Kamis, 18 April, 2024

Artikel Terbaru

“LIGHT TRAP INSECT” Inovasi Susanto, Duta Petani Andalan Kementerian Pertanian RI

ktnanasional.com – JATIM Nganjuk, Indonesia adalah negara Agraris yang mempunyai iklim tropis, dimana iklim ini hanya 2 (dua) musim yaitu musim penghujan dan kemarau, dimana secara global permasalahan pertanian kita di iklim tropis itu adalah serangan hama dan penyakit pada komoditi pertanian yang dibudidayakan.

Permasalahan pertanian ini sejak dulu hingga sekarang belum selesai adalah penanganan hama yang selalu menghantui para petani, sebab dengan adanya serangan hama tanaman bisa gagal panen.

Terkait dengan dampak resisi pangan global  atau krisis pangan ini pemerintah harus mampu menjamin ketersediaan pangan dari ancaman ancaman tak terduga salah satunya adalah Organisme Pengganggu Tanaman.

Peningkatan  serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) atau yang disingkat WBC merupakan salah satu hama pada tanaman padi yang paling berbahaya dan merugikan petani padi, karena dapat mengakibatkan gagal panen. Selain itu, WBC juga menjadi vektor bagi penularan penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa.

Penggerek Batang masih banyak terjadi di daerah daerah endemik, juga di sentra penghasil bawang merah, sayur mayur masih kerap kita jumpai adanya serangan hama. Apabila salah dalam mengendalikan akan membawa dampak buruk terhadap lingkungan pertanian, kesehatan petani serta masyarakat yang mengkonsumsi.

Seringnya petani dalam penanganan hama masih cenderung ke Pestisida terutama insektisida (Racun berbahan kimia), dimana dampak dari penggunaan insektisida ini membuat Hama bukan menurun populasinya namun justru menjadikan hama kebal dengan adanya dampak penggunaan pestisida. Terlebih bila petani tidak menepati dosis dan anjuran penggunannya.

Sebagai ilustrasi, Hari ini ada serangan hama, petani mengunakkan bahan aktif A. dengan dosis sekian cc per liter. Diaplikasi untuk mengendalikan hama, mungkin jangka pendek sebagian hama mati, namun penyemprotan berikutnya hama sudah tidak mati alias kebal dengan bahan aktif A.  Maka petani beralih ke insektisida dengan bahan aktif B yang mempunyai daya bunuh lebih tinggi dan biasanya nya lebih mahal. Apa yang terjadi ?? hama justru semakin kebal dan biaya terus menerus akan semakin tinggi. Belum lagi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pengunaan bahan bahan yang berbahaya bagi ekosistem pertanian.

SUSANTO juga aktif berorganisasi, di tingkat KTNA Jawa Timur duduk di bidang Pemuda Tani sekaligus sebagai Duta Petani Andalan Kementan RI. Tinggal di desa Gandu RT 03 RW 05 Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, telah menemukan alat yang disebut  Light Trap Insect / Lampu perangkap hama atau lampu pengendali hama yang Efektif, efisien, selektif, Ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sangat tepat untuk di kembangkan dalam rangka menjaga tanaman dari serangan hama dan tanpa meninggalkan residu yang membahayakan lingkungan pertanian.

Light Trap Insect temuan Susanto ini adalah Sebuah lampu yang sudah di desain dengan energi bersumber dari solar panel (tenaga matahari).  Mampu menjawab permasalahan terkait adanya hama, baik pada tanaman pangan (padi, jagung, kedele) komoditi hortikultura bahkan perkebunan yaitu dengan cara mengundang hama sumber yaitu golongan ngengat dan lainnya  yang menjadi induk berkembang-biaknya hama.

Teknologi ini telah lama di kembangkan Susanto sejak tahun 2012 hingga 2014 dalam tahap riset swadaya. Tahun 2015 Susanto dianugerahi oleh Gubernur Jawa timur Pak de Karwo sebagai pemenang Terbaik 1 (satu) tingkat  Jawa timur atas  TTG (Teknologi Tepat Guna)  yang di ciptakannya, Tahun 2016  Susanto juga mendapat anugrah dari DISPORA Jatim yaitu sebagai pemenang terbaik satu Jawa timur , tahun 2018 TTG Light Trap Insect juga mendapat Anugrah dari Kementerian Desa Tertinggal saat acara lomba TTG tingkat Nasional di Bali.

Dihubungi MEDKOMINFO KTNA Nasional, Susanto memaparkan dengan sangat gamblang terkait cara kerja, penerapan, strategi bahkan sistem pertanian kedepan. Keunggulan Light Trap Insect ciptaannya adalah : Mengendalikan secara kontinyu dan efektif, efisiensi karena jangka panjang tanpa mengenal musim, selektif tidak semua musuh alami masuk dalam jebakkan, ramah lingkungan dalam arti tidak meninggalkan residu pada lahan pertanian serta Berkelanjutan. Walaupun dalam satu hamparan berbeda beda tanaman, berbeda beda jadwal tanam tetap bekerja dengan baik.

Baru baru ini Susanto juga mendapat Anugrah TERINOVATIV VI dari Gubernur Jawa timur Khofifah Indra Parawansa Bidang Ekonomi dengan judul Lean Faming komoditas bawang merah berbasis hamparan menuju managemen kawasan.

“Secara perhitungan analisa usaha pemakaian  Light Trap Insect bisa dikategori sangat Ekonomis bila di bandingkan dengan pengendalian hama menggunakan pestisada. Belum lagi bila petani menerapkan pola budidaya tumpang sari di lahan sawah. Pastinya akan memberi nilai tambah selain ekonomis petani juga bisa menerapkan pola integrasi”, kata Susanto.

Contoh  BAMALE (Budidaya bawang merah Integrasi ikan lele), inilah pola pola yg kedepannya perlu dikembangkan dan mendapat dukungan dari pemerintah untuk membangun desa Industri Pangan dalam rangka menghadapi resesi pangan dunia. (adv/admin)

Kontak person Susanto HP : 081359557899

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga