Selasa, 27 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Keuntungan Ganda dari Tumpangsari Sawit

ktnanasional – RIAU, SIAK. Menerapkan tumpang sari sayuran di kebun sawit yang belum berbuah dapat mengoptimalisasi pemanfaatan lahan. Hal itu dilakukkan Pekebun asal Desa Pangkalan Makmur, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Sugeng.

Ia menanami lahan kosong di antara tanaman sawit yang masih kecil dan berumur kurang dari 3 tahun dengan tanaman palawija dan sayuran. Jarak tanam sawit biasanya 9 m x 8 m.

Pemilik lahan sawit pun mengapresiasi Sugeng. Pasalnya ia tak perlu mengeluarkan biaya tenaga kerja untuk merawat kebun. Tanggung jawab itu kini dipegang Sugeng. Ia mesti merawat sawit sekaligus merawat tanaman yang ditumpangpangsarikan.

Saat ini ia dan ketiga rekan menanam jagung pipil di lahan 6 hektare (ha). Ia menanam aneka sayuran di lahan 1 ha yang terdiri dari 400 tanaman terung ungu dan sudah panen.

“Sampai kemarin saya sudah 15 kali panen,” kata Sugeng. Satu kali panen menghasilkan 50—60 kg terung. Total jenderal ia menuai 750—900 kg terung yang berharga Rp5.000—Rp6.000 per kg. Jumlah omzet dari terung ungu mencapai Rp3,75 juta—Rp5,4 juta. Sugeng juga menanam cabai. Sayang tanaman terserang penyakit bercak kuning karena itu pengalaman perdana Sugeng menanam cabai.

Ia juga baru kali pertama menanam kacang tanah. Hasilnya pun kurang memuaskan lantaran kacang tidak berisi. Ia menduga hal itu akibat kesalahan mengolah tanah. Benih sebanyak 5 kg pun sia-sia. Sugeng pun menanam 200 tanaman kacang panjang yang lebih mudah perawatannya daripada cabai.

Menurut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Warsono, program penanaman tumpang sari saat ini memang tengah digalakkan bagi pekebun sawit swadaya provinsi melalui dinas terkait memberikan bantuan benih. (admin)

artikel ini telah tayang di trubus.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga