Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Melalui Digitalisasi Kelompok Tani, Rani Mayasari Mampu Kembangkan Usaha Kopi Hingga Mancanegara

ktnanasional – JAWA BARAT, BANDUNG. Pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan digitalisasi sebagai salah satu media atau alat yang bisa membantu menggerek perkembangan usaha mereka.

Sebagaimana diketahui, di era digital ini banyak sekali media daring yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha dalam mempromosikan dan memasarkan, baik marketplace ataupun aplikasi kiriman instan daring.

Salah satu pelaku usaha yang sudah mampu memanfaatkan digitalisasi dengan baik adalah Rani Mayasari, petani kopi di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Rani Mayasari bersama kelompok taninya berhasil mengembangkan usaha kopi hingga mampu mendistribusikannya ke berbagai kalangan, baik B to B maupun end-user.

Pasarnya pun terbilang sangat luas hingga menjangkau belahan dunia seperti pasar Amerika, Eropa dan Asia. Jangan sebut pasar nasional, karena produk kopi Rani yang bernama Java Halu Coffee sudah menjangkau sebagian besar pasar kopi nasional.

Proses fermentasi biji kopi sebelum menjadi kopi yang bisa diolah menjadi bubuk kopi.
Proses fermentasi biji kopi sebelum menjadi kopi yang bisa diolah menjadi bubuk kopi.
“Dari seluruh transaksi hampir 90 persen sudah menggunakan digital, baik (ritel) offline apalagi yang online, sudah pasti memanfaatkan digital payment,” ujar Rani kepada Tribunjabar.id dalam wawancaranya beberapa waktu lalu.
Perempuan 44 tahun ini menyebutkan bahwa kehadiran media digitatl sebagai alat promosi dan pembayaran sudah jelas sangat membantu membuat usahanya naik kelas ke level lebih tinggi. Salah satu alasannya, kata Rani, karena produknya bisa dikenal secara cepat dan transaksi bisa dilakukan dengan sangat mudah.

 

Tak heran karenanya jika setelah memanfaatkan media digital ini, produknya berkembang lebih pesat hingga pemasarannya bisa menjangkau global, tak hanya di lingkup lokal.

Hebatnya, Rani mengembangkan usaha kopinya dari mulai nol hingga produk jadi. Rani berama kelompok taninya menanm sendiri biji kopi berjenis Arabika di Gunung Halu, KBB, kemudian melakukan pengolahan dan peengemaan di dua tempat berbeda yakni di Mekarwangi dan Padalarang untuk kemudian didistribusikan ke konsumen, baik korporat maupun individu.

Proses seperti ini, menurut Rani, jauh lebih memangkas harga dan waktu distribusi dibanding harus melibatkan pihak ketiga.

Rani Mayasari sedang memasarkan produk Java Halu Coffee.
Rani Mayasari sedang memasarkan produk Java Halu Coffee secara luring. Rani Mayasari menjadi satu dari sedikit pengusaha kopi yang mampu menjaga dan mengolah proses produksi kopi dari hulu (kebun kopi di Kabupaten Bandung Barat) hingga ke hilir (konsumen dalam dan luar negeri) secara langsung dengan 90 persen memanfaatkan digitalisasi.
“Memang harus diakui kendala distribusi dari hulu ke hilir ini tidak mudah karena banyak sekali rintangan dan kesuitannya, apalagi medan kebun kopi di Gunung Halu bukanlah medan yang mudah dilalui,” katanya.

Untuk menjaga distribusi dari hulu ke hilir ini, Rani pun terus berupaya “mendigitalisasi” kelompok taninya. Sebab menurutnya, digitalisasi bagi pelaku usaha sudah merupakan sebuah keniscayaan yang dibutuhkan di era kekinian.

“Memang tidak mudah, butuh kesabaran, karena kami harus mengajari bagaimana menggunakan transaksi digital kepada para petani yang rata-rata perempuan dan sudah berumur. Namun alhamdulillah meski butuh waktu tapi rata-rata kini para petani di kelompok saya sudah paham dengan transaksi digital, QRIS, dan lain sebagainya, karena mereka harus paham bahwa sekarang ini KTP saja sudah digital (e-KTP), ngurus BPJS, pajak, bayar, apapun sudah digital,” kata Rani.

Rani pun mengaku dengan kelompok tani yang sudah paham dengan digitalisasi, maka kini proses produksi kopi pun akan lebih mudah dilakukan dari mulai produksi awal hingga akhir atau sampai ke tangan konsumen.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, mengatakan bahwa bagi pelaku usaha, digitalisasi ini mutlak diperlukan untuk memperluas jangkauan usahanya.

Dengan media digital, orang dari seluruh penjuru dunia bisa bertransaksi dengan mudah tanpa harus bertemu, tanpa harus datang ke tempat penjual, hingga pengiriman yang dipermudah melalui hadirnya logistik.

Terlebih lagi, kata Acu, bagi pelaku usaha yang membutuhkan jalur distribusi singkat dari hulu ke hilir. Sebab, melalui proses digital, maka proses distribusi hulu ke hilir bisa dilakukan secara langsung antara produsen dan konsumen tanpa melalui perantara atau agen.

“Tentunya akan lebih meminimalisir biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen dan bisa menghemat pengeluaran bagi konsumen,” katanya.

Namun demikian, Acuviarta menyebutkan bahwa pengguna digital pelaku usaha, khususnya UMKM di Tanah Air, masih relatif kecil yaitu baru mencapai 30 persen.

Literasi digital, menurut Acuviarta, menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan pemerintah dan pihak terkait dimana edukasi yang dilakukan tidak hanya menyasar produsen atau pelaku usaha, namun juga masyarakat itu sendiri sebagai konsumen.

“Karena itu saya sangat berharap pemerintah dan pihak terkait terus memberikan literasi kepada para pelaku usaha dan masyarakat tentang digital,” katanya.

Acu mengaku bahwa selama ini pihak Bank Indonesia yang memiliki kebijakan dan kewenangan dalam mengedukasi literasi digital, sudah cukup berhasil memberikan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai media, baik melalui perbankan, media sosial, hingga melalui media informasi resmi lainnya.

“Memang harus diakui kekurangan itu selalu ada, namun upaya yang sudah dilakukan (Bank Indonesia) saya kira sudah cukup berhasil dan memang butuh waktu (mendigitalisasi masyarakat dan pelaku usaha),” katanya.

Gubernur Bank Indonesia Perry
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (instagram @Bank_Indonesia)

Bank Indonesia Dorong Ekonomi Digital

Sementara itu, upaya mendorong ekonomi digital ini pun terus dilakukan oleh Bank Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan tiga peran BI untuk mendukung dan mempercepat digitalisasi keuangan dan ekonomi daerah. Pertama, BI melakukan digitalisasi di bidang pembayaran, antara lain melalui QRIS yang telah mencapai 37 juta pengguna yang sebagian besar merchantnya adalah UMKM.

“QRIS telah menyejahterakan rakyat dan semakin lengkap melalui fitur baru tarik tunai, transfer dan setor tunai (TUNTAS), serta QRIS telah tersambung dengan Kartu Kredit Indonesia (KKI),” ujar Perry Warjiyo dalam Rakornas P2DD beberapa waktu lalu.

Kedua, kata Perry, adalah perluasan layanan Kartu Kredit Indonesia, yang tidak terlepas dari peran pengaturan tata kelola dari Kemendagri. Untuk mendukungnya, BI terus melakukan mobilisasi dengan perbankan dan Penyedia Jasa Pembayaran.

Menurut Perry, KKI bukan hanya tanpa biaya penggunaan, tetapi memiliki bunga yang sangat terjangkau bagi merchant,

“Ketiga, dengan konsep satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, BI melakukan digitalisasi end to end yang mencakup KKI, QRIS dan fast payment yang akan tersambung dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), sehingga berbagai kanal pembayaran akan lebih cepat difasilitasi secara real time,” katanya.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga