Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Kendalikan Tikus di Sawah, Berbagi Pengalaman dengan POPT

ktnanasional – JAWA BARAT, KARAWANG. Kesuksesan pengendalian hama tikus bukan hanya ditentukan ketepatan teknologi yang digunakan. Namun juga diperlukan pengelolaan manusia atau petani di lapangan agar bisa melaksanakan teknologi/metode pengendalian secara efektif dan benar.

Bagi para petani, hama tikus menjadi salah satu Organisasi Pengganggu Tanaman (OPT) yang sulit untuk dihadapi. Berbagai teknologi atau metode pengendalian sudah ada dan selalu diterapkan petani di lapangan.  “Teknologi pengendalian tikus itu sudah ada, dan tidak ada yang berubah. Memang ada yang bisa diterapkan petani ada yang tidak,” kata POPT Ahli Madya, Yadi Kusmayadi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Yadi melihat teknologi dalam menghadapi hama tikus tidak ada yang baru. Mulai dari sanitasi lingkungan, gropyokan, sistem bubu perangkap / Trap Barrier System (TBS), Linear Trap Barrier System (LTBS), pengemposan, pengumpanan hingga konservasi musuh alami.

“Karena teknologi sudah ada, jadi yang paling penting dalam menghadapi manusianya. Perlunya mengelola manusia, karena dalam melakukan pengendalian diperlukan keseriusan dan dilakukan dengan hati,” ujarnya.

Yadi mengingatkan, ada tiga hal yang menjadi moto dalam pengendalian tikus yaitu Amati, Kenali dan Kendalikan. Untuk itu, perlu diamati dalam pengendalian hama tikus ialah sumber populasi, lubang aktif, jejak dan kerusakan. “Semestinya, kita harus tahu ada tikus sebelum ada kerusakan,” katanya.

Karena itu caranya adalah dengan mengamati sumber populasi atau lubang-lubang sarang tikus seperti di tanggul, pematang besar, pinggir saluran air, pinggir sungai, di saung dan lain sebagainya. Setelah itu kenali lubang aktif. Ditandai dengan lubang licin, tidak ada sarang laba-laba dan adanya sisa makanan.

“Kita hitung berapa lubang aktifnya, kemudian kita akan tahu berapa populasinya. Kalau kita tahu populasinya kita bisa perkirakan berapa kerusakan hingga potensi kehilangan bila tikus ini dibiarkan,” tegas Yadi. Setelah mengetahui sumber populasi dan lubang aktif, lanjut Yadi, baru dilaksanakan aksi pengendalian. Dengan demikian, tidak harus ada jejak dan kerusakan baru dilakukan pengendalian.

Yadi mengatakan, proses pengendalian biasanya dilakukan saat selesai pengolahan tanan.  Biasanya tikus tidak nyaman dengan kondisi setelah pengolahan tanah. Karena pematang sudah dibersihkan, air sudah masuk kedalam lubang dan tikus otomatis akan pindah ke sumber populasi.

Mengelola Manusia Itu Penting

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengelola manusia yaitu pemahaman, shock terapi lalu motivasi. Untuk itu, Yadi menyarankan agar diberikan pemahaman yang benar agar petani mengetahui apa yang mereka hadapi. Setelah itu berikan shock terapi kepada petani.

“Tikus itu bisa memakan 6-12 rumpun dalam 1 malam, kita kalikan dengan berapa populasi, sehingga bisa diketahui berapa banyak yang dihabiskan tikus dalam 1 malam, tingkat kerusakan dan berapa kerugiannya. Itu adalah shock terapi bagi petani. Setelah itu kita beri motivasi agar petani mau bergerak mengatasi tikus,” tuturnya.

Pengendalian hama tikus dengan metode yang ada harus dilakukan secara bersama dan kompak. Ini menjadi salah satu tugas POPT di lapangan yaitu membuat petani kompak bergerak bersama mengangani hama tikus di lahan.

Penggunaan metode pengendalian menurut Yadi harus dilakukan pada saat yang tepat. Mulai dari masa persiapan lahan hingga panen. Pada masa persiapan tanam, teknologi pengendalian yang bisa dilakukan ialah sanitasi lingkungan, gropyokan, pengumpanan, dan konservasi musuh alami.

Saat persemaian bisa dilakukan teknologi sanitasi lingkungan, gropyokan, TBS, LTBS, pengumpanan dan konservasi alami. Lalu pada masa pertumbuhan bisa dilakukan sanitasi lingkungan, TBS, LTBS, pengemposan, pengumpanan dan konservasi alami. “Pada fase anakan maksimal bisa dilakukan sanitasi lingkungan, TBS, LTBS, pengemposan pengumpanan dan konservasi alami,” tambahnya.

Untuk fase premordia atau bunting, diungkapkan Yadi, petani bisa melakukan metode pengendalian sanitasi lingkungan, TBS, LTBS, pengemposan pengumpanan dan konservasi alami. Untuk masa keluar malai bisa dilakukan hal yang sama yaitu sanitasi lingkungan, TBS, LTBS, pengemposan dan konservasi alami.

Sedangkan ketika tanaman padi sudah masuk pada fase masak susu dan pemasakan, metode pengendalian hama tikus yang bisa dilakukan adalah sanitasi lingkungan, TBS, LTBS, pengemposan dan konservasi alami.

Yadi mengaku cara tersebut pernah dilakukan pada saat pengendalian hama tikus di Desa Ngabeyan, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten dengan luas 108 ha dengan tingkat kerusakan akibat serangan hama tikus mencapai 70-100%. “Kita lakukan pengendalian dari awal, kita ada area kontrol 1 yang berdekatan dengan areal pengendalian, kontrol 2 yaitu hamparan yang jauh dengan areal pengendalian sekitar 3-4 km, dan tingkat kerusakan berbeda,” tuturnya.

Dengan cara tersebut Yadi mengatakan, hasil panen pada area pengendalian sesuai dengan yang diharapkan. Hasilnya, kembali kepada kondisi sebelum menghadapi serangan. Untuk area kontrol 1 juga mendapatkan hasil yang sama dengan kondisi ketika tidak terjadi serangan, karena area ini terpengaruh dengan pengendalian yang dilaksanakan.

Lagi-lagi faktor manusia menjadi sangat penting dalam pengendalian hama tikus. “Faktor utama yang menghambat pengendalian adalah manusianya karena itu bagaimana kita mengelola manusianya agar teknologi pengendalian bisa berjalan efektif,” tegas Yadi. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga