Selasa, 28 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Kementan Apresiasi Inovasi Ramuan Alami Pengendali Tikus Bioyoso

ktnanasional – JAWA TENGAH, SUKOHARJO. Kementerian Pertanian RI, melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, terus berkomitmen mengembangkan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Salah satu strateginya adalah dengan meningkatkan perlindungan produksi pertanian dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) menggunakan bahan-bahan alami.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terus giat dalam mensosialisasikan strategi pengendalian tikus, termasuk dengan menyebarkan informasi tentang biopestisida alami bernama “bioyoso” yang dikembangkan oleh petani asal Sukoharjo, Jawa Tengah, yang akrab disapa Mbah Yoso.

Bioyoso merupakan racikan pestisida nabati untuk mengendalikan tikus, yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti umbi gadung, kulit batang kamboja, bekatul, ikan segar, dan ragi tape. Kemenkumham RI telah mengeluarkan Surat Pencatatan Ciptaan Bioyoso dengan nomor register 000590215 sebagai pengakuan terhadap penciptanya, Mbah Yoso.

Sebagai bentuk penghargaan dari Kementan, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, secara langsung menyerahkan sertifikat hak cipta kepada Mbah Yoso pada tanggal 21 April 2024.

Suwandi menyatakan bahwa pemerintah sangat menghargai setiap inovasi dan kreativitas dari petani, petugas, dan masyarakat dalam bidang pertanian.

“Anugerah hak cipta ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi kita semua, untuk mendorong kehadiran para inovator seperti Mbah Yoso dan yang lainnya, yang kreatif dan inovatif dalam mendukung kemajuan pertanian Indonesia,” ujarnya.

Suwandi menjelaskan bahwa ramuan bioyoso terbuat dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan dan gratis. Ramuan ini dapat disiapkan oleh petani secara mandiri atau dalam kelompok, sehingga lebih efektif dalam mengendalikan tikus di lahan pertanian yang luas.

Lebih lanjut, Suwandi menjelaskan bahwa untuk mengendalikan tikus di lahan seluas 5 hektar selama satu musim, petani hanya perlu menggunakan bahan-bahan seperti 1 kg kulit kamboja, 1 kg ubi gadung, 1 kg katul, 1 kg ikan tawar, dan 15 potong ragi tape.

Bahan-bahan ini kemudian ditumbuk, dicampur, dan dibuat menjadi butiran, lalu dikeringkan agar bisa disimpan selama 4 bulan.

“Ketika membuat dan menggunakan ramuan ini, penting bagi petani untuk menggunakan sarung tangan plastik agar tidak langsung bersentuhan dengan ramuan tersebut. Informasi lebih lanjut dapat dipelajari melalui media sosial dan YouTube,” tambahnya.

Umpan Ramah Lingkungan

Sementara itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Rachmat mengingatkan kepada jajarannya untuk meningkatkan kewaspadaan OPT, termasuk tikus yang menjadi salah satu hama utama saat ini.

“Kunci keberhasilan pengendalian tikus adalah pengendalian harus dilakukan secara serentak dan di hamparan yang luas. Lakukan gropyokan sebelum tanam dan lanjutkan dengan pemasangan umpan. Nah, bioyoso ini adalah umpan ramah yang harus dicoba karena manjur dan ramah lingkungan,” terang Rachmat.

“Kami menerapkan budaya kerja Bernas, yang berarti berorientasi pada pelayanan, melakukan aksi nyata, beradaptasi, dan sinergi. Oleh karena itu, koordinasi dan kolaborasi dari berbagai pihak, baik di tingkat pusat maupun daerah, sangat diperlukan untuk menyukseskan pengamanan produksi pangan nasional,” tambah Rachmat.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Supriyanto, menyatakan kebanggaannya atas prestasi yang telah diraih oleh Mbah Yoso. “Meskipun usianya tidak lagi muda, semangat Mbah Yoso tetap membara, tidak kenal lelah dalam melakukan inovasi di lahan pertaniannya selama bertahun-tahun, untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan dapat ditiru oleh petani lain,” ungkap Supriyanto.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo, Bagas Windaryatno, juga menyatakan akan mempromosikan penggunaan ramuan bioyoso ini di wilayahnya untuk melindungi pertanian Sukoharjo dari serangan tikus. Selain menggunakan bioyoso, pengendalian tikus juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan burung hantu.

Sementara itu, Yoso Martono Suyadi, petani yang menemukan ramuan bioyoso, mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah terhadap pengakuan atas karyanya. “Sebagai seorang petani, yang penting bagi saya adalah dapat bertani dengan sepenuh hati, menjaga kearifan lokal dan lingkungan. Oleh karena itu, jika ramuan ini dibuat dengan benar dan dikonsumsi oleh tikus, tikus bisa menjadi lemah, mandul, atau bahkan mati,” tutur Mbah Yoso dengan penuh semangat. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga