Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Melindungi Warisan Ikan Batak: Perjuangan Konservasi di Danau Toba

ktnanasional.com –  SUMATERA UTARA, SAMOSIR. Di balik gemerlap air biru Danau Toba yang memukau, terdapat cerita yang tak kalah menarik: perjuangan melindungi warisan ikan Batak yang tak hanya menjadi bagian penting dari ekosistem danau ini, tetapi juga mengungkapkan keragaman hayati yang mengagumkan.

Sejak zaman yang tak terhitung, suku Batak telah menjalin ikatan yang erat dengan spesies ikan asli yang memperkaya perairan indah Danau Toba. Di antara gemerlap air dan pesona alam, ikan Batak (Neolissochilus thienemannie) muncul sebagai pemeran utama dalam ritual suci dan upacara adat, juga menggugah selera melalui sajian kuliner tradisional yang menggoyang lidah.

Namun, bayang-bayang kerusakan ekosistem dan intrusi tak diundang seperti nila dan mujair merayap perlahan, menantang dominasi sang ikan legendaris. Semakin terpinggirkan, dan semakin langka. Kini, dalam dorongan untuk mempertahankan pewarisannya, ikan Batak dilindungi dengan ketat oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021, menjadi sebuah tindakan nyata untuk melawan menghilangnya keberagaman.

“Sekarang, perluasan ikan non-asli ini mengakibatkan persaingan yang merugikan bagi ikan Batak,” ungkap dengan bijak Sekar Larashati, seorang ahli ilmu Limnologi dan Sumberdaya Air dari BRIN.

Menurut pandangannya, berkurangnya populasi ikan batak di kawasan indah Danau Toba bukanlah hal yang terjadi begitu saja. Ia mengidentifikasi beberapa faktor yang saling berperan, seperti menurunnya mutu air yang menjadi tempat hidup para ikan, tercemarnya perairan akibat masukan limbah pertanian yang semakin meresahkan, penangkapan ikan secara berlebihan yang menguras sumber daya, dan tak kalah pentingnya, penggunaan alat tangkap yang belum sepenuhnya ramah lingkungan.

Kisah yang mengemuka dari para nelayan di Bakkara, Humbang Hasundutan, seakan menjadi cerminan perubahan ini. Mereka dengan lugas mengakui bahwa ikan batak yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari daerah tangkapan mereka, kini semakin jarang dijumpai. Ironisnya, hanya ikan jenis nila serta jenis ikan kecil, yang asal-usulnya bukan dari perairan Danau Toba, yang masih berdiam di sana.

Pada tahun 2016, Tim Pusat Penelitian Limnologi dan Sumber Daya Air LIPI telah melakukan penelitian tentang keberadaan Ikan Batak di Sungai Bonan Dolok, Kabupaten Samosir, yang merupakan wilayah yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai Danau Toba.

Ketika melakukan penelitian tersebut, tim peneliti tidak berhasil menemukan jenis ikan N. thienemanni di lokasi tersebut. Menurut Sekar, anggota tim peneliti, orang-orang di sekitar area tersebut lebih mengenal ikan batak sebagai ikan jurung, yang secara sekilas memang memiliki kesamaan. Namun, jenis ikan batak dan genus ikan tor, yang sering disebut ikan jurung atau ikan dewa, memiliki perbedaan. Jenis tor lebih umum dijumpai di sungai-sungai di Sumatera.

Ikan batak, yang memiliki nama ilmiah N. thienemanni, memiliki ciri-ciri fisik berupa badan pipih berwarna perak yang memanjang, dengan 10 sisik di depan sirip punggung dan 26 sisik di sepanjang gurat sisi. Pada sisi moncong dan di bawah mata terdapat 10 baris pori-pori yang tidak teratur. Garis pada bagian belakang ikan ini hingga bibir bawah terputus di bagian tengah.

Ikan ini merupakan anggota famili Cyprinidae dan memiliki pola makan omnivora, serta hidup di sungai-sungai dengan aliran deras dan air yang jernih. Pada tahun 2020, IUCN Red List mengklasifikasikan Ikan N. thienemanni sebagai spesies yang terancam punah.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rachmad, Sihombing, dan Sabariyah pada tahun 2019, yang diterbitkan dalam jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan, ditemukan sejumlah 25 ekor ikan batak jantan dan 13 ekor betina dengan ukuran panjang berkisar antara 16 cm hingga 41,9 cm di tiga sungai yang berada di tiga kabupaten di Sumatera Utara. Temuan ini memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai populasi ikan batak di wilayah tersebut.

Lantas bagaimana upaya konservasinya?

Upaya Konservasi

Untuk menemukan lokasi yang cocok untuk budidaya ikan batak dan menjaga kesesuaian dengan habitat alaminya, penting memiliki aliran air yang masih alami, jernih, dan kaya oksigen.

Sekar Larashati mengusulkan lokasi di perairan Desa Bonan Dolok sebagai tempat yang potensial. Sebagai lulusan dari program doktor Denmark Technical University dan ahli dalam kelompok ikan tawar, ia merekomendasikan bahwa ikan ini sangat cocok dengan habitat sungai dan danau di wilayah pegunungan. Menurutnya, Desa Bonan Dolok memiliki potensi untuk dijadikan kawasan konservasi ikan batak.

Desa Bonan Dolok terletak di Kecamatan Sianjur Mulamula, Samosir, dan berada di tepi Danau Toba. Wilayah ini memiliki lanskap yang indah, dikelilingi oleh perbukitan, sawah-sawah tradisional, dan bahkan memiliki air terjun.

Menurut Sekar, ekosistem di wilayah ini masih terjaga dengan baik. Pohon-pohon tumbuh di sekitar sungai yang menjadi sumber makanan alami bagi ikan batak. Aliran air di daerah ini berkelanjutan sepanjang tahun, dan bagian hulu sungai masih berupa hutan alami.

Sekar percaya bahwa upaya konservasi habitat ikan batak tidak hanya akan melindungi spesies ikan itu sendiri, tetapi juga berdampak positif bagi biota lain yang hidup di sekitarnya, seperti keong dan cacing.

Namun, jika Desa Bonan Dolok dipilih sebagai kawasan konservasi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, perlu mengatasi masalah pembuangan limbah domestik dan industri, serta aktivitas penambangan yang dapat berdampak negatif pada ekosistem. Selain itu, kerjasama antara pemerintah dan masyarakat lokal juga menjadi kunci penting dalam menjaga kualitas ekosistem, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan hingga ke hilir, yaitu ke Danau Toba.

Sekar menekankan bahwa upaya konservasi harus didasarkan pada kajian dan penelitian yang mendalam. Dibutuhkan juga partisipasi aktif masyarakat sekitar, serta dukungan dan prioritas dari pemerintah setempat dalam mewujudkan program konservasi ini.

Bisakah dilakukan perlindungan dengan bentuk kearifan lokal?

Kearifan Lokal

Menurut Robert Sibarani, seorang Guru Besar Antropologi dari Universitas Sumatera Utara, kearifan lokal masyarakat setempat dapat menjadi solusi alternatif dalam upaya penyelamatan ikan batak.

“Dahulu, semua upacara adat melibatkan ikan, mulai dari tahapan kelahiran hingga kematian. Orang Batak menggunakan ikan batak sebagai sajian dalam berbagai pesta adat,” jelas Robert.

Dalam Horja Mangupaupa atau upacara perkawinan adat suku Batak Toba, keluarga calon pengantin perempuan memberikan ikan batak kepada calon pengantin pria. Sebaliknya, calon pengantin pria memberikan persembahan berupa daging kerbau.

Filosofinya adalah bahwa ikan batak menjadi simbol Boru Muli, yaitu pengantin perempuan (oroan), dan pemberian ikan batak kepada pria disebut sebagai Ulu ni Dekke Mulak.

Namun, seiring langkanya ikan batak, tradisi ini mulai ditinggalkan. Harga per ekor ikan batak yang mencapai jutaan rupiah telah mengakibatkan penggantian ikan batak dengan ikan mas, daging kerbau, atau babi dalam upacara adat. Perubahan ini telah terjadi selama 70-80 tahun terakhir.

Dalam konteks upacara adat, ikan batak biasanya disajikan dalam bentuk “arsik,” yaitu sajian ikan dengan bumbu kuning dan campuran rempah-rempah.

Di Desa Bonan Dolok, Samosir, terdapat mitos yang diyakini oleh penduduk setempat bahwa ikan batak hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Mereka percaya bahwa melihat ikan ini akan membawa rezeki atau keberuntungan.

Penangkapan ikan batak juga diatur dengan ketat berdasarkan kepercayaan. Ikan hanya boleh ditangkap untuk tujuan pengobatan tertentu dan melalui doa serta upacara khusus di lokasi di mana ikan batak ditemukan.

“Jika ikan yang berada di dekat pohon beringin ditangkap sembarangan, dan kemudian dimasak selama tujuh hari tujuh malam, ikan tersebut bahkan tidak akan matang. Mitos ini mengandung ancaman bagi mereka yang melanggar,” jelas Robert.

Robert berpendapat bahwa mitos dan keyakinan semacam ini dapat menjadi alternatif yang efektif dalam pelestarian ikan batak di habitat alaminya dan dalam mengurangi penangkapan berlebihan. Ia juga menyoroti pentingnya upaya budidaya ikan batak agar generasi mendatang tetap mengenal dan menghargai ikan batak. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga