Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Harga Gabah Anjlok, Petani di Jombang Mengeluh, Ini Tindakan KTNA Jatim

ktnanasional.com – JATIM Jombang.   Menjelang  panen raya padi tiba namun para petani ketar-ketir karena harga jual gabah anjlok. Di Kabupaten Jombang, seorang petani bernama Khairul Anam (40), mengeluhkan harga gabah yang turun.

“Anjlok Mas harga gabah. Gabah kering sawah terendah Rp4.700, padahal ini awal panen dan sebentar lagi panen raya,” ujar warga Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.

Anam mengatakan turunnya, harga gabah sudah terjadi sejak sepekan. Belum diketahui pasti penyebabnya, namun ia menilai lantaran jelang panen raya dan cuaca ekstrem di bulan Februari – Maret ini.

“Sudah sejak semingguan lalu. Tapi wes bersyukur lah, tanaman padi tumbuh maksimal. Biasanya kalau cuaca ekstrem gagal panen,” jelasnya, Kamis (9/3/2023) sore.

Petani Jombang berharap pemerintah segera memperhatikan keluhan petani dengan menaikan harga gabah.

“Kalau begini terus ya ngelu Mas, Sedih petani. Masak waktu panen, harga gabah anjlok. Ya harapannya segera diatasi lah pemerintah. Soalnya juga hampir panen raya kan,” tandasnya.

KTNA Jatim Minta Bapanas “Action”

Secara terpisah, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur, Sumrambah merespon. Dia menaruh prihatin dengan kondisi petani saat ini. Selain itu hal tersebut juga menjadi perhatian serius olehnya.

Program MAKMUR salah satu upaya Meningkatkan Pendapatan Petani Padi, sekaligus mengurangi Pupuk Subsidi

“KTNA sudah membuat surat kepada Badan Pangan Nasional, bahwa kita minta secepatnya kepada badan pangan nasional untuk merevisi dari surat edaran yang kemarin di mana harga terendah di angka Rp 4.200 dan di angka tertinggi Rp 4.550,” ungkapnya, Kamis (9/3/2023)

Ia mengaku berdasarkan hitungan KTNA, harga terendah GKP ini sebesar Rp 5.400 per kilogram. Untuk itu KTNA meminta Bapanas untuk segera melakukan revisi harga GKP.

“Kita KTNA sudah menghitung semuanya, sehingga kita meminta kepada Badan Pangan Nasional, sebelum panen raya ini berlangsung untuk memberikan harga terendah kepada petani Rp 5.400,” paparnya.

Ia menjelaskan mengapa besaran harga terendah GKP ini di angka Rp 5.400, hal ini sesuai dengan keperluan biaya tanam hingga panen.

“Kenapa Rp 5.400, semuanya sudah terhitung, sehingga dengan angka tersebut para petani bisa sedikit menikmati hasilnya (panen) dan tidak merugi,” jelasnya.

Ia mengaku khawatir jika harga GKP di tingkat petani di bawah Rp 5.400, petani akan merugi dan para petani mengalami patah semangat untuk menopang kebutuhan pangan nasional.

“Karena kekhawatiran kita kalau harga di bawah Rp 5.400, petani semakin tidak bisa menikmati apapun dari hasil pertaniannya. Maka petani akan mengalami keputusasaan, sehingga sektor pertanian kita tidak lagi memberikan jaminan dan mereka tidak akan ada regenerasi pertanian,” paparnya.

“Surat edaran yang kemarin dikeluarkan Bapanas merupakan salah satu penyebab harga gabah terjun bebas

“Surat edaran itu kami kira salah satu penyebab (turunnya harga gabah), sehingga secepatnya kita perlu melakukan sosialisasi adanya perubahan harga dan penarikan surat edaran kemarin itu harus tersosialisasikan. Sehingga harga gabah panen di petani secepatnya bisa meningkat, kembali, ” bebernya.

Ia menjelaskan KTNA memberikan target pada Bapanas untuk merevisi harga GKP, paling lambat sebelum panen raya dilakukan.

“Target kita sebelum panen raya itu dilakukan, sudah harus ada keputusan. Karena kita tidak pingin kesulitan-kesulitan petani yang sudah luar biasa, seperti perubahan iklim, kesulitan pupuk dan sebagainya justru ditambahin lagi dengan penurunan harga gabah,” pungkasnya. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga