Jumat, 31 Mei, 2024

Artikel Terbaru

LAGI-LAGI PETANI MEMBELA BANGSA

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Satu tahun terakhir ini, dunia perberasan dalam negeri tengah mengalami cobaan. Produksi beras dilaporkan menurun cukup signifikan, sedangkan kebutuhan semakin meningkat. Bangsa ini, bukan saja butuh hanya untuk konsumsi masyarakat, namun juga butuh untuk penguatan cadangan beras Pemerintah dan program bantuan sosial.

Masalahnya semakin menjelimet, ketika Kementerian yang bertanggung-jawab menggenjot produksi beras sedang terlibat masalah penyalah-gunaan kekuasaan dan kewenangan yang diberikan. Mana mungkin Kementerian tersebut akan optimal bekerja jika orang nomor satu dan orang nomor dua di Kementerian tersebut, melakukan hal-hal yang sangat tidak terpuji.

Untung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) cepat bergerak dan langsung menangkap mereka untuk dijebloskan kedalam penjara. Bayangkan, kalau sampai telat bertindak, bangsa ini akan menghadapi masalah yang lebih parah. KPK tentu memiliki alat bukti kuat untuk menangkap mereka. Perbuatan melawan hukum, pasti ada resikonua.

Selain adanya perilaku yang tidak terpuji dari para pemimpin di Kementerian tersebut, iklim dan cuaca pun tidak bersahabat dengan para petani. Sergapan El Nino membuat usahatani padi jadi terganggu. Gagal panen terjadi dimana-mana. Ditengarai gagal panen berkisar pada angka 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton beras. Praktis produksi beras jadi menurun.

Lengkap sudah masalah yang kita hadapi. Kementerian yang tugas dan fungsinya meningkatkan produksi dan produktivitas sedang diguncang oleh kelakuan pejabat teras yang korupsi dan gratifikasi, di sisi lain, iklim dan cuacanya pun tidak berpihak kepada petani. Akibatnya, produksi beras menurun cukup signifikan dan terukur, memaksa kita membuka kran impor besar-besaran.

Tampilnya Andi Amran Sulaiman menjadi Menteri Pertanian kembali, diharapkan mampu membawa angin segar bagi peningkatan kinerja di Kementerian Pertanian, yang dalam waktu sejenak sempat terbengong-bengong mencermati kelakuan Menteri dan Sekjennya. Berbekal pengalaman sebagai Menteri Pertanian di periode pertama Pemerintahan Jokowi, Bung Amran cepat bergerak.

Kebijakan yang diambil Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk menggenjot produksi beras setinggi-tingginya menuju swasembada, dianggap sebagai langkah tepat untuk menjawab tragedi perberasan yang kita alami. Bagaimana pun caranya, produksi beras harus meningkat. Kini saat yang pas bagi petani untuk tandang sebagai pembela bangsa.

Kata kunci keberhasilan meningkatkan produksi beras, diantaranya ditentukan oleh peran petani sebagai pelaku utama dan para Penyuluh Pertanian selaku gurunya petani. Selain itu, para peneliti, pengkaji dan pemulia tanaman pun tetap dituntut untuk dapat memberi karya terbaiknya bagi perjalanan pembangunan pertanian ke depan.

Harmonisnya “Peneliti-Penyuluh-Petani” sebagaimana yang ditempuh saat bangsa kita meraih swasembada beras 1984, dapat dijadikan pengalaman berharga dalam menggenjot produksi beras saat ini. Itu sebabnya, Pemerintah perlu menyiapkan ruang yang cukup bagi tiga serangkai diatas dalam meningkatkan kinerja mereka agar optimal.

Terlepas dari apapun yang menjadi penyebab turunnya produksi beras, namun harus dipahami, hal seperti ini, mestinya tidak boleh terjadi di negeri yang sumber daya pertaniannya melimpah ruah. Sebaliknya, banyak pihak yang bertanya mengapa Indonesia tidak mampu mempertahankan swasembada beras yang sifatnya permanen ?

Sebagai komoditas politis dan strategis, produksi beras perlu terjaga dan terpelihara sepanjang waktu. Untuk itu, dibutuhkan adanya perencanaan pangan, khususnya komoditas beras yang berkualitas. Hal ini sebetulnya telah diamanatkan oleh Undang Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Sayang sampai saat ini Pemerintah belum berkehendak untuk melahirkan regulasinya.

Kita sendiri tidak tahu dengan pasti, mengapa Pemerintah terkesan sangat keberatan dengan ditetapkannya regulasi soal perencanaan pangan ini. Padahal, jika Pemerintah mampu menggarapnya dengan baik, boleh jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot dengan terjadinya darurat pangan/beras. Semua sudah dapat diprediksi dan dicarikan jalan keluarnya.

Lagi-lagi Pemerintah seperti yang kesulitan untuk membebaskan diri dari jebakan selaku “pemadam kebakaran”. Ini berarti, Pemetintah baru akan bergerak jika kita sudah menghadapi masalah. Padahal, kalau saja kita mampu menerapkan pendekatan “deteksi dini”, boleh jadi masalah itu tidak bakal terjadi, karena kita sudah mampu mengantisipasinya.

Menghadapi darurat beras yang dialami saat ini, kita berharap agar Pemerintah betul-betul “all out” menghadapinya. Perjuangan menggenjot beras, harus benar-benar menjadi prioritas utama dalam pembangunan pertanian yang kita lakoni. Pemerintah tidak boleh lagi pelit dalam mengucurkan anggaran pembangunan. Sebab, beras adalah penyambung nyawa kehidupan warga bangsa.

Di sisi lain, momen ini merupakan kesempatan terbaik bagi petani untuk tampil sebagai pembela bangsa, khusus nya dalam upaya meningkatkan produksi beras yang menurun. Tiga serangkai peneliti-penyuluh-petani, perlu lebih sungguh-sungguh dalam bersinergi dan berkolaborasi melahirkan karya terbaiknya bagi bangsa. Kita yakin, petani sudah memahami apa yang akan digarapnya.

ENTANG SASTRAATMADJA

(PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga