Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Kolaborasi untuk Kesejahteraan Petani Teh Rakyat

ktnanasional.com – BANDUNG, Ada tiga sektor perkebunan teh di Indonesia, yaitu Perkebunan Besar Negara, Perkebunan Besar Swasta, dan Perkebunan Rakyat. Sekitar 46% perkebunan teh Indonesia digarap oleh petani, sedangkan 34% dikelola oleh negara dan 20% dikelola oleh swasta.

Meskipun mempunyai area perkebunan terluas, ironisnya produktivitas dari kebun teh rakyat termasuk kecil. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), menyebutkan, dari 144.064 ton produksi teh kering Indonesia pada 2020, 40% dihasilkan oleh Perkebunan Besar Negara, 35% oleh Perkebunan Rakyat, dan 25% oleh Perkebunan Besar Swasta.

Rendahnya tingkat produksi teh dari petani yakni karena mayoritas petani teh masih menjual pucuk basah, sehingga belum ada nilai tambah. Selain itu, harga masih bergantung pada pengepul di daerah masing-masing.

Akibatnya, petani sering kali menerima berapapun harga yang ditentukan pengumpul atau pabrik pengolahan. Tak heran bila sejumlah petani meninggalkan kebun teh mereka, dan mencari alternatif pekerjaan lain, seperti buruh, karyawan, atau jadi pedagang.

Generasi muda pun tidak tertarik melanjutkan kebun teh yang sudah menjadi warisan turun-temurun. Kebanyakan dari mereka memilih merantau untuk mendapat upah lebih baik.

Menurut Ketua Penasehat Paguyuban Tani Lestari, Murdiyanto Arys Buntara, kesejahteraan petani teh terbilang memprihatinkan. Kondisi itu membuat luas lahan teh terus mengalami penurunan.

Arys menilai perlu kolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani teh. Kolaborasi menjadi kekuatan besar untuk mengangkat nilai ekonomi pelaku industri teh, khususnya petani teh rakyat.

“Jika petani teh dari India hidupnya tidak sejahtera, petani teh dari India tidak bahagia. Jika petani teh dari Cina hidupnya tidak sejahtera, petani teh dari Cina tidak bahagia. Apabila petani teh dari Indonesia hidupnya tidak sejahtera, berarti petani teh tidak bahagia. Saat ini adalah waktunya kolaborasi, bukan persaingan,” tegas Arys, saat memberi sambutan pada acara Asia Small Tea Growers Conference 2023, Rabu (23/08) di Kota Bandung, Jawa Barat.

Arys mengatakan komoditas teh bisa dijadikan sebagai alat diplomasi untuk menciptakan kesejahteraan dan kemajuan ekonomi sebuah negara. Menurut Arys, Paguyuban Tani Lesatri sudah berupaya meningkatkan kapasitas petani teh dalam menghasilkan teh yang berkualitas.

“Sayangnya, ikilm usaha yang saat ini lebih mengedepankan kuantitas dan harga murah, sepertinya tidak ada  peran pemerintah dalam penetapan harga terendah untuk pucuk teh, sehingga bertahun-tahun petani hanya menerima harga Rp1.800—Rp2.000 per kg pucuk teh,” tutur Arys.

Menurut Arys, kurangnya kolaborasi antara perusahaan teh, pemerintah, terhadap petani, telah memukul mundur upaya petani untuk menyelamatkan perkebunan teh. Arys berharap ada kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang dapat memperbarui iklim usaha industri teh.

Direktur Eksekutif Indonesian Tea Marketing Association (ITMA), Veronika Ratri, mengajak generasi muda terutama yang bergerak di sektor Food and Beverage (F&B), Kafe, dan UKM untuk ikut membantu mempromosikan dan menggunakan produk yang dihasilkan dari teh rakyat.

“Sedikit demi sedikit, para petani kini mulai menyadari peran penting mereka di rantai pasok dan melakukan upaya perbaikan kolektif melalui kelompok atau koperasi tani, sehingga bisa memangkas rantai pasok,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Teh Indonesia (DTI), Rachmad Gunadi, merasa senang lantaran Indonesia berkesempatan mejadi tuan rumah Konferensi Petani Teh Asia 2023.

“Konferensi ini memberikan platform unik dan inovatif bagi para pelaku industri untuk bertukar ide, membangun kemitraan dan bekerja bersama-sama untuk kesejahteraan komunitas petani teh di Asia dan khususnya petani teh di Indonesia,” paparnya. (admin)

Artikel telah tayang di trubus.id

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga