Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Kreatif, Kelompok Wanita Tani di Pegasing Sulap Limbah Nanas Bernilai Ekonomis

ktnanasional – ACEH. Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan Katahati Institute di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah berhasil mengubah limbah nanas menjadi produk bernilai ekonomis.

Kecamatan Pegasing dikenal sebagai penghasil nanas lokal di Kabupaten Aceh Tengah. Sehingga banyak limbah berupa pelepah nenas yang dihasilkan pasca panen.

Adapun hasil produk kreativitas yang dihasilkan dari serat nanas ini diberi nama Kariga yang artinya Serat dari Gayo. Produk yang sudah berhasil dibuat seperti bros, gelang, gantungan kunci, pintalan benang, dan lukisan.

Katahati Institute bekerja sama dengan Kedutaan Besar Canada untuk Indonesia dan Timor Leste meluncurkan sentra usaha dan pusat pengetahuan serat nanas di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.

“Peluncuran ini juga bertujuan untuk keberlanjutan ekonomi dengan memastikan lingkungan tetap terjaga.” kata Raihal Fajri, Kamis (1/2/2024).

Apabila diolah dengan baik, lanjut Raihal, daun nanas yang jadi limbah pun bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat di Pegasing.

Ia menyebutkan, Kelompok Wanita Tani (KWT) Al Falatul ini merupakan inisiatif usaha sosial Katahati Institute yang sebelumnya mereka juga membentuk kelompok wanita tani di Samarkilang, Kabupaten Bener Meriah.

“Kita memilih kelompok perempuan yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai penopang habitat populasi empat spesies kunci badak sumatra, harimau sumatra, orangutan sumatra, dan harimau sumatra,” ucap Raihal.

Ia berharap melalui kelompok tersebut, ruang bagi perempuan dan remaja putri Gayo dapat mengembangkan ekonomi berkelanjutan melalui optimalisasi hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan pengelolaan limbah dalam menjaga lingkungan.

Sementara itu, Penjabat (PJ) Bupati Aceh Tengah, T.Mirzuan dalam sambutannya menyampaikan, pemerintah berkomitmen penuh dalam mendukung UMKM dari kelompok perempuan Gayo.

“Saya mengapresiasi dan berterimakasih kepada Katahati Institute dan kedutaan Canada untuk Indonesia dan Timor Leste yang telah mendukung keterlibatan aktif perempuan dalam program praktik raham lingkungan dengan memanfaatkan HHBK,” kata T.Mirzuan.

Menurut T.Mirzuan, HHBK bagi masyarakat Aceh Tengah merupakan hasil sumber daya yang sangat penting.Tidak sedikit warga yang menggantungkan hidupnya dari HHBK.

“HHBK ini sangat berpeluang membuka berbagai macam usaha dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat pinggir hutan,” ujar Pj Bupati Bener Meriah.

Lanjut dia, selama ini pelepah nanas menjadi limbah di Aceh Tengah khususnya di Kecamatan Pegasing. Namun dengan terbentuknya kelompok ini, maka angka limbah tersebut dapat dikurangi dengan kreativitas bernilai tinggi.

“Ini adalah bukti bahwa kita dapat bekerja sama dengan baik dalam kontek penyelesaian masalah lingkungan,” tuturnya.

Acara Peluncuran Sentra Usaha dan Pusat Pengetahuan Serat Nanas Pegasing itu juga dihadiri oleh Perwakilan Kedutaan Canada untuk Indonesia dan Timor Leste, Wali Nanggroe Aceh, Pj Bupati Bener Meriah, da sejumlah Forkopinda Aceh Tengah. (admin)

artikel ini telah tayang di bithe.co

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga