Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

INDUSTRI BENIH DAN TEKNOLOGI UNTUK REKLAMASI LAHAN KRITIS

ktnanasional – BOGOR. Upaya perbaikan lahan kritis diharapkan dapat mengembalikan fungsinya sebagai pengatur tata air dan mendukung fungsi produksi lahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia.

oleh : Maryati Ssari dan Ridwan Diaguna

Divisi Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB

Hujan sudah mulai turun. Memasuki bulan Desember-Januari intensitasnya mulai meningkat. Kewaspadaan perlu ditingkatkan, antisipasi kemungkinan terjadinya banjir dan tanah longsor, disertai doa agar tidak terjadi bencana apa pun.

Namun demikian, penanganan terhadap berbagai kerusakah alam yang diakibatkan oleh tangan manusia sudah seharusnya mendapat perhatian lebih sebagai ikhtiar mencegah terjadinya bencana baik di musim kering maupun di musim hujan.

Lahan kritis di Indonesia yang mencapai sekitar 14 juta ha merupakan persoalan yang perlu dihadapi bersama, bukan hanya oleh Kementerian Lingkungan Hidup, tetapi oleh semua pihak yang peduli terhadap kelestarian alam dan keberlanjutan kehidupan.

Upaya perbaikan lahan kritis diharapkan dapat mengembalikan fungsinya sebagai pengatur tata air dan mendukung fungsi produksi lahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia.

Kerusakan lahan banyak terjadi disebabkan oleh penebangan hutan secara liar, penambangan, penggunaan lahan-lahan miring untuk Kawasan pertanian, maupun praktik budidaya tanaman yang tidak bijak.

Kegiatan tersebut berakibat pada kerusakan lahan baik secara fisik, kimia maupun biologi, bahkan mengakibatkan kerusakan kualitas udara atau atmosfer secara luas.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kerusakan lahan-lahan tersebut yang dilakukan secara formal maupun informal, baik oleh pemerintah, lembaga pemerhati lingkungan hidup, maupun masyarakat secara luas.

Penulis ingin memberikan sedikit pemikiran untuk dapat berkontribusi dalam mengatasi permasalahan tersebut, tentu saja dari sepenggal pengetahuan penulis tentang teknologi benih dan budidaya tanaman pada umumnya.

Belajar dari Yacouba Sawadogo (1946-2023), seorang petani di Afrika yang berhasil mengembalikan gurun yang panas, kering tandus menjadi lahan hijau subur kiranya dapat disusun strategi untuk dapat diterapkan pada skala yang lebih luas dan di kawasan-kawasan yang relatif sulit dijangkau.

Data kondisi kerusakan yang ada pada lahan target reklamasi akan sangat bermanfaat meningkatkan peluang keberhasilan program.

Jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi pada tanah kapur tentu berbeda dengan tumbuhan yang beradaptasi di tanah masam, tanah berpasir, atau tanah dengan kandungan logam berat.

Namun secara umum dapat disusun strategi sebagai berikut: penanaman rumput sebagai tanaman perintis disertai inokulasi mikrobiotik dan bahan organik, penanaman tanaman berdaun lebar dari jenis legum dan tanaman sukulen pemanen air dan penambat hara.

Penanaman tanaman perdu dari jenis buah-buahan dan terakhir adalah penaburan benih pohon tahunan atau pohon-pohon hutan.

Rumput liar yang biasa dianggap sebagai gulma dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perintis. Daya adaptasinya yang tinggi di berbagai kondisi, efisiensinya dalam pemanfaatan hara, sifat benihnya dengan tingkat persistensi dormansi yang bervariasi menyebabkan tumbuhan ini dapat dimanfaatkan untuk memulai kehidupan di tanah tandus.

Permasalahannya adalah tidak mudah untuk mendapatkan benih rumput liar (gulma) dalam jumlah besar dan siap tanam. Pemanenan benih gulma dari kotoran ruminansia dapat ditawarkan sebagai solusi.

Pupuk kandang yang selama ini dianggap sebagai penyubur tumbuhnya gulma dapat dikemas sedemikian rupa untuk diaplikasikan menjadi pionir tumbuhnya tanaman di lahan kritis.

Kandungan bahan organik, hara mineral dan mikrobiotik yang menyertai diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan upaya ini.

Pada bagian ini diperlukan teknologi untuk membuat pupuk kandang lebih ringan dan compact sehingga dapat diaplikasikan melalui teknologi penanaman dengan drone untuk dapat mencapai lahan-lahan yang sulit dijangkau.

Menurunkan kadar air tanpa mengakibatkan hilangnya viabilitas benih, kematian pada mikrob probiotik dan kerusakan kandungan biokimia lain dalam kotoran kambing atau sapi perlu dikembangkan.

Material ini perlu dikemas dalam wadah-wadah yang permeable dan degradable sehingga segera memberikan respon berupa tumbuhnya rerumputan dari kantong-kantong tersebut saat hujan turun.

Penyebaran paket benih rerumputan liar ini harus dilakukan pada saat yang tepat. Data iklim dan cuaca perlu diperhatikan sehingga tingkat keberhasilan dapat dioptimalkan.

Saar rrtumputan mulai meluas, berbagai jenis benih dari tumbuhan berdaun lebar yang memiliki pertumbuhan cepat, mampu memanen air dan menutup tanah dengan cepat, serta mudah membusuk dan terdekomposisi menjadi bagian penting untuk mempercepat pembentukan dan penebalan lapisan organic tanah.

Berbagai jenis bayam liar dan tanaman sukulen, serta berbagai jenis legum yang cukup adaptif di lahan sub-optimim, seperti Arachis pintoi dapat dimanfaatkan.

Beberapa jenis tanaman budidaya penghasil biji-bijian dari jenis serealia seperti milet, hotong, sorgum, jagung, dan dari jenis legum seperti kacang hijau dapat mulai disebarkan untuk mengundang kehadiran serangga-serangga penyerbuk dan burung pemakan biji-bijian.

Pemilihan varietas yang tahan terhadap cekaman abiotik akan sangat membantu, demikian pula teknologi invigorasi benih dengan memanfaatkan perlakuan biopriming, coating dan pelletting berbagai agen hayati dari jenis bakteri dan cendawan yang mampu bersimbiosis dengan tanaman dalam meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, meningkatkan efisiensi dalam penyerapan hara, dan percepatan pertumbuhan pada umumnya.

Saat musim hujan mulai berlalu, ketersediaan air tanah menjadi berkurang. Sebagian tanaman mungkin akan layu dan mati, namun variasi yang besar dan pemilihan jenis yang tepat diharapkan masih menyisakan tanaman yang akan bertahan.

Beberapa jenis rumput, bayam liar, dan legum yang memiliki sifat dormansi pada benihnya sangat mungkin akan kembali bersemi pada musin hujan berikutnya.

Meskipun demikian, ada baiknya bila tahap awal kegiatan reklamasi ini dilakukan berulang untuk memastikan sustainability dapat terjaga.

Penanaman berbagai jenis pohon buah-buahan dapat dilakukan menyusul terbentuknya lapisan organik tanah. Kanopi tanaman buah-buahan dengan berbagai ukuran dapat mengurangi run-off karena air hujan sampai ke tanah lebih lambat dan mengurangi kehilangan air tanah akibat penguapan yang tinggi di musim kemarau.

Keberadaan berbagai jenis tanaman akan mengundang serangga, burung, reptile dan mamalia. Jika diperlukan, penangkaran serangga penyerbuk dan binatang lain dapat dilakukan untuk dilepas liarkan di kawasan reklamasi sehingga terbentuk ekosistem baru.

Pengadaan Benih

Tantangan yang dihadapi tentu saja adalah pengadaan dan penanaman benih tanaman buah yang umumnya bersifat rekalsitran. Benih rekalsitran berdaya simpan rendah dan peka terhadap desikasi.

Saat benih disebarkan dan kemudian terpapar matahari maka peluang benih untuk tumbuh menjadi lebih kecil. Teknologi pelletting menggunakan lapisan yang mempu mempertahankan kelembaban perlu dilakukan.

Benih berukuran kecil dari buah-buahan liar seperti rasberry, kersen, cerenai, dan lainnya, menjadi alternatif pionir penanaman buah-buahan di kawasan liar karena ukurannya memungkinkan untuk diberikan lapisan pelindung yang efektif dan sifat liarnya memungkinkan tanaman lebih adaptif.

Tentu saja hal ini tidak menutup kemungkinan pemilihan berbagai jenis tanaman lain yang lebih produktif dan bernilai ekonomi, seperti jambu monyet, mangga, rambutan, alpukat dan sebagainya sesuai agroklimat setempat.

Penanaman pohon keras dari jenis tanaman hutan menjadi bagian akhir dari kegiaran reklamasi bila kawasan akan dihurankan kembali. Penanganan benih secara tepat dengan memperharikan seed behavior-nya sangat menentukan keberhasilan penanaman.

Sebagai penutup, penulis ingin menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat tergantung pada kemauan kita menyesuaikan dengan irama alam, bukan dengan irama kalender peetanggungjawaban anggaran.

Sebuah industri yang secara komprehensif menyediakan semua kebutuhan untuk penanganan reklamasi ini perlu dibangun.

Penyediaaan benih rerumputan, pengumpulan benih berbagai jenis tanaman liar, baik dari hutan maupun kebun-kebun raya yang ada, pembangunan laboratoriun kultur cendawan dan bakteri probiotik untuk mendukung penyediaan benih bervigor tinggi yang dikembangkan dalam satu kawasan dan berproduksi secara berkesinambungan memungkinkan program dapat dilaksanakan mengikuti irama alam. (admn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga