Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Lahan Pertanian di Kabupaten Ciamis Dibiarkan Gagal Panen Karena Sulit Mendapat Pasokan Air

ktnanasional.com – CIAMIS. Lahan pertanian di Kabupaten Ciamis banyak yang dibiarkan mengering dan tidak termanfaatkan selama kemarau panjang melanda.

Dampak fenomena El Nino membuat durasi musim kemarau menjadi lebih panjang dan berakibat pada keringnya sumber air untuk lahan pertanian, terutama sawah.

Alhasil, banyak sawah yang telah ditanami padi pada akhir musim hujan lalu, mengalami gagal panen.

Kondisi ini pun membuat para petani frustasi dan membiarkan banyak lahan pertanian di Kabupaten Ciamis mengering tanpa ditanami apa pun sampai menunggu hujan turun.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Ketua Kelompok Tani Jaya Dusun Gunungbangka Desa Sukamanah Kecamatan Sindangkasih, Said Abdullah.

Said mengatakan kondisi lahan pertanian di Kabupaten Ciamis saat ini beragam. Kekeringan tidak terjadi secara merata.

Seperti di wilayah Kecamatan Sindangkasih dimana ada sebagian lahan pertanian yang kekeringan total, namun ada juga yang masih memiliki sumber air.

Tapi menurutnya, sebagian besar lahan di desa-desa sengaja dibiarkan kekeringan karena para petani tidak mau menyedot air dari tempat yang jauh.

“Akhirnya dampak kekeringan ini, kebanyakan petani saat ini lebih memilih dibiarkan saja (lahannya) sehingga menjadi gagal panen,” katanya kepada Radar, Jumat (13/10/2023).

Said mencontohkan lahan pertanian di Desa Sukamanah saat ini hanya mengandalkan pasokan air dari aliran sungai yang debitnya tinggal sedikit.

Sehingga para petani harus bergiliran untuk mengalirkan air ke lahan mereka.

Sulitnya pasokan air untuk pertanian ini membuat para petani kini lebih mengutamakan hasil panen untuk stok pribadiu mereka menghadapi musim kering atau kemarau, tidak dijual.

“Kebanyakan Kecamatan Sindangkasih kekeringan belum terparah karena belum merata, ada yang benar-benar kering dan bisa mendapatkan air. Oleh karenanya saat ini stok cadangan beras tidak dijual tetapi untuk konsumsi sendiri,” terangnya.

Diketahui dari 19 kecamatan yang biasa menjadi lumbung padi di Kabupaten Ciamis, saat ini sebagian besar mengalami Puso atau gagal panen.

Seperti Kecamatan Banjarsari, Pamarican, Cimaragas, dan Sindangkasih.

Sedangkan wilayah ini biasanya mampu menyuplai beras dan membuat stok mengalami surplus sampai tiga bulan.

Konsumsi beras lokal di beberapa wilayah ini sekitar 4,54-20,29 persen per bulan dari total produksi.

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis Slamet Budi Wibowo menyampaikan hasil dari laporan petugas Pengendali Organisme Pengendali Tanaman (POPT) Provinsi Jawa Barat yang ditugaskan di Kabupaten Ciamis, sebanyak 108 hektar lahan pertanian di Kabupaten Ciamis memang mengalami gagal panen atau Puso.

Dengan rinciannya antara lain 55 hektare di Kecamatan Banjarsari, 52 Hektare di Kecamatan Pamarican, dan 1 hektare di Kecamatan Cimaragas.

“Dalam memaksimalkan pertanian, fenomena El Nino ini mengakibatkan kekeringan dan beberapa wilayah gagal panen,” katanya.

Oleh karenanya, para petani diminta memaksimalkan alat mesin pompa air yang dipunya para kelompok petani.

Model perairan gilir giring atau berganti pengairan, membersihkan parit agar saluran bagus. “Lalu, bagi yang gagal panen pun ke depannya dinas akan memberikan bantuan benih padi,” terang dia.

Ia memprediksi areal terdampak kekeringan masih bisa bertambah, seiring dengan ramalan BMKG bahwa fenomena El Nino di sebagian Pulau Jawa akan terjadi sampai November. (admin)

Artikel telah tayang di radartasik.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga