Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Mau Klaim Asuransi Tani Padi? Begini Langkah-langkahnya

ktnanasional – JAKARTA. Mendapatkan perlindungan asuransi untuk usaha tani padi kini semakin mudah dengan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dari PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo. Bagi petani yang ingin mengklaim asuransi mereka, langkah-langkahnya tidaklah rumit. Simak petunjuknya di bawah ini untuk memudahkan proses klaim Asuransi Tani Padi dan melindungi hasil panen Anda.

PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo terus mengampanyekan dukungan terhadap program pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan melalui inisiatif Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Program ini memberikan jaminan keamanan kepada para petani, memberikan perlindungan terhadap potensi kerugian akibat gagal panen.

Untuk memudahkan petani mengajukan klaim terkait asuransi ini, Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema, menjelaskan langkah-langkahnya dengan rinci:

1. Dalam proses klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), peserta didampingi oleh petugas Dinas Pertanian, seperti Petugas Penyuluh Lapangan atau Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman. Mereka menyampaikan laporan klaim kepada pihak Asuransi melalui Aplikasi Sistem Informasi Pertanian (SIAP).

2. Langkah berikutnya, peserta wajib melengkapi dokumen klaim sesuai dengan ketentuan Pedoman Bantuan Premi (PEDUM) AUTP dan mengunggahnya pada aplikasi SIAP.

3. Setelah dokumen klaim lengkap dan penyebab klaim terjamin polis, asuransi pelaksana akan melakukan analisis dan menyampaikan persetujuan klaim, yang juga termasuk pengisian discharge form.

Setelah melalui serangkaian langkah klaim, barulah Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) akan membayarkan klaim tersebut ke rekening kelompok tani.

AUTP, yang menjadi garda terdepan dalam memberikan perlindungan kepada petani, menanggulangi risiko gagal panen akibat banjir, kekeringan, penyakit, dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Peserta AUTP diharapkan aktif mengambil langkah-langkah pengendalian bersama petugas Dinas Pertanian setempat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut yang dapat disebabkan oleh OPT.

Untuk mendukung keberlanjutan program ini, premi yang diberikan kepada petani sebesar Rp 180 ribu, di mana 80 persennya merupakan bantuan dari pemerintah.

“Dengan demikian, setiap petani hanya perlu membayar Rp 36 ribu dengan maksimal harga pertanggungan Rp 6 juta per hektar,” ungkapnya.

Kriteria peserta AUTP melibatkan petani penggarap atau pemilik lahan dengan luas maksimal 2 hektar, dan lahan yang dapat tercakup melibatkan lahan irigasi atau lahan tadah hujan yang dekat dengan sumber air.

“Adapun kriteria ganti rugi mencakup umur padi yang sudah melewati 10 hari tanam, umur padi yang sudah melewati 30 hari (tabela/gogo rancah), intensitas kerusakan sekitar 75 persen, dan luas kerusakan sekitar 75 persen pada tiap petak alami,” tuturnya.

Dengan memberikan jaminan terhadap risiko kerusakan tanaman, AUTP memegang peran penting dalam mendukung program ketahanan pangan.

Perlindungan ini mencakup risiko kerusakan tanaman akibat banjir, kekeringan, serangan hama, penyakit tanaman, atau organisme penganggu tumbuhan (OPT).

Keberadaan AUTP memungkinkan petani untuk mengajukan klaim, mendapatkan ganti rugi, dan dengan demikian melanjutkan kegiatan berusaha tani mereka dengan lebih mantap. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga