Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

HAK PETANI HIDUP SEJAHTERA

ENTANG SASTRAATMADJA

ktnanasional.com – Bohong besar kalau setelah 77 tahun Indonesia merdeka, ada yang menyimpulkan sebagian besar petani telah hidup sejahtera dan bahagia. Petani, khusus nya petani berlahan sempit, tampak masih hidup sengsara dan penuh dengan penderitaan. Kemiskinan yang mendera kehidupan nya, menjadi ciri utama gambaran petani di Tanah Merdeka.

Menjadi petani dalam suasana kekinian, khusus nya petani padi, bukanlah profesi yang menjanjikan. Peluang untuk dapat hidup sejahtera dan bahagia, seperti nya masih tertutup rapat. Jangankan bisa menabung untuk hari tua, sekedar untuk menyambung nyawa kehidupan saja, para petani perlu banting tulang habis-habisan.

Kondisi yang demikian, tentu tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Jangan biarkan kemiskinan dan kelaparan menyergap kehidupan nya. Petani sudah saat nya mendapat perhatian yang lebih serius agar kehidupan nya menjadi lebih baik. Bangkit Mengubah Nasib merupakan “spirit fighting” yang sepatut nya digaungkan terus menerus.

Kualitas hidup para petani yang sebagian besar hidup dibawah garis kemiskinan, memberi gambaran kepada kita, petani di negeri ini masih butuh perlindungan dan pembelaan yang maksimal. Pemerintah jangan sampai melupakan hal yang seperti ini. Jangan biarkan petani dengan kesendirian nya. Ayo lindungi para petani.

Banyak pengalaman ada nya oknum-oknum yang ingin meminggirkan petani dari pentas pembangunan. Mereka biasa nya ingin mengambil keuntungan yang sifat nya sesaat. Dengan dalih yang macam-macam, mereka banyak turun ke desa untuk “mengintip” lahan pertanian mana saja yang paling menguntungkan bila dialih-fungsi dan dialih-kepemilikan.

Tidak sedikit para petani yang tergiur dengan iming-iming tersebut. Tanpa pikir panjang, petani langsung melepas lahan yang dimiliki nya untuk diganti dengan segepok uang yang cukup besar. Resiko nya petani kehilangan lahan milik nya. Untuk sesaat mereka dapat bersuka ria, namun dalam jangka panjang petani terpaksa jadi “ngahuleung jentul”.

Menyedihkan ! Kedaulatan petani atas lahan yang dikuasai nya, terpaksa harus diberikan kepada orang lain yang jelas-jelas bukan petani. Mereka sering disebut sebagai Juragan Tanah. Hilang nya kedaulatan ini betul-betul sebuah tragedi kehidupan. Sebab, dalam mengarungi kehidupan selanjut nya mereka harus menjadi petani buruh demi melanjutkan kehidupan nya.

Sesuai dengan konstitusi, para petani sebagai warga bangsa yang merdeka, memiliki hak untuk hidup layak dan sejahtera. Sebagaimana sering dipertontonkan oleh para penikmat pembangunan, seperti menggunakan Jet pribadi atau mengendarai Moge sekelas Harley Davidson, para petani pun tidak diharamkan untuk dapat merasakan nya. Sayang nya, hingga kini para petani masih harus menjadi penonton saja.

Di negeri ini, tidak dilarang kalau ada orang kaya yang pamer kemewahan. Seorang pejabat publik yang mau pulang kampung menggunakan pesawat Helikopter pun, mangga-mangga saja. Mau nyewa “pengawal” sehingga suara sirine mobil nya berbunyi memekikan telinga rakyat, silahkan saja. Selama mereka punya uang untuk membayar nya, apa pun dapat ditempuh nya.

Catatan kritis nya adalah apakah mereka itu tidak malu hati, jika ditengah keprihatinan sebagian besar warga bangsa, malah mempertontonkan gaya hidup yang jauh dari perilaku kerakyatan ? Apakah mereka itu sudah menutup mata dan telinga, bila disekeliling kehidupan nya masih banyak warga bangsa yang kesusahan mencari sesuap nasi ? Apakah mereka pun sengaja melupakan pola hidup sederhana ?

Jawaban nya tegas, mesti nya tidak ! Mereka ini umum nya orang terpelajar. Mereka tahu betul, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Itu sebab nya, menjadi sangat terlalu, kalau perilaku mereka menyimpang dari apa yang diamanatkan falsafah hidup bangsa. Kiprah yang diperlihatkan mereka benar-benar memuakkan. Kepekaan rasa selaku anak bangsa, sudah terkalahkan oleh gaya hidup yang hedonis dan sofistikasi.

Yang penting lagi untuk diingatkan apakah mereka pun mengacuhkan bahwa di tengah-tengah semarak nya pembangunan, ternyata masih bertebaran warga bangsa yang suasana hidup nya masih memprihatinkan. Sebagian besar dari mereka itu adakah para petani berlahan sempit dan tuna tanah. Dalam bahasa keseharian, mereka sering disebut selaku petani gurem dan petani buruh.

Nelangsa nya nasib dan kehidupan mereka, mesti nya dapat mengetuk nurani para penikmat pembangunan. Cukup memalukan jika para penikmat pembangunan ini hanya mengutarakan kepuasan pribadi atau keluarga nya semata. Akan lebih baik, jika mereka pun mampu menyesuaikan gaya hidup nya kepada suasana yang kini tengah dirasakan oleh sebagian besar warga bangsa yang masih kurang beruntung dengan ada nya pembangunan ini.

Arti nya, bila mereka ini memang tidak memiliki niat untuk mensejahterakan para petani, mesti nya mereka memiliki kemampuan untuk mengatur hawa nafsu nya. Mereka mesti nya mampu hidup sederhana dan penuh kesahajaan. Mereka pasti bisa secepat nya menenggelamkan syahwat untuk hidup berfoya-foya. Kata kunci yang utama adalah apakah ada niat untuk menjalankan nya ? Pencerahan Presiden Jokowi dihadapan petinggi Polri belum lama ini, ada baik nya dijadikan bahan permenungan bersama.

Sekira nya para penikmat pembangunan memiliki kemauan untuk ikut mempercepat kesejahteraan petani, sesungguh nya banyak hal yang dapat digarap. Yang jadi soal, jika niat itu memang tidak ada. Bukankah akan lebih indah jika sebagian kenikmatan itu diberikan kepada petani ? Tinggal kini kita cari terobosan cerdas untuk menerapkan semangat yang mulia ini. Ingat petani pun punya hak untuk dapat merasakan nikmat nya pembangunan. Jangan lupakan itu ! (PENULIS, KETUA DEWAN AHLI KTNA JAWA BARAT).

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga