Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Kejar Target Swasembada Gula, Ini Strategi Pemerintah

ktnanasional – JAKARTA. Gula menjadi komoditas pangan stratagis yang menjadi target pemerintah untuk bisa mencapai swasembada. Untuk maksud tersebut, Kementerian Pertanian telah menyusun grand strategi untuk mencapai swasembada gula pada tahun 2028.

Kasubdit Tanaman dan Pemanis Lain Direktorat Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Haris Darmawan mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan Perpres 40/2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Pembangunan Kebutuhan Bio Etanol sebagai Bahan Bakan Nabati (BioFuel).

”Dalam  Perpres tersebut pemerintah telah menetapakn swasembada gula konsumsi tahun 2028,” katanya Saat webinar Perkebunan Outlook 2024 dengan tema Strategi Kolaboratif Mewujudkan Peningkatan Produksi Tebu yang digelar Gamal Institute, Selasa, (23/1)

Hitunganya, jika tahun 2023 produksi gula sebanyak 2,27 juta ton, maka tahun 2028 produksinya bisa mencapai 3,46 juta ton. Saat ini luas total areal tebu nasional 504.776 hektar (ha). Dari luasanya itu, perkebunan tebu milik rakyat seluas 298.298 ha. Sedangkan jumlah pabrik gula (PG) sebanyak 58 PG dengan kapasitas 341.600 ton cane per day (TCD).

Untuk mencapai swasembada gula, Haris mengatakan, pihaknya sudah menyusun grand strategi jangka Panjang peningkatan produksi, baik mulai hulu hingga hilir. Dari sisi hulu, pihaknya akan terus berkoordinasi dalam upaya pelepasan areal kawasan hutan yang bisa dimanfaatkan untuk perluasan tebu, kemudian koordinasi penyediaan lahan tebu bisa menggunakan lahan HGU yang terbengkalai.

“Penataan lahan akan kami lakukan, terutama untuk pabrik gula agar membangun kebun sendiri dan kebun rakyat untuk memenuhi kapasitas pabrik berikut sarana pengairannya,” katanya. Begitu juga dalam penyediaan benih akan dilakukan dalam satu manajemen PG dan penataan varietas, termasuk penggunaan varietas unggul (rendemen tinggi).

Saat ini ungkap Haris, Ditjen Perkebunan sedang memproses penerbitan Peraturan Menteri Pertanian tentang Kemitraan Pekebun Tebu dengan Pabrik Gula. Permentan ini  sebagai upaya penguatan kemitraan yang sudah terjalin antara PG dengan petani.

“Untuk mencapai swasembada gula, Direktorat Jendral Perkebunan akan mengoptimalkan 59 persen area perkebunan rakyat. Namun, kami juga menyadari adanya tantangan pendanaan, khususnya terkait bongkar ratoon. Untuk itu, kami akan mendorong pelaksanaan bongkar ratoon melalui anggaran KUR,” ungkap Haris.

Sedangkan dari sisi hilir, lanjut Haris, pemerintah akan meningkatkan efisiensi PG eksisting berbasis tebu dengan merevitalisasi mesin dan penggabungan PG yang tidak efisien. Kemudina melakukan penataan jadwal giling. “Program lainnya adalah pengembangan industri hilir dengan mengembangan pabrik bioethanol dan suplai energi listrik untuk mendapatkan nilai tambah,” katanya.

Untuk PG Rafinasi yang sudah ada saat ini, kata Haris, pemerintah akan mendorong membangun PG baru dan membangun kebun tebu (program ekstensifikasi)serta menjaring Investasi PMDN atau PMA. Proses pembangunan PG baru berbasis tebu direncanakan dalam kurun waktu 3 tahun dari tahun 2025 – 2028.

Haris menjelaskan, dalam pembangunan PG baru akan dilakukan penyiapan investasi melalui BKPM/OSS Pusat dan Daerah serta penyiapan infrastruktur dilakukan pada tahun 2025. Kemudian tahun 2026 program penyiapan benih. Sedangkan penyiapan kebun tebu giling dilakukan pada tahun 2026 – 2027. ”Commisioning Awal untuk mengolah raw sugar dilaksanakan pada awal tahun 2028. untuk commisioning  akhir 2028 untuk mengolah tebu,” katanya.

Untuk menjaga harga gula petani di dalam negeri, Haris mengatakan, harus ada pengawalan dan pengawasan distribusi dan tata niaga, serta masuknya impor gula (RS dan GKP), Impor RS diprioritaskan diberikan kepada PG yang bisa mengolah RS pada periode Jan-Mei sebelum musim giling.

”Perlu adanya alterantif sumber pembiayaan tebu dengan membentuk Badan Pengelola Dana Tebu berupa insentif dari impor gula atau bagi hasil produksi gula. Perlunya pembentukan kembali Dewan Komoditi Tebu/Gula,” tambahnya.

Sementara itu Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN 3 Holding, Mahmudi mengatakan, selama ini produksi gula yang terbatas akibat kurangnya kapasitas produksi dan tingginya usia PG yang memerlukan revitalisasi. Dengan kebutuhan gula mencapai 6,7 juta ton, produksi gula hanya sebanyak 2,4 juta ton.

”Dependensi Indonesia pada gula impor, lebih dari 50 persen mendorong pemerintah untuk menyusun agenda ketahanan pangan untuk mencapai swasembada gula sebelum tahun 2030, yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No 40 Tahun 2023,” katanya.

Sesuai Perpres tersebut, lanjut Mahmudi, swasembada gula konsumsi ditargetkan tahun 2028 dan gula industri tahun 2030. Untuk mencapai swasembada gula dan ketahanan energi tersebut,  industri gula Indonesia harus mengalami akselerasi pengembangan selama 7 tahun ke depan.

Untuk itu kata Mahmudi, harus ada peningkatan luas areal tanam tebu. Jika tahun 2023 seluas 489 ribu ha (180 ribu ha lahan PTPN dan 309 ribu ha lahan non PTPN), maka tahun 2028 menjadi 777 ribu ha (356 ribu ha lahan PTPN dan 421 ribu ha lahan nono PTPN). Kemudian tahun 2030 luas areal tebu menjadi 1,189 juta ha (671 ribu ha lahan PTPN dan 518 ribu ha lahan non PTPN).

Dengan perluasan areal, produksi gula juga meningkat. Jika tahun 2023 hanya 2,5 juta ton, maka tahun 2028 menjadi 4,7 juta ton dan tahun 2030 sebanyak 9,7 juta ton. Peningkatan produksi gula tersebut juga didukung dengan peningkatan rendemen dari 7,3 persen pada tahun 2023 menjadi 11,2 persen tahun 2030. ”PTPN Group berkomitmen untuk memperluas areal perkebunan tebu hingga 176 ribu ha hingga tahun 2028 sebagai bagian dari strategi swasembada gula,” katanya.

Project Manager Agrosolution PT Pupuk Indonesia, M. Burmansyah K, SE., M.FinAn. menegaskan peran perusahaan dalam mendukung swasembada gula nasional. Burmansyah menyampaikan bahwa PT Pupuk Indonesia akan turut ambil bagian dalam budidaya tebu dengan inovasi, membantu petani mendapatkan pupuk yang tepat, serta melaksanakan Program Makmur untuk mendukung pertanian presisi melalui profiling petani dan budidaya tanaman. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga