Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Kelompok Tani Kudus Gunakan Listrik untuk Irigasi Sawah, Lebih Murah dan Efisien

ktnanasional – JAWA TENGAH, KUDUS. Kelompok Tani Desa Sentrokalangan dan Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus berinisiatif melakukan pembangunan sumur dangkal menggunakan bahan bakar listrik dalam proses mengairi sawah. Penggunaan sebelumnya, masih menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Daya listrik yang digunakan di Desa Kedungdowo sebesar 5.500 kwh. Termasuk paling besar dibandingkan dengan Desa Sentrokalangan 4.500 kwh. Hal itu dikarenakan kondisi sumurnya masih longsor.

Bidang Pengelolaan Pangan dan Perkebunan pada Dispertan Kudus, Agus Setiawan mengatakan, saat ini mereka kebanyakan memanfaatkan program dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Berupa program penyaluran listrik masuk sawah. Awalnya, masih memakai diesel dalam proses perairan tanaman.

Baca juga:  Masuki Musim Penghujan, Dispertan Kudus Pastikan Stok Bahan Pangan Aman

“Usai adanya komunikasi dari beberapa masyarakat kelompok tani, ada informasi terkait pemanfaatan program dari PLN. Akhirnya kelompok tani disini berinisiatif untuk mendaftarkan listrik ke PLN,” ungkapnya kepada Joglo Jateng.

Menurutnya, dalam mendorong peningkatan produksi padi, strateginya dengan memanfaatkan Sumber Daya Air (SDA). Kemudian, membangun sumur dangkal memakai sistem yang irigasinya menggunakan pralon. Selain itu, untuk proses pompanisasi diambil dari sumur melalui air.

“Dari situlah dinaikan dari bak penampungan air. Dan alirannya melalui pralon. Tujuannya agar titik sumber menuju petak-petak lahan lebih hemat. Karena kita tahu salah satu faktor sistem permukaan adalah tingkat kebocoran yang tinggi,” ungkapnya

Baca juga:  Masuki Musim Penghujan, Dispertan Kudus Pastikan Stok Bahan Pangan Aman

Nantinya, dengan pola pralonisasi ini, debit bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bisa juga meningkatkan indeks pertanaman, meningkatkan produktifitas dan sebagainya. Usai diubah, dari yang awalnya jenset menjadi listrik ternyata memang lebih murah, lebih efisien, dan simpel.

“Artinya dari segi operasionalnya, segi waktu kebutuhan lebih sederhana dan mudah. Sumur dangkal disini mampu mengairi 20-25 hektar. Sebab, kondisi lahan, kondisi debit, pola titik awal hingga akhir itu mampu mengairi sekitar 10 hektar,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Sidomulyo, Sutiyono menjelaskan, untuk pompa sibel menggunakan listrik. Kini, sudah berjalan satu tahun. Hal itu dinilai lebih efektif. Jika menggunakan BBM, tenaganya akan sukar. Kemudian lebih murah, efektif, dan hemat 15 persen. (admin)

artikel ini telah tayang di joglojateng.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga