Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Laba Pepaya Arum

ktnanasional – JAWA TIMUR, BANYUWANGI. Pekebun pepaya di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Ali Imron rutin memanen pepaya hawai arum sebanyak 6—7 ton selang 5 hari. Hasil panen itu ia peroleh dari lahan seluas 10 hektare bersama 6 petani mitra.

Ali kemudian menjual ke pengepul di daerah setempat seharga Rp5.000 per kg. Artinya, omzet Ali dan mitra dari perniagaan pepaya hawai arum mencapai Rp30 juta—Rp35 juta selang 5 hari.

Menurut pekebun pepaya sejak 2019 itu, pepaya hawai arum termasuk kategori eksklusif. Harga jualnya stabil berbeda dengan jenis konvensional. Contohnya pepaya california atau calina yang harga jualnya bisa merosot hingga Rp500 saat produksi berlebih. “Pepaya hawai arum memiliki pasar berbeda dengan pepaya konvensional,” kata Ali.

Ciri pepayai hawai arum bersosok mini, berbobot 300 gram—1 kg dan bercitarasa manis. Konsumen memungkinkan menghabiskan 1 buah pepaya hanya sekali konsumsi. “Tingkat kemanisan 13—16 derajat brix,” katanya. Pantas saja hawai arum masuk sebagai kategori pepaya eksklusif.

Pria kelahiran Kabupaten Banyuwangi 44 tahun silam itu menambahkan ceruk pasar pepaya hawai arum masih potensial. Pasalnya permintaan dari Jakarta dan sekitarnya bisa mencapai 10 ton per hari.

Pasokan Ali dan mitra yang baru 6—7 ton per 5 hari tentu belum memenuhi permintaan. “Adapula potensi permintaan yang mulai tumbuh dari kota besar seperti Kota Surabaya, Jawa Timur dan Kota Denpasara, Bali,” katanya.

Lantas berapa biaya produksi pepaya hawai arum? Hitung-hitungan Ali, biaya produksi hanya Rp50.000 per tanaman hingga siap panen pada umur 7—8 bulan. “Itu sudah termasuk sewa lahan, pupuk, dan biaya perawatan hingga panen perdana,” katanya.

Setelah panen perdana, buah terus susul menyusul selang 5—7 hari. Potensi tanaman terus menghasilkan bisa hingga umur 3 tahun setelah tanam. Menurut Ali, pada panen ketiga atau keempat biaya produksi sudah menutup. Sisanya pekebun sudah untung.

Ayah satu orang anak itu menambahkan, pada tanaman sudah menghasilkan rata-rata 1 bulan bisa panen 4 kali. “Biaya produksi per bulan setara dengan sekali panen,” kata Ali. Artinya, sisa panen 3 kali sudah laba dalam satu bulan.

Satu kali panen rata-rata 3—4 kg terdiri atas 3—4 buah per tanaman. Adapun masa puncak panen pepaya hawai arum pada panen ke 5 hingga ke 8 terdiri atas 4—5 buah. “Jika budidaya intensif hasil konsisten 3—4 kg per sekali panen per tanaman hingga umur 2 tahun,” kata Ali.

Perkenalan Ali dengan pepaya hawai arum sejak 2017. Kala itu ia menjadi kepala kebun di salah satu perusahaan swasta perkebunan. “Kebetulan di hamparan kebun seluas 100 hektare yang dialokasikan untuk tananan hortikultura itu terdapat pepaya hawai,” kata Ali. Pada 2019, Ali mengundurkan diri, tidak berselang lama kebun pun tutup.

Kala itu pasar pepaya hawai mulai tumbuh. “Pembeli dari Jakarta terus menghubungi saya, padahal kebun sudah tutup,” kenangnya. Kala itu permintaan 3—4 ton setiap 5 hari. Ali pun mencoba memenuhi permintaan pepaya itu dengan menanam 500 tanaman di lahan seluas 3.250 meter persegi.

Seiring tumbuhnya permintaan dan minat petani luas penanaman pun meningkat hingga 10 hektare dan kini bermitra dengan 6 petani untuk memenuhi permintaan.  Ali dan mitra tidak sekadar menanam pepaya hawai arum. Petani hortikultura sejak 2004 itu juga menanam pepaya lain berjenis merah delima.

“Pasar pepaya merah delima berbeda dengan hawai, untuk mengisi pasar pepaya yang lebih besar berukuran di atas 1 kg,” kata Ali. Harga pepaya merah delima lebih rendah dibandingkan dengan hawai arum. Harganya ratarata Rp2.500—Rp3.000 per kg.

Namun, masih memiliki prospek karena bercitarasa lebih manis dibandingkan dengan pepaya konvensional. “Pepaya konvensional hanya 9—10 derajat briks, merah delima 12 derajat brix, dan hawai arum 14—16 derajat brix,” katanya. (admin)

artikel ini telah tayang di trubus.id

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga