Selasa, 28 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Membangun Kemandirian dan Keberlanjutan dengan Pertanian Organik

ktnanasional.com – TASIKMALAYA. Melakukan budi daya pertanian secara organik sama saja dengan menjaga keberlanjutan. Amat Rohimat terlihat tengah memeriksa proses penyemaian benih padi di atas lahan sawah miliknya yang berada di ketinggian 700 mdpl di Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (17/10/2023). Sudah sekitar delapan hari proses penyemaian itu dilakukan. Dibutuhkan waktu sekitar tujuh hari lagi sebelum benih padi itu dapat ditanam.

Benih yang sedang disemai laki-laki berusia 54 tahun itu bukanlah benih padi biasa. Itu merupakan benih padi organik, tanaman yang sudah bertahun-tahun ditanam di sawah seluas sekitar 300 bata (satu bata sama dengan 14 meter persegi) miliknya.

Sudah sejak 2001, Amat bersama sejumlah petani Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Agro Mandiri di Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, menerapkan budi daya pertanian organik di lahan sawah mereka. Saat ini, terdapat sekitar 20 hektare lahan sawah dari para anggota Gapoktan Agro Mandiri sudah tersertifikasi menerapkan pertanian organik dari lembaga sertifikasi organik Inofice.

photoAmat mengisahkan, para petani di Desa Sundakerta, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, melakukan budi daya padi organik bermula dari coba-coba. Ketika itu, terdapat seorang aktivis dari luar negeri yang memberi tahu proses pembuatan pupuk organik menggunakan urine kelinci yang dicampur dengan air perasan tebu.

“Ketika itu memang awalnya terasa riweh. Apalagi kami tidak punya bahan untuk membuatnya,” kata dia kepada Republika.

Ia menilai, budi daya padi organik membutuhkan kerja keras yang lebih. Sementara para petani sudah terbiasa menggunakan pupuk anorganik. Alhasil, ketika itu tak banyak petani di wilayahnya yang serta-merta ikut membudidayakan padi organik. Namun, Amat dan beberapa petani lainnya tetap melanjutkan proses budi daya pertanian organik karena mereka sadar, penggunaan pupuk kimia memiliki dampak tersendiri terhadap tanah.

Secara perlahan, proses budi daya padi organik yang diterapkan sejumlah petani Gapoktan Agro Mandiri itu mulai membuahkan hasil. Produktivitas sawah meningkat. Hasil panen juga memiiki kualitas yang lebih baik dibandingkan hasil budi daya padi menggunakan pupuk anorganik.

Hingga akhinya, pada 2007, pemerintah memulai program SRI (System of Rice Intensification). Salah satu yang diteterapkan dalam program itu adalah penggunaan pupuk organik dalam proses budi daya pertanian. Gapoktan Agro Mandiri pun menjadi percontohan dalam penerapan program itu.

Ketua Gapoktan Agro Mandiri Adi Sulaeman (63 tahun) mengatakan, banyak dampak positif dari penerapan program SRI yang dilaksanakan oleh pemerintah. Ketika itu, banyak petani yang beralih menanam padi organik. Bahkan, hasil panen dari Gapoktan Agro Mandiri sempat diekspor ke beberapa negara.

“Lama-kelamaan booming padi organik. Banyak kelompok yang ikut. Ada banyak bantuan pupuk organik,” kata Adi.

Namun, proses ekspor itu tak berjalan secara berkelanjutan. Hasil panen pun banyak yang tidak terserap sehingga harga jual hasil panen juga tak sesuai harapan petani. Akhirnya, banyak petani memilih kembali melakukan budi daya padi secara konvensional, menggunakan pupuk kimia.

“Salah satu faktornya, para petani dijanjikan harga jual yang tinggi. Namun, kenyataan waktu panen saat itu, tidak ada pasar. Jadinya, hasil panen dijual dengan harga yang sama dengan beras konvensional,” ujar Adi.

Beralihnya kembali sejumlah petani ke model pertanian konvensional tak membuat Amat dan rekan-rekannya berhenti. Mereka tetap konsisten untuk menanam padi organik. Alasannya sederhana, ingin keluarga mengonsumsi beras yang sehat, yang bebas dari unsur kimia.

“Jadi, memang fokusnya untuk konsumsi sendiri. Setelah ada lebih atau ada kebutuhan, baru dijual,” kata Entang Sethia, salah satu petani yang tergabung dalam Gapoktan Agro Mandiri.

photoKonsistensi yang dilakukan para petani di kaki Gunung Galunggung itu pun mendapat pehatian sejumlah pihak. Pada 2018, Gapoktan Agro Mandiri mendapatkan bantuan berupa pendampingan dari Kantor Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya untuk melakukan budi daya pertanian organik.

Selain diberikan pendampingan, Entang dan kawan-kawan juga diberikan bantuan berupa rumah kompos untuk membuat pupuk organik beserta peralatan berteknologi MA-11. Dengan bantuan itu, hasil panen padi Gapoktan Agro Mandiri mengalami peningkatan, dari rata-rata 5 ton per hektare menjadi 8-10 ton per hektare.

Menurut Entang, BI Tasikmalaya juga membantu proses pemasaran beras organik dari Gapoktan Agro Mandiri. Dalam beberapa kegiatan pameran, BI Tasikmalaya hampir pasti mengikutsertakan beras organik dengan merek Ngeunah untuk ditampilkan.

Entang mengungkapkan, saat ini beras organik Ngeunah produksi Gapoktan Agro Mandiri yang dihargai Rp 24 ribu per kilogramnya itu telah memiliki konsumen tetap. “Selalu ada yang pesan. Namun, paling tidak dalam sebulan itu bisa terjual 20 kilogram hingga 100 kilogram,” ujar dia.

Pertanian organik dari Pamarican     

Gapoktan Agro Mandiri bukan satu-satunya kelompok petani yang konsisten menerapkan budi daya pertanian organik. Di Dusun Kubangsari, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, terdapat sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Petani (Poktan) Parikesit yang juga konsisten menanam padi organik.

Perwakilan Poktan Parikesit, Sohidin Heryanto, mengatakan terdapat 24 hektare dari total sekitar 60 hektare lahan sawah petani yang tergabung di kelompok mereka telah mendapatkan sertifikasi menerapkan budi daya pertanian organik oleh Inofice. Lahan sawah untuk menanam padi organik itu memang diakuinya masih relatif kecil.

Namun, dari lahan itu, para petani di Poktan Parikesit dapat memanen dengan produksi 8-10 ton per haktare, jauh di atas rata-rata hasil panen dari pertanian konvensional. “Terakhir panen bulan lalu, Agustus, per hektare 8-10 ton,” kata Sohidin kepada Republika, Kamis (19/10/2023).

Sejumlah petani di Dusun Kubangsari sudah lama beralih melakukan budi daya padi organik, setidaknya sejak 2006 ketika terdapat program SRI dari pemerintah. Terdapat setidaknya tiga orang petani yang konsisten melakukan sistem pertanian organik.

Hingga akhinya, pada 2013 para petani yang tergabung dalam Poktan Parikesit kembali mendapatkan penyuluhan terkait budi daya padi organik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis. Sohidin menjadi salah satu petani yang tertarik ikut hijrah menerapkan sistem pertanian organik.

Namun, bertahun-tahun berselang, Sohidin hanya menggarap padi organik sekenanya. Barulah pada 2019, ia memilih fokus untuk melakukan budi daya padi organik. Sejumlah ilmu mengenai padi organik dipelajarinya, hingga pada 2021 Sohidin bertemu dengan Prof Ahmad Syawaludin, yang memiliki fokus dalam pertanian organik. “Terbuka lagi wawasan kami,” ujar Sohidin.

photoDari sosok itulah, para petani di Dusun Kubangsari mempelajari formula pembuatan suplemen atau jamu tanaman organik, yang sepenuhnya menggunakan dari bahan di sekitar lingkungan mereka. Alhasil, suplemen untuk menetralisasi tanah, memperbanyak anakan, hingga memperbanyak bulir padi, Poktan Parikesit sudah memiliki formulanya, yang tentunya berbahan organik.

Pengetahuan yang didapatkan oleh para petani di Poktan Parikesit makin bertambah, ketika Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya memberikan pendampingan melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) pada 2022. Untuk membudidayakan padi organik, Poktan Parikesit mendapatkan bantuan rumah produksi pupuk cair organik, mesin pencacah, dan pendampingan budi daya mulai semai, aplikasi jamu, pemeliharaan, hingga panen. Hasilnya, panen demplot dari lahan sawah organik di pada awal 2023 memiliki produktivitas 10,2 ton per hektare.

“Itu kan luar biasa banget. Rata-rata sawah konvensional maksimal 5-6 ton per hektare. Berarti kan dari situ, sudah jelas ada peningkatan produksi. Ditambah ada harga yang di atas pasaran. Itu menjadi peningkatan penghasilan yang cukup signifikan,” ujar Sohidin.

Pengetahuan petani semakin bertambah ketika BI Tasikmalaya memberikan pendampingan.

Hasil panen padi itu mayoritas digunakan untuk menutupi kebutuhan makan para petani. Sisanya sekitar 30-50 persen dijual ke pasaran, seperti dijual ke rumah makan atau melalui koperasi dinas pertanian atau toserba. Namun, pasar beras organik dengan merek Galuh produksi Poktan Parikesit juga sudah sampai ke luar Pulau Jawa, meski pemesanan baru secara personal.

“Jadi, fokus pertama sekarang itu untuk konsumsi sendiri dulu. Jangan sampai yang bagus dikasih ke orang, kita makan yang biasa. Penjualan dengan harga tinggi itu bonus,” kata dia.

Kendati demikian, bukan berarti Poktan Parikesit tak melakukan inovasi. Selain menjual produk dalam bentuk beras organik, Poktan Parikesit juga memiliki produk turunan berupa nasi liwet instan. Dalam beberapa pameran yang diikuti, nasi liwet instan itu selalu dibawa untuk dijajakan.

Selain itu, Poktan Parikesit juga telah memasarkan jamu organik sebagai penyubur tanaman. Jamu itu biasanya disuplai ke program BI Tasikmalaya, seperti program Sejuta Tanaman Pangan Cegah Inflasi (Setaman Cinta) di Kota Tasikmalaya. “Jadi, dari BI dihubungkan dengan binaan mereka yang lain,” kata dia.

Keberlanjutan dan kemandirian
Sohidin menjelaskan, menanam padi secara organik yang dilakukan oleh kelompoknya bukan semata untuk mengejar keuntungan. Lebih dari itu, melakukan budi daya pertanian secara organik sama saja dengan menjaga keberlanjutan.

Menurut dia, disadari atau tidak, petani saat ini sudah menjelma menjadi pembunuh berdarah dingin. Saat tikus berdatangan ke area sawah, misalnya, para petani akan berpikir untuk membunuhnya. Padahal, alam memiliki ekosistemnya sendiri. Ketika ekosistem tidak berjalan, kerusakan adalah keniscayaan.

“Makanya, kami tidak berpikir untuk membunuh. Berpikirnya bagaimana tikus tidak betah dengan pestisida nabati,” kata dia.

Ketika ekosistem tidak berjalan, kerusakan adalah keniscayaan

Sohidin menilai, penggunaan pupuk anorganik yang sudah dilakukan selama puluhan tahun juga tak bisa dipungkiri membuat kualitas tanah menurun. Salah satu upaya untuk mengembalikan kualitas tanah adalah dengan tak lagi menggunakan pupuk berbahan kimia.

“Dengan perlakuan itu, alhamdulillah hasilnya baik. Buktinya saat demplot, hasil panen bisa mencapai 10 ton per hektare. Diakui atau tidak, itu buktinya,” kata dia.

photoTak hanya itu, melepas ketergantungan dari pupuk anorganik juga dinilai membuat petani lebih mandiri. Kenaikan harga pupuk yang merupakan dampak konflik internasional, misalnya, tak dirasakan oleh para petani yang menerapkan sistem budi daya pertanian organik. Pasalnya, para petani dapat memproduksi sendiri kebutuhan pupuknya.

“Ketika kemandirian itu bisa dibangun, enjoy. Kartu Tani saya juga sekarang tidak terpakai,” kata dia.

Hal yang sama juga diungkapkan Entang, petani yang memiliki lahan sawah organik sekitar 0,8 hektare di Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Proses budi daya padi organik yang dilakukan Gapoktan Agro Mandiri saat ini dinilai tak semata mengejar target untuk dijual.

Menurut Entang, sekitar 20 petani yang masih konsisten menerapkan budi daya padi organik di Kecamatan Sukahening memiliki tujuan sederhana, yaitu ingin mendapatkan makanan yang lebih sehat. Pasalnya, sekitar 60 persen dari hasil panen padi mereka akan disimpan untuk menutupi kebutuhan para petani. Baru sisa panen itu akan dijual ke pasaran.

Selain itu, para petani juga sadar bahwa dampak dari penggunaan pupuk anorganik membuat tanah makin rusak. Sebab, penurunan kondisi tanah akibat penggunaan pupuk organik merupakan ancaman yang nyata.

“Tujuan utamanya sekarang jadi hanya untuk konsumsi sendiri, juga buat mengembalikan kondisi tanah,” kata dia.

Dukungan
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat (Jabar) Yanti Hidyatun Zakiah, mengatakan, budi daya pertanian organik merupakan salah satu program strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar. Pengembangan pertanian organik di Jabar setidaknya telah dilakukan sejak 2005. Namun, ia mengakui saat ini luasan lahan pertanian organik di Jabar masih masih relatif kecil.

Terdapat sekitar 3.800 hektare lahan sawah di Jabar yang sudah menerapkan pertanian organik

Yanti menyebutkan, berdasarkan data terakhir, saat ini terdapat sekitar 3.800 hektare lahan sawah di Jabar yang sudah diterapkan dengan sistem budi daya pertanian organik. Luasan itu memiliki potensi pengembangan mencapai 7.300 hektare. Kendati demikian, angka itu masih sangat sedikit apabila dibandingkan dengan luas baku sawah di Jabar, yang totalnya sekitar 928 ribu hektare.

“Masih perlu upaya edukasi, kolaborasi, dan promosi. Soalnya pertanian organik itu tidak bisa dilepas begitu saja. Peran pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dalam perubahan mindset,” ujar dia saat mendampingi Inofice melakukan inspeksi ke lahan sawah organik Poktan Ciawitali di Desa Mangkurakyat, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, belum lama ini.

Yanti menjelaskan, saat ini belum banyak petani yang tersosialisasi dengan baik mengenai pertanian organik, sehingga belum banyak petani yang rela hijrah untuk menanam padi secara organik. Padahal, ia menilai, banyak keuntungan dari sistem pertanian organik. Salah satunya, untuk memangkas biaya produksi.

Pemangkasan biaya produksi terjadi lantaran pupuk, pestisida, dan input lain yang dipakai, adalah bahan organik, yang notabene bisa dibuat sendiri oleh kelompok petani. “Jadi, tidak usah membeli ke luar,” kata dia.

Selain itu, ia menambahkan, pertanian organik juga dapat membuat sawah menjadi lebih sehat. Di sisi lain, nilai jual beras organik juga jauh lebih tinggi dibandingkan beras konvensional. Saat ini, harga beras organik di pasaran berkisar Rp 20 ribu-25 ribu per kilogram atau hampir dua kali lipat harga beras konvensional.

“Pasar juga sudah terbuka luas. Ekspor ke luar negeri juga banyak. Tinggal keberlanjutan produknya, komitmen dari petani mempertahankan supaya sustainable ketersediaan produk tetap ada. Karena jaminan pasar itu butuh keberlanjutan produk,” ujar Yanti.

Karena itu, Pemprov Jabar disebut akan terus mendukung pengembangan budi daya pertanian organik. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan pendampingan, promosi, dan bantuan permodalan untuk kelompok petani melakukan sertifikasi.

Pengembangan padi organik memiliki potensi besar dan bisa mencegah kerusakan tanah.

ASWIN KOSOTALI, Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya

“Kita tahun ini membantu sekitar enam kelompok untuk sertifikasi organik. Enam kelompok itu di antaranya tersebar di Sumedang, Ciamis, Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, dan Garut. Itu merupakan bantuan bagi para pelaku pertanian organik, karena biaya untuk sertifikasi cukup mahal,” kata dia.

Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya Aswin Kosotali mengatakan, perlu dukungan penuh seluruh pihak dalam upaya pengembangan padi organik. Dukungan itu dinilai diperlukan, terutama dalam menjamin keberlangsungan pengembangan padi organik.

“Pengembangan padi organik memiliki potensi besar ke depan dalam upaya mengatasi kelangkaan pupuk kimia, yang juga memiliki dampak terhadap kerusakan unsur tanah dalam jangka waktu panjang,” ujar dia. (admin)

artikel ini telah tayang di republika.com

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga