pada jenis dan ukuran pipa serta pompa, kedalaman sumur, dan faktor lainnya.

Mengenai kekhawatiran akan maraknya pembuatan jebakan tikus yang menggunakan aliran listrik, Suwandi dengan tegas mengimbau petani untuk tidak menggunakan Listrik Masuk Sawah untuk kegiatan yang berpotensi membahayakan.

“Listrik Masuk Sawah harus digunakan untuk menggerakkan mesin pompa air, peralatan olah lahan, mesin pembuatan kompos, alat panen dan pasca panen, serta lampu perangkap hama, dan keperluan lainnya. Saya ingin menekankan larangan keras terhadap penggunaan kawat listrik untuk membuat jebakan tikus sawah karena sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa,” ujarnya.

Lebih Hemat

Tenaga Ahli Menteri Bidang Mekanisasi dan Alsintan, Astu Unadi, menjelaskan bahwa penggunaan listrik untuk menggerakkan mesin pompa air jauh lebih hemat daripada menggunakan bahan bakar lainnya.

Astu menjelaskan bahwa mesin pompa dapat dioperasikan menggunakan beberapa sumber tenaga, termasuk diesel. Biasanya, mesin pompa dengan daya lebih dari 8 house power memiliki diameter pipa yang besar.

“Untuk mesin diesel berdaya 8 house power, dengan harga solarnya sekitar 6.800 rupiah per liter, tarifnya sekitar 22 ribu rupiah per jam. Sedangkan untuk mesin bensin berdaya 5 house power, kebutuhan bahan bakarnya sekitar 1,2 hingga 1,37 liter per jam dengan harga bahan bakar sekitar 10 ribu rupiah per liter,” jelasnya.

Astu juga menyebutkan bahwa saat ini tarif sewa pompa bensin sekitar 13.700 rupiah per jam. Sementara itu, untuk mesin dengan daya yang sama, yaitu 5 house power, jika menggunakan listrik, konsumsi energinya sekitar 3,75 kilowatt per jam. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga