Minggu, 21 April, 2024

Artikel Terbaru

KTNA Produksi Food Estate Padi Kalteng Sangat Hebat

ktnanasional.com – Jakarta.  KTNA terlibat dalam proses budidaya tanaman pangan di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas. Food Estate di dua kawasan Kalteng tersebut adalah sebuah niat visioner dan ikhtiar mulia membangun kawasan pangan terpadu. KTNA dukung Food Estate di Kalteng.

H.M Yadi Sofyan Noor, Ketua Umum KTNA (Kelompok Kontak Tani Nelayan & Andalan) Nasional dan tokoh pertanian Kaltim, mengapresiasi program Food Estate di Kabupaten Pulang Pisau (Pupis) dan Kabupaten Kapuas di Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai sebuah program yang layak (visible) di tengah maraknya alih fungsi (konversi) lahan di pulau Jawa.

Sebagai informasi, KTNA terlibat dalam proses budidaya tanaman pangan di dua kawasan Food Estate di Kalteng tersebut.

Food Estate di Pupis dan Kapuas, menurut Yadi Sofyan Noor, adalah sebuah niat visioner dan ikhtiar mulia membangun kawasan pangan terpadu.

“Saat meninjau ke lapangan, saya menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri bahwa perkembangan food estate di Pulang Pisau dan Kapuas itu bagus sekali. Para petani di sana happy karena ada peningkatan produksi. Jaringan irigasi di sana memadai dan akses jalan ke kawasan itu juga sudah bagus,” ungkap Sofyan.

Dari sisi produksinya, kata Sofyan, kawasan food estate sudah hebat. Pada tahun 2020 sudah dilakukan kegiatan intensifikasi di lahan seluas 30.000 hektar dan telah berhasil meningkatkan produksi sebanyak 49,8 persen dari tahun 2019. Artinya, dari 2019 ke 2020 ada peningkatan produksi.

Pada tahun 2021, intensifikasi pada lahan seluas 14.135 hektar berhasil meningkatkan produksi padi sampai 11,7 persen. Jadi secara agregat, tata produksi padi pada tahun 2020 dari tahun 2021 terjadi peningkatan 120.460 ton gabah kering giling (GKG) menjadi 163.728 ton GKG.

“Kalau peningkatan produksi GKG itu dikonversi dalam bentuk uang maka ada peningkatan sebesar Rp 818 milyar. Ini data berbicara yang kita memang kita ambil dari sana. Bukan data yang dibikin-bikin atau mengada-ada,” tegasnya.

Dari data yang dikumpulkan KTNA Nasional, Sofyan menambahkan, kawasan food estate Kalteng yang sudah didukung jaringan irigasi mencapai 164.598 hektar. Itu terbagi yang fungsional seluas 85.456 hektar. Adapun yang luas non fungsional seluas 79.142 hektar yang digarap dalam kurun waktu 2021-2022.

Rehabilitasi irigasi untuk yang fungsional kurang lebih seluas 57.141 hektar. Sedangkan untuk lahan dengan kondisi irigasi agak bagus ada sekitar 28.315 hektar.

“Artinya, di sini sudah ada 85.456 hektar yang ada irigasinya.Kita anggap baik. Sehingga di daerah yang ini, kita lihat kemarin di lapangan, lebih banyak kegiatan intensifikasinya. Sedangkan yang non fungsional banyak dilakukan perbaikan irigasi, jalan usaha tani, dan lain-lain. Di wilayah ini, kita fokuskan pada kegiatan ekstensifikasi pertanian. Jadi sembari melakukan kegiatan tanam di lahan fungsional, kita melakukan perbaikan di lahan non fungsional,” tutur Sofyan.

Berdasarkan peninjauan ke lapangan dan bertanya langsung kepada para petani di sana, KTNA menyimpulkan bahwa pengembangan food estate di Kalteng telah mampu meningkatkan efisiensi usaha tani serta mendorong intensifikasi dari perluasan usaha tani pangan sehingga berdampak positif untuk peningkatan kapasitas produksi pangan dan pendapatan petani.

KTNA Dukung Program Food Estate di Kalteng

Ketua Umum KTNA Nasional mengapresiasi tinggi dilaksanakannya program Food Estate di Kalteng sebagai bagian dari intensifikasi pertanian, persiapan dan pengalihan fungsi lahan, pencetakan sawah baru, serta modernisasi pertanian.

Sofyan lantas membuat ilustrasi sederhana namun faktual. Dahulu di sepanjang jalan Bekasi, Karawang, Cikampek sepanjang mata memandang terbentang luas hamparan sawah menghijau.

Namun, sekarang ini, pemandangan semacam itu sudah sangat langka. Karena banyak lahan produktif telah tergerus oleh kemajuan zaman dan modernisasi.

“Banyak lahan pertanian di sana sudah berubah dan beralih fungsi menjadi lahan industri, properti, jalan tol ataupun yang lainnya,” ucap Sofyan Noor.

Karenanya, “Kami dari KTNA sangat mendukung langkah inovatif yang digulirkan pemerintah dengan membuat Food Estate di Kalimantan Tengah (Kalteng), sebagai salah satu program pemerintah untuk memastikan ketahanan pangan Indonesia melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Saya pribadi sudah meninjau ke sana dan itu bagus sekali.”

Mengutip data yang ada, Sofyan menyebut, tahun ini dari 65.000 hektar lahan untuk pencetakan sawah baru yang direncanakan ternyata telah direalisasikan seluas 28.000 hektar lahan dan itu pun sudah bisa ditanami.

“Artinya agak cepat sih sebenarnya itu. Kalau kita lihat dari data pemerintah, di ATR itu penyusutan lahan kita setahun rata-rata 150.000 hektar. Sedangkan cetak sawah kita hanya bisa 60.000 hektar, berarti kita masih susut dalam setahun itu 90.000 hektar.”

Untuk lahan sawah yang bagus dan produktif, dari data yang dimiliki Sofyan, saat ini kondisi pertanian Indonesia memiliki 10,66 juta hektar. sedangkan penyusutan lahan 0,14 juta hektar. Sehingga untuk potensi lahan panen kita untuk tahun ini hanya ada sekitar 10,52 juta hektar. Namun, ia optimis pemerintah alam hal ini Kementerian Pertanian selalu berupaya menjaga ketahanan pangan nasional dan bakal habis-habisan berikhtiar dalam menjaga produksi pangan nasional.

Kendati demikian, Sofyan mengingatkan bahwa ada perbedaan kualitas kesuburan lahan di setiap daerah. Kualitas lahan di Jawa tentu berbeda dengan di Sulawesi atau Kalimantan. Jadi untuk pencetakan lahan sawah baru di luar Jawa membutuhkan waktu.

“Kalau kita bicara produksi tidak bisa dilawanlah Jawa. Tanah subur, airnya bagus, pupuknya masih-masih aman aja. Jadi, kita tidak bisa seperti main sulap untuk kegiatan mencetak sawah baru ini. Lahan pertanian terutama untuk sawah perlu adaptasi. Di Kalimantan rata-rata tanahnya alufial. Sebagian ada lahan rawa yang memiliki kadar asam tinggi.”

Terkait intensifikasi lahan di Kalimantan, Sofyan mengatakan, ia berkoordinasi dengan KTNA di tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga ke jaringan di pedesaan.

Ia memberikan pemahaman kepada rekan-rekan KTNA daerah bahwa lahan baru di sana tidak bisa disulap langsung jadi. Apalagi budaya menanam padi petani Kalimantan tidak seperti di Jawa.

“Kalau di Kalimantan rata-rata tidak pernah menggunakan lahan itu sampai mengambil tanah. Dia bantah-bantah itu rumput tebal, kita menggunakan tajak. Itu kita biasanya polanya seperti itu.”

Sedangkan program Food Estate dilakukan dengan memakai mekanik alat berat yang secara tidak sadar mengubah komposisi tanah yang mestinya tanahnya tenang, bakterinya dirombak total sehingga perlu teknologi untuk mengembalikan kesuburan tanah itu. TRIAS/ETD

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga