Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

Harga Beras Naik, Tapi Petani di Sragen Tak Ikut Menikmati

SRAGEN — Petani Sragen tidak ikut menikmati keuntungan saat harga beras melambung tinggi hingga Rp12.500/kg. Pasalnya, saat harga beras tinggi, petani Sragen tak memilikigabah atau tanaman padi untuk dipanen karena sudah habis dijual ke tengkulak.

Selain itu, petani tidak bisa menikmati harga beras tinggi karena hasil panen mereka anjlok pada musim panen menjelang akhir 2022 ini.

Penjelasan itu diungkapkan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, saat dihubungi Solopos.com, Jumat (11/11/2022). Dia mengatakan harga gabah kering panen (GKP) yang dipanen dengan combine harvester belakangan tembus di angka Rp5.600/kg sampai Rp5.700/kg.

Kendati harga GKP tinggi, menurut Suratno, hasilnya belum sebanding dengan biaya produksi. Ini terjadi karena hasil produksi padinya anjlok.

“Dulu satu patok sawah itu bisa dijual ke tengkulak dengan harga Rp10 juta-Rp11 juta. Tetapi, sekarang hanya laku Rp2,8 juta per patok karena hasilnya hanya dapat lima kuintal. Padahal hasil panen saat normal pada musim panen sebelumnya bisa mencapai dua ton per patok. Saat harga beras naik, petani di Sragen sudah tidak punya gabah atau tanaman padi,” ujar Suratno.

Ia mengungkapkan tingginya harga beras yang menikmati adalah para pedagang berskala besar. Para tengkulak kecil, menurutnya, belum bisa menikmati harga tinggi karena mereka juga setor barang ke juragannya.

“Seperti beras saya ternyata lari sampai Boyolali. Beras Sragen itu sudah lari ke luar Sragen,” jelasnya.

Terkait anjloknya produktivitas padi di sebagian wilayah di Sragen sudah dilaporkan KTNA ke berbagai pihak. Salah satunya perguruan tinggi dengan harapan akademisi bisa meneliti penyebabnya dan bisa diperoleh solusinya.

“Kami mendapat jawaban dari Universitas Slamet Riyadi Solo. Tim dari perguruan tinggi itu akan berkunjung ke Sragen pada pertengahan November ini sebagai respons atas aduan KTNA,” jelasnya.

Penurunan produktivitas padi menjadi masalah besar bagi petani. Ada petani di Desa Tunggul, Kecamatan Gondang yang hanya mendapatkan 247 kg GKP per patok. “Ada juga yang hanya mendapat 375 kg per patok. Hasil panen paling banyak mencapai 1 ton 360 kg. Hasil panen paling banyak itu pun tidak normal karena kondisi normal hasil panen bisa mencapai 2 ton,” ujarnya.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga