Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

Hadapi El Nino, Ini Siasat Petani Bantul Tanam Bawang di Lahan Berpasir

ktnanasional.com – BANTUL, Dampak perubahan iklim telah membawa kerugian di berbagai sektor, termasuk sektor pertanian. Beberapa faktor iklim yang berpengaruh terhadap budidaya hortikultura antara lain curah hujan, suhu udara, kecepatan angin, dan kelembaban udara.

Dengan adanya informasi prakiraan iklim yang akurat, kemungkinan terjadinya gagal panen dapat dihindari dengan cara menyesuaikan sistem budidaya atau manajemen pola tanam.  Untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, khususnya musim kemarau dan musim hujan pada komoditas hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura melakukan langkah konkret dan terobosan.

Salah satunya teknologi hemat air pada lahan berpasir yang diterapkan petani Bantul. Sumarna, Ketua Telompok Tani Pasir Makmur, Desa Srigading, Sanden, Bantul telah menerapkan teknologi irigasi kabut. Untuk luasan 1.000 meter persegi dibutuhkan waktu 1 jam dengan debit air yang dikeluarkan sekitar 300 hingga 400 liter/menit.

“Irigasi kabut ini juga dapat mengendalikan hama, terutama ulat daun yang menjadi momok petani,” ujarnya. Penyiraman di pagi hari dengan irigasi kabut menurutnya, bisa menghilangkan embun upas.

Di sisi lain ada penghematan biaya, karena selang kabut dengan pemakaian dua musim tanam biaya modal sudah bisa kembali. Nilai usia dari selang kabut ini sekitar lima tahun standar pabrik. Namun sampai saat ini, petani masih bisa memakainya meski sudah enam tahun.  ”Jadi penghematannya sangat banyak, dua musim tanam sudah balik modal, yang empat tahun selanjutnya sudah free,” katanya.

Sugeng Purwanto, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DI. Yogyakarta mengatakan, penerapan teknologi hemat air berupa irigasi kabut, irigasi sprinkler serta sumur dangkal sangat efektif di implementasikan pada  komoditas bawang merah  di lahan berpasir.

Hal ini sangat penting dilakukan mengingat aktivititas pertanian bergantung pada ketersediaan air sepanjang musim tanam. “Petani dapat menerapkan teknologi irigasi tetes dan irigasi kabut untuk antisipasi musim kemarau,” katanya.

Suharto Budiyono, Ka UPTD BPTPH DI. Yogyakarta menyatakan, teknik pengendalian budidaya ramah lingkungan yang telah dilakukan di wilayah Kab Bantul sekitar 200 an Ha bersama petani dan didampingi POPT. Pengendalian ramah lingkungan meliputi budidaya tanaman sehat, perbaikan cara tanam, pemberian agens hayati, penggunaan feromon dan likat kuning serta penanaman refugia.

Sementara itu, Kordinator Dampak Perubahan Iklim, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Agung Sunusi menjelaskan, pihaknya melakukan bimtek yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi petugas dan petani di lapangan. Khususnya dalam pemanfaatan teknologi hemat air dan teknologi tepat guna budidaya bawang merah, khususnya irigasi kabut dan sprinkler pada lahan berpasir di sepanjang pantai parangtritis DI. Yogyakarta.

Menurutnya, saat ini kurang lebih 100 Ha lahan bawang merah akan panen di akhir Juli ini. Bila produktivitas rata rata bawang merah sekitar 10 ton/ha, maka ada sekitar 1.000 ton produksi bawang merah  yang diharapkan bisa menjadi penyangga bawang merah nasional  saat kondisi off season dan antisipasi El Nino.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, pemerintah telah memiliki langkah-langkah preventif dalam menghadapi ancaman dampak perubahan iklim.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, pemerintah telah memiliki langkah-langkah preventif dalam menghadapi ancaman dampak perubahan iklim. Ada tiga strategi kebijakan pembangunan hortikultura terkait perubahan iklim, yaitu antisipasi, mitigasi, dan adaptasi.

Pemerintah katanya telah melakukan pengkajian terhadap perubahan iklim untuk meminimalkan dampak negatif, mitigasi untuk mengurangi resiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Kemudian, adaptasi melalui penyesuaian sistem alam dan sosial untuk menghadapi dampak negatif merupakan strategi dalam menghadapai dampak perubahan iklim.

”Alhamdulillah, hari-hari besar keagamaan telah berlalu dan tidak ada gejolak. Artinya kita mampu menjaga produksi dan stabilitas harga sehingga petani tersenyum dan konsumen juga bahagia,” kata Anton, sapaan akrab Dirjen Hortikultura.

Prihasto yang juga pakar lingkungan dan agroklimat itu mengungkapkan, melalui pengumpulan data dan informasi iklim dari UPTD BPTPH se-Indonesia adalah langkah nyata dalam penanganan dampak perubahan iklim.  Selanjutnya berkoordinasi dengan BMKG tentang prakiraan cuaca untuk 4 bulan ke depan dan antisipasi ketersediaan air hujan.

Selain itu, menyusun Early Warning System (EWS) manajemen pola tanam ke dinas pertanian se-Indonesia. Kemudian berkordinasi dengan perguruan tinggi dan instansi terkait informasi daerah rawan kekeringan dan kebanjiran.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Jekvy Hendra menyampaikan, pemerintah telah berupaya mengamankan produk hortikultura melalui strategi adaptasi dan mitigasi. Sasarannya, lokasi kampung hortikultura yang rawan terkena dampak perubahan iklim (kekeringan dan kebanjiran).

Komponen kegiatan fasilitasi dampak perubahan iklim pada tahun 2023 seluas 325 Ha ini. Fasilitasi berupa pompa, teknologi hemat air (irigasi tetes/sprinkler/kabut), teknologi panen air (embung, sumur dangkal, sumur dalam), pipanisasi dan penampungan air sementara ini diharapkan bisa meningkatkan pengamanan produksi hortikultura. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga