Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

Harga Telur di Lamongan Terjun Bebas Rp 19.000/Kg, Peternak Mengeluh Sebab Biaya Produksi Malah Naik

ktnanasional.com – JAWA TIMUR, LAMONGAN. Harga telur ayam di Lamongan turun drastis jadi Rp 19.000 per kilogram.

Padahal, sebulan sebelumnya harga telur ayam di Lamongan masih cukup tinggi yakni Rp 29.000–30.000 per kilogram.

Kondisi itu pun membuat para peternak ayam petelur di Lamongan mengeluh.

Pasalnya di tengah harga telur jatuh, harga jagung justru naik mencapai Rp 6.500 per kilogram.

“Harga telur kemarin Rp 19 ribu, harga jagung sudah Rp  6,5 ribu per kilogram,” kata Supardi peternak Dusun Sendangsari, Desa Mojosari, Kecamatan Mantup, Lamongan, Kamis (31/8/2023).

Sejak beberapa hari terakhir pun para peternak di Lamongan mengalami kerugian yang tidak sedikit setiap harinya.

Itu terjadi karena biaya produksi ayam membengkak akibat mahalnya harga jagung yang mencapai Rp 6.500 per kilogramnya.

Sedangkan harga konsentrat Rp 495 ribu per zak juga tidak bisa ditekan.

“Kalau bicara BEP itu ya sekitar Rp 21.000 per kilo,” kata Supardi.

Dengan harga jagung ditambah harga konsentrat tersebut, maka harga pokok penjualan atau HPP telur ayam ketemu di angka Rp 25.000–26.000 per kilogram.

Sementara di sisi lain, harga telur ayam terus turun dan anjlok hanya Rp 19.000 per kg.

“Harga tersebut merupakan yang paling rendah sejak beberapa bulan terakhir. Padahal HPP kita dengan rumus harga pakan sekarang Rp 7,3 ribu kali Rp 3,5 ketemu HPP Rp 25 hingga Rp 26 ribu per kilogram, sementara  harga telur Rp 19 tinggal menghitung kerugian per hari,” ungkapnya.

Dengan harga jual telur ayam yang rendah tersebut maka para peternak kesulitan untuk membeli pakan ayam.

Bahkan dengan harga Rp 19.000 maka para peternak belum bisa untuk membayar karyawan, bagi yang memiliki anak kandang (penjaga dan perawat).

Bisa dikalkulasi, HPP Rp 25 hingga Rp 26 ribu per kilogram itu baru bisa nutup pakan plus untuk bayar karyawan, belum lagi ditambah harga konsentrat.

Sementara kondisi harga telur yang berlaku saat ini sangat tidak memihak pada peternak.

Kalau anjloknya harga telur ini berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan peternak kecil atau tradisional akan gulung tikar.

Supardi dan peternak lainnya, Fachrudin berharap pemerintah mencarikan solusi.

Mungkin ada alternatif lain untuk membantu peternak ayam petelor.

“Ini seperti pernah kami rasakan saat pandemi,” katanya. (admin)

Artikel ini telah tayang di Surya.co.id

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga