Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

Mei, Lampung Diprediksi Mulai Memasuki Musim Kering, Pemerintah Diminta Antisipasi Sektor Pertanian

ktnanasional – LAMPUNG. Mitra Bentala mengajak pemerintah dan stekholder terkait untuk mengantisipasi kerentanan perubahan iklim di sektor pertanian yang ada di Provinsi Lampung.

Itu dilaksanakan pada lokakarya yang dilakukan Mitra Bentala dengan tema kerentanan dan resiko iklim sektor pertanian Lampung, pada Senin 19 Februari 2024 di Hotel Horison.

Sebab, Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional terutama untuk padi atau beras yang harus dilakukan antisipasi perubahan iklim guna menjaga produksinya.

Direktur Eksekutif Mitra Bentala, Rizani mengatakan, perubahan iklim ini menjadi salah satu kebijakan pemerintah pusat untuk menentukan arah pembangunan.

Ada empat sektor yang paling terdampak pada perubahan iklim, yaitu sektor pertanian, pesisir dan laut, air, serta sektor kesehatan.

“Khusus hari ini Mitra Bentala membicarakan tentang bagaimana sektor pertanian itu yang paling terdampak akibat perubahan iklim,” ujar Rizani, Senin 19 Februari 2024.

Kata Rizani diketahui bersama, bahwa pada 2023 sampai akhir tahun terjadi kemarau panjang atau fenomena el nino. Tentunya itu berpengaruh pada sistem pertanian.

“Misalnya di sawah, kalau tidak ada air maka masyarakat tidak bisa melakukan kegiatan budidaya pertaniannya,” ucapnya.

“Kemudian juga mungkin waktu tanam juga akan berubah, dan itu akan mempengaruhi dari sisi pendapatan merupakan ketersediaan kita,” sambutannya.

Untuk itu, dampak tersebut dibahas dan dicarikan solusi pada lokakarya yang dilakukan Mitra Bentala hari bersama stekholder terkait.

“Masyarakat akan bercerita tentang situasi yang mereka hadapi dan berharap sebenarnya pemerintah itu memperhatikan sektor-sektor terutama pertanian dan memberikan dukungan,” tuturnya.

Disinggung gambaran iklim untuk sektor pertanian di tahun 2024 ini, Rizani menilai tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di tahun 2023 lalu.

“Mungkin akan beberapa tempat misalnya yang tidak ada air itu akan sangat mempengaruhi sekali,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Rizani jika ditahun 2024 ini akan tetap terjadi kemarau. Naka pemerintah diminta melakukan antisipasi dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan mengeluarkan program dalam mengantisipasi kekerasan.

“Kita harapkan misalnya kalau wilayah itu tidak ada air, apakah (dibantu, red) dengan sumur bor. Atau mungkin ada potensi airnya ada tetapi mereka tidak bisa mengalirkan, tentu harus ada upaya-upaya itu yang kita maksud itu jadi bantuan itu sendiri,” terangnya.

Terkait daerah di Lampung yang parah jika terdampak kemarau, Rizani menyebut berdasarkan Bappenas, Lampung ini termasuk daerah super prioritas seperti Pesawaran dan Lampung Timur.

“Itu karena memang berdasarkan penelitian jadi salah satu wilayah-wilayah yang sangat rentan terhadap lingkungan di 2024,” terangnya.

Sementara, Sekretaris Bappeda Lampung A Lianurzen mengatakan isu perubahan iklim ini sudah menjadi isu global, isu regional, dan daerah.

Pada tahun 2023 dunia termasuk Lampung mengalami kekeringan atau fenomena el nino. Dari data di BMKG awalnya pergerakan musim hujan hanya 10 hari.

“Tapi kenyataannya tapi kita mengalami satu bulan lebih baru hujannya banyak,” ujar A Lianurzen.

Pihaknya pun telah melakukan pembahasan untuk tahun 2024 dan data dari BMKG, Lampung diperkirakan akan kembali kering atau kemarau pada Mei 2024.

“Tapi kita ada anomali tidak ada el nino. Mungkin terparahnya pada September. Anomali bukan seperti kita mengalami ada el nino. Artinya ada kering seperti kemarin lah. Tapi curah hujannya yang berbeda,” ungkapnya.

“Jadi bukan relatif sama (dengan 2023, red), tapi mulainya hampir sama namun kondisinya berbeda karena kita mengalami anomali,” sambutannya.

Sektor pertanian di Lampung, kata A Lianurzen tetapi didominasi di jalur Sekampung sistem yang melintasi tujuh kabupaten/kota dari Tanggamus sampai Lampung Timur.

Juga dengan memanfaatkan Bendungan Way Rarem di Kabupaten Lampung Utara.

Di aliran Sekampung sistem memili area persawahan sekitar 55 ribu hektar yang didominasi berada di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur.

“Untuk menjaga ketahanan pangan kita harus terus tanam. Karena Sekampung sistem ini mulai dari Tanggamus yang dominasi peta pertanian di Lampung,” ungkapnya.

Saat ini aliran Sekampung sistem sudah banyak dilakukan perbaikan. Begitu juga dengan Bendungan Margatiga jika sudah selesai.

“Kalau sudah selesai semua dari 55 ribu hektar lahan sawah ini kita punya target lahan sawah 72 sampai 73 hektar. Mudah-mudahan kita bisa lebih potensi untuk lahan pertanian di Lampung,” ungkapnya.

Ia juga mengklaim meskipun musim panen padi akan masuk pada Maret 2023, ketersediaan air untuk lahan sawah di Lampung aman.

“Air mudah-mudahan cukup. Pertanian tidak hanya soal air, tapi juga ketersediaan bibit, pupuk, pengolahan tanah, alsintan, dan lainnya. Jadi sinergi harus di lakukan,” ucapnya. (admin)

artikel ini telah tayang di radarlampung.disway.id

spot_img

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga