Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

Ketahanan Pangan Terancam, FTP UGM Tekankan Pentingnya Keberlangsungan Agroindustri

ktnanasional.com – DIY. Semarakkan Lustrum ke-XII, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM menggelar seminar nasional bertajuk “Peran Teknologi Pertanian dalam Membangun Agroindustri Berkelanjutan Menyongsong Indonesia Emas” pada Sabtu (2/9). Acara ini turut mengundang Kementerian RI dan akademisi FTP UGM untuk mendiskusikan strategi bidang pertanian dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini.

Industri dan teknologi pertanian memiliki peran penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ketahanan pangan, keberlangsungan agraria, hingga kesejahteraan tenaga kerja tani menjadi poin utama membentuk agroindustri berkelanjutan. “ Kita semua paham, kebutuhan akan pangan semakin meningkat, dari sisi kuantitas, kualitas, maupun keterjangkauan. Pangan yang sehat dan murah untuk semua, adalah cita-cita kita bersama,” ucap Menteri Sekretaris Negara, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., yang sekaligus sebagai Ketua Majelis Wali Amanat UGM.

“Kita menghadapi tantangan yang cukup berat. Ada beberapa hal yang membuat target ini tidak mudah untuk ditangani. Pertama, populasi dunia terus meningkat, saat ini populasi dunia sudah mencapai lebih dari 8 miliar, dan PBB memprediksi 2040 mencapai 10 miliar. Artinya, kebutuhan pangan semakin meningkat. Kedua, situasi global, terutama geopolitik yang memanas ini sangat mendisrupsi pasokan pangan. Ketiga, perubahan iklim. Diprediksi 24% wilayah Indonesia saat ini tengah mengalami puncak kemarau. Dampaknya luar biasa, terhadap ketahanan pangan tentunya, lalu kerugian yang ditimbulkan juga cukup besar,” ucap Pratikno. Ia menekankan, peran akademisi dan ahli akan sangat penting dalam memberikan solusi dalam langkah antisipasi, maupun langkah efektif ketika terjadi krisis pangan.

Sebagai negara agraria, Indonesia memiliki target untuk menjadi pemasok pangan dunia terbesar di masa depan. Namun jika hanya mengandalkan sumber daya yang dimiliki tanpa diiringi inovasi teknologi, dapat dipastikan agroindustri tidak bisa bekerja maksimal. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif., M.Eng, Guru Besar FTP UGM Bidang Teknik Irigasi menjelaskan, basis pengembangan pertanian tidak hanya terletak pada bumi dan air saja, tapi juga teknologi. “Saya melihat ini bumi kita juga berubah, permukaan tanah berubah. Sebagian hilang, sebagian lagi bergabung. Lalu pertanyaannya, ini bagaimana irigasinya? Padahal itu satu yang krusial di bidang pertanian. Inilah ya, salah satu kasus di mana saya kira teknologi akan berperan penting dan sangat membantu,” ungkapnya.

Sigit menambahkan, sumber daya yang ada di bumi ini sebagian besar sudah mengalami krisis. Meningkatnya populasi membuat kebutuhan akan perumahan dan industri lain meningkat, sehingga alih fungsi lahan semakin tinggi. Tak hanya itu, perubahan iklim dan fenomena tidak terduga yang terjadi menjadi ancaman mematikan yang harus siap dihadapi. Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya kesiapan teknologi, maka dikhawatirkan negara akan menghadapi krisis berkepanjangan.

Salah satu inovasi yang ditawarkan untuk memperkuat ketahanan pangan nusantara adalah Smart Farming. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D, akademisi FTP sekaligus Staff Litbang Kementerian Pertanian RI memaparkan bagaimana Smart Farming dapat menjadi solusi berbagai masalah pertanian. “Setidaknya ada tiga tantangan pertanian yang kita hadapi, yaitu sistem tani yang tidak terintegrasi, minimnya penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan petani yang kecil. Kita masih memiliki lahan sawah yang berbasis rumah tangga, dan Smart Farming berusaha mengintegrasikan lahan sawah agar dapat dikelola bersama. Faktanya, teknologi seperti ini akan sulit masuk dan dipahami jika kita tidak terjun langsung di lapangan,” ujarnya.

Minimnya regenerasi tenaga kerja tani juga menjadi persoalan lain. Mayoritas lahan tani saat ini dikelola oleh petani usia lanjut, dan tidak memiliki penerus untuk mengelola lahan. “Sebagian besar petani juga saya yakin tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Pun dengan generasi saat ini, hanya sebagian kecil yang mau menjadi petani. Hal ini kemudian timbul menjadi masalah. Nah, kehadiran teknologi inilah yang nanti perannya untuk meningkatkan daya tarik pertanian di kalangan anak muda,” tambah Bayu. (admin)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga