Selasa, 27 Februari, 2024

Artikel Terbaru

JANGAN ANGGAP ENTENG SUARA PETANI

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Terkait dengan “kekuatan suara” dalam Pesta Demokrasi, suara seorang petani dengan suara seorang Presiden, memiliki nilai yang sama. Suara Presiden tidak lebih berharga dari pada suara petani. Begitu pula sebaliknya. Inilah makna demokrasi. Suara setiap anak bangsa dalam Pemilihan Umum, sama nilainya dan diberi penghargaan yang sama.

Dilihat dari penampilan keseharian, sosok Presiden jelas jauh berbeda dengan sosok petani gurem. Presiden sering memakai baju putih celana hitam, sedangkan petani tampil dengan pakaian kebesarannya baju hitam-hitam. Presiden kemana pun dirinya pergi pasti akan dikawal seorang ajudan. Kalau petani, ajudannya itu, ya dirinya sendiri.

Beberapa pejabat publik lain, seperti Gubernur, Bupati dan Walikota misalnya, juga terkena aturan protokoler, kemana-mana mesti dikawal seorang ajudan. Namun demikian, sebagai warga negara, jika dirinya sudah berada di bilik suara dan akan menentukan hak pòlitiknya, maka semua yang mengawalnya tidak boleh ikut masuk ke bilik suara.

Dirinya akan sendirian dan tidak ada seorang pun tahu, siapa yang dipilihnya. Hanya dirinya sendiri dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Termasuk jika dirinya pun tidak memilih siapa pun. Ya, begitulah hidup di alam demokrasi. Dalam hubungannya dengan hak politik, setiap anak bsngsa, diberi kebebasan untuk menggunakan hak politiknya. Tanpa paksaan, tanpa intimidasi.

Dalam setiap Pesta Demokrasi, suara petani dianggap memiliki nilai tersendiri, bahkan bisa mengantarkan seseorang menjadi Wakil Rakyat. Petani, pada jamannya, dinilai sebagai kantong suara yang cukup potensil untuk digarap. Akibatnya wajar, jika banyak politisi yang berusaha untuk merebut simpati para petani. Petani bisa jadi penentu seseorang duduk di Parlemen.

Yang disesalkan, mengapa suara petani hanya dibutuhkan pada saat pelaksanaan Pesta Demokrasi ? Setelah pestanya selesai, berakhir pulalah perhatian terhadap petani. Anehnya lagi, seabreg janji-janji politik yang spiritnya meningkatkan harkat dan martabat petani, hanya gencar disampaikan pada masa kampanye berlangsung.

Setelah para Wakil Rakyat dan Pejabat Publik lain dilantik, jarang-jarang mereka yang masih ingat akan janji politiknya. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaannya. Petani pun demikian. Mereka tetap konsisten bercocok-tanam untuk menghasilkan produksi pertanian. Mereka tidak akan menggugat janji-janji politik yang pernah dikumandangkan para Calon Yang Terhormat.

Kesusahan petani seperti yang tidak terjawab oleh janji-janji politik ketika musim kampanye berjalan. Di waktu musim tanam tiba, petani tetap dihadapkan pada kelangkaan pupuk. Petani bertanya, mengapa Pemerintah seperti yang tidak hirau atas aspirasi petani terkait kebijakan pupuk bersubsidi. Soal ini tak pernah kunjung selesai dan tuntas.

Tidak hanya itu. Pada waktu musim panen datang, petani selalu dihadapkan pada anjloknya harga jual gabah dan beras. Keluhan petani seolah-olah tak ada yang mendengar. Lucunya, ketika harga gabah dan beras melesat diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras, malah banyak yang bersuara agar harganya diturunkan.

Padahal, dengan harga yang terjadi, rata-rata petani padi merasa riang gembira, karena jerih payahnya bercocok-tanam padi, dinilai dengan harga yang pantas. Rasa senang petani ini pun langsung disampaikan para petani kepada Presiden Jokowi, ketika Beliau melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Subang dan Indramayu, Jawa Barat.

Catatan kritisnya adalah haruskah rasa senang petani pupus begitu saja dengan mengembalikan harga gabah dan beras kepada aturan yang ditetapkan selama ini ? Atau tidak, dimana yang akan dilakukan adalah mengkaji ulang HPP dan HET yang selama ini diberlakukan. Ini penting, karena boleh jadi HPP dan HET sendiri, memang sudah tidak sesuai lagi dengan konteks kekinian.

Menghadapi Pesta Demokrasi 2024, kembali kita dihangatkan kiprah para politisi yang ingin merebut simpati raktat. Pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden, tampak getol menyapa segenap komponen bangsa, termasuk para petani. Banyak harapan yang disampaikan. Tidak ada satu pun bahasa kampanye yang pesimis. Begitu juga dengan yang ditempuh para Calon Wakil Rakyat.

Semua calon pemimpin bangsa ini, optimis, masa depan Indonesia akan lebih baik ketimbang masa kini. Mereka bicara soal 2045 yang dikampanyekan sebagai Tahun Emas Kemerdekaan. Maklum pada tahun itulah, kita akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke 100 tahun. Sebuah kurun waktu yang panjang dan sangat bermakna bagi perjalanan suatu bangsa.

 

Semaraknya para politisi yang ingin bertemu dengan para petani menjelang hari pencoblosan, tentu dapat kita pahami. Suara petani dalam Pesta Demokrasi bukanlah suara sembarangan. Jumlah petani sebagai warga bangsa yang cukup besar, dapat menjadi penentu keberhasilan seseorang untuk terpilih jadi Wakil Rakyat dan berkantor di Senayan.

Jangan anggap enteng suara petani dalam menghadapi Pesta Demokrasi. Kalimat ini ada baiknya dijadikan pencermatan bagi mereka yang berhasrat menjadi calon pemimpin bangsa. Suara petani betul-betul sangat berharga. Itu sebabnya, menjadi kesalahan yang sangat fatal jika keberadaan mereka disia-siakan dengan begitu saja. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

ENTANG SASTRAATMADJA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga