Kamis, 18 April, 2024

Artikel Terbaru

Hilirisasi Komoditas Pertanian

ktnanasional.com – Hilirisasi komoditas pertanian sudah ada, namun belum mampu memanfaatkan peluang ekspor, menjemput jutaan tenaga kerja produktif serta meningkatkan pendapatan petani. Tidak ada cara lain selain merevitalisasi hilirisasi sistem komoditas pertanian untuk menumbuhkan industri pertanian.

Persoalan klasik yang dihadapi dalam kegiatan hilirisasi komoditas di Indonesia adalah keterbatasan modal dan keterbatasan kemampuan tata kelola, dan dalam beberapa hal menyangkut keberpihakan pemerintah sehingga kegiatan hilirisasi komoditas pertanian strategis terutama di sektor pangan, hortikultura, dan perkebunan belum dilakukan secara efisien dan berskala besar.

Strategis yang dimaksud adalah jumlah produksi komoditas yang dihasilkan dalam jumlah besar namun masih di ekspor dalam bahan mentah dan setengah jadi. Akibatnya nilai tambah tidak terjadi dan yang dirugikan bangsa Indonesia, terutama petani dan pemasukan bagi negara.

Pengembangan hilirisasi beras ditingkat petani kecil masih dihadapkan dengan terbatasnya akses modal dan teknologi hilirisasi, serta regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Jagung juga demikian. Produk industri berbahan jagung relatif masih terbatas.

Hal ini karena produk-produk industri dari bahan jagung umumnya menggunakan teknologi tinggi, sementara kemampuan untuk mengembangkan teknologi tersebut belum sepenuhnya bisa terjangkau oleh petani kecil. Di sisi lain, dengan berkembang industri peternakan menjadikan peran jagung berubah lebih sebagai bahan baku industri dibanding sebagai bahan pangan.

Untuk pengolahan cabai merah, misalnya kemampuan teknologi industri hilirisasinya masih terbatas, mengingat berskala rumah tangga kelemahan seperti rendahnya pengetahuan dan keterampilan SDM dalam pengolahan produk turunan, terbatasnya modal usaha, belum menerapkan standar produk, dan pemanfaatan pasar ekspor masih sangat terbatas karena produk yang dihasilkan kurang kompetitif dibandingkan produk yang sama dari negara lain. Belum lagi tingginya fluktuasi harga bahan baku cabai. Hasil perkebunan rakyat juga demikian.

Parahnya hilirisasi komoditas perkebunan milik BUMN juga sangat rendah. Untuk Sawit, kontribusinya mencapai 27 persen dari total kontribusi pertanian pada PDB yang besarnya 12,98 persen (tahun 2021) jumlahnya masih kecil, harusnya bisa lebih besar jika disebarluaskan. Belum lagi komoditas kakao, karet, kelapa, kopi, dan rempah-rempah.

Hilirisasi memiliki kontribusi penting dalam proses industrialisasi dan peningkatan kesejahteraan petani. Apalagi permintaan terhadap produk-produk hilirisasi pertanian cenderung meningkat. Contoh, industri pengolahan tepung beras menjadi bihun yang dilakukan di Sidoarjo relatif menguntungkan dengan nilai tambah sekira Rp2,617 per kilogram.

Industri pengolahan jagung marning dan emping jagung di Lampung memperoleh keuntungan masing-masing sebesar Rp.732.682/bulan dan
Rp444,285 per bulan.

Nilai tambah pengolahan jagung menjadi emping sebesar Rp26.067 per kilogram, sementara marning Rp5.517 per kilogram. Di Jawa Timur pengolahan cabai merah menjadi saos sambal yang dilakukan PT Tamarin memperoleh keuntungan bersih Rp31,6 juta atau keuntungan bersih sebesar Rp7,786 kilogram per hari. Sementara nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan cabe merah menjadi saos sambal sebesar Rp406,3 per kilogram.

Arah Revitalisasi

Strategi kebijakan revitalisasi hilirisasi komoditas pertanian dapat dilakukan antara lain: peningkatan produktivitas, peningkatan investasi di kegiatan hilirisasi, dan kombinasi antara peningkatan produktivitas dan investasi di kegiatan hilirisasi.

Akan tetapi, dampak kebijakan tersebut terhadap ril GDP, produksi, jumlah ekspor, dan impor relatif lebih besar apabila kebijakan hilirisasi dilakukan bersamaan antara peningkatan produktivitas dan investasi.

Hal ini berarti peningkatan produktivitas dan investasi pada kegiatan hilirisasi merupakan salah satu strategi yang ideal untuk mendorong peningkatan ekspor dan sekaligus menurunkan jumlah impor.

Pengembangan kegiatan hilirisasi akan efisien dan efektif bila kebijakan peningkatan produktivitas di sektor hulunya dilakukan secara simultan dengan peningkatan produktivitas di sektor hilirnya.

Untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilirisasi itu diperlukan dukungan kebijakan pemerintah, misalnya peningkatan kemampuan teknologi industri hilirisasi yang didalamnya sudah termasuk penataan struktur industri hilirisasi, penerapan standar keamanan produk di industri hilirisasi agar lebih berdaya saing yang pada gilirannya akan mendorong perluasan pasar ekspor, pengembangan pendidikan vokasi sehingga dihasilkan SDM yang lebih terampil dan profesional sesuai kebutuhan, dan penciptaan iklim investasi yang kondusif.

Pengembangan kegiatan hilirisasi juga memerlukan upaya-upaya khusus, di antaranya pertama, melakukan industrial upgrading secara bertahap dengan meningkatkan struktur modal dan tenaga kerja. Modal kapital harus terakumulasi lebih cepat dari pertumbuhan tenaga kerja.

Kedua, mengembangkan hilirisasi yang bersifat comparative advantage following (CAF) yaitu mengeksplorasi comparative advantage dengan learning and innovation.

Ketiga, mendorong investasi asing masuk di sektor hilirisasi terutama yang membutuhkan intensif capital and advance technology untuk membawa sektor hilirisasi masuk ke pasar internasional, membangun SDM serta melakukan transfer ilmu pengetahuan.

Keempat, penetapan standar nasional yang sesuai dengan standar internasional serta penguatan infrastruktur standardisasi, antara lain laboratorium uji berstandar internasional.

Kelima, mendorong pengusaha lokal untuk melakukan joint venture dengan investor asing dan melakukan ekspor. (Muhammad Irvan/Wasekjen DPP Pemuda Tani HKTI)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga