Minggu, 21 April, 2024

Artikel Terbaru

Harga Beras Naik, KTNA Indramayu: Stok di Gudang Petani Masih Ada

ktnanasional.com – JABAR Indramayu.   Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menyebut stok beras di gudang petani masih tersedia dan akan dikeluarkan menjelang panen. Harga beras yang naik di pasaran belakangan ini pun diperkirakan akan turun lantaran akan masuk masa panen padi.

Menurut Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, para petani yang memiliki area sawah luas selama ini menyimpan gabah di gudang mereka. Simpanan gabah dikeluarkan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi harga gabah di lapangan.

“Stok di gudang petani itu tidak terdata oleh pemerintah. Selama ini pemerintah hanya melihat stok di gudang Bulog saja. Akhirnya, saat stok di gudang Bulog minim, pemerintah melakukan impor. Padahal, stok gabah di gudang petani sebenarnya banyak,” kata Sutatang kepada Republika, Jumat (3/2/2023).

Sutatang mengatakan, petani cenderung memilih menjual gabah kepada tengkulak. Pasalnya, kata dia, selama ini harga pembelian pemerintah (HPP), saat penyerapan hasil panen petani oleh Bulog, lebih rendah ketimbang harga yang ditawarkan tengkulak.

Menurut Sutatang, stok gabah di tingkat petani saat ini memang berkurang karena belum masuk masa panen lagi. Berkurangnya stok membuat harga gabah kering giling (GKG) naik, yang kini berkisar Rp 7.400-7.700 per kilogram. Karena harga gabah naik, kata Sutatang, harga beras di pasaran pun naik. Harga beras termurah di pasaran rata-rata sekitar Rp 12 ribu per kilogram.

”Walau demikian, stok gabah di gudang-gudang petani sebenarnya banyak, dan sekarang mereka akan terus mengeluarkan sisa stok yang ada sampai habis karena sebentar lagi kan mau masuk masa panen. Harga gabah dan beras pasti akan turun,” kata Sutatang.

Tak hanya di gudang petani, Sutatang mengatakan, para buruh tani juga memiliki stok gabah sendiri. Mereka menyimpannya untuk kebutuhan konsumsi sendiri, sehingga tidak membeli beras dari pasar. Menurut dia, para buruh tani di perdesaan sudah menghitung sendiri kebutuhan makan mereka dan keluarganya sampai datangnya masa panen.

Misalnya, kebutuhan makan mereka sebanyak satu karung per bulan. Adapun jeda waktu antara panen terakhir hingga panen berikutnya adalah enam bulan. Dengan hitungan itu, mereka akan menyimpan stok gabah sebanyak enam karung. Gabah tersebut akan digiling menjadi beras secara bertahap sesuai kebutuhan.

Karena itu, Sutatang menilai, isu stok beras sebaiknya tidak perlu dibesar-besarkan. Ia mengatakan, petani tengah menikmati tingginya harga gabah untuk sementara waktu hingga datangnya masa panen. “Itu kan hanya sebentar, paling cuma satu sampai dua bulan,” kata Sutatang.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Tasrip Abu Bakar, juga menilai, isu soal stok beras sebaiknya tidak dibesar-besarkan. “Stok gabah di tingkat heler (penggilingan beras) maupun rumah tangga (buruh tani) masih ada,” ujar Tasrip.

Khusus di Kabupaten Cirebon, menurut Tasrip, sejumlah daerah yang melakukan tanam tiga kali pun sudah melakukan panen pada Desember 2022. Meski luasan areanya hanya sekitar 1.500 hektare, menurut dia, panen tersebut lumayan menambah stok gabah di tingkat petani.

Tasrip pun menyoroti naiknya harga beras di pasaran saat ini. Menurut dia, harga gabah terbilang stagnan sejak Oktober 2022. “Berarti sebenarnya mahalnya harga beras lebih karena sistem pasar,” kata Tasrip.

Tasrip meyakini harga beras akan berangsur turun mulai pertengahan Februari. Pasalnya, para petani di sejumlah daerah mulai memasuki masa panen, termasuk wilayah di Kabupaten Majalengka dan Karawang. (*)

Artikel ini telah terbit di RepJabar

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga